Jangan Coba - Coba Copast!!! Hargai hasil karya orang lain.. :-)

Protected by Copyscape Duplicate Content Check

Senin, 07 Oktober 2019

Wahah (ketika gersang berteman dengan kerbau jantan)


Sepertinya memang tidak ada hal yang lebih menyebalkan dari bangun pagi. Saat ponsel menyuarakan nada paling mengganggu sedunia. Hewan piaraan membuat keributan di mana-mana. Teriakan Mama mengingatkan sekian kegiatan. Aku yakin, untuk beberapa orang lain bangun pagi sama artinya dengan punya urusan tentang brutalnya para pengantri kamar mandi, air dingin, atau sarapan sepanas hati pasca diselingkuhi. Tapi bisa apa, hari tetap berganti tak peduli seenggan apa orang menjalaninya.
Dalam kasusku, mendengar suara alarm diterjemahkan otak sebagai tanda sesuatu harus dibuka. Lalu semacam film diputar dengan sangat cepat di sana. Ingatan-ingatan mengganggu. Seperti cipratan air liur Mr. Santoso saat berkhotbah soal skripsi, kadang juga wajah legam ketua organisasi mahasiswa yang kuyup keringat saat orasi. Atau riuhnya sorakan selusin orang di kantin saat aku datang. Percayalah, itu bukan sambutan. Alih-alih menyambut, mereka merayakan. Setidaknya ada satu lagi selain mereka yang sedemikian bodoh dan terlambat lebih dari lima belas menit di mata kuliah Prof. Radjiman.
Kupikir akan menyenangkan jika lelap barang sepuluh menit lagi setelah mematikan alarm. Aku menggeliat sebebasnya sebagai ratu ranjang. Kemudian tanganku mendarat pada permukaan aneh. Rambut-rambut kecil nyaris tajam. Tanganku bergerak sedikit, mendapati sesuatu yang basah. Terkejut, aku melompat dari ranjang dengan tendangan hebat sebagai awalnya.
“Astaga, Papa!” Kataku meninggikan suara. Tentu tidak dijawab, Papa sedang sibuk mengumpulkan puing kesadaran. Duduk tanpa nyawa, sembarang menendang selimut.
“Mama di mana?” Tanyanya tanpa melihat ke arahku.
“Mana kutahu... Ada apa dengan kamar Papa Mama?”
“Tamu. Mereka tidak bisa keluar dari hotel dan berjalan ke rumah kita kalau matahari sudah naik. Tidak boleh.”
Terserah, aku tidak paham. Kupilih mandi sebagai pengalih kekesalan. Sambil membayangkan sarapan buatan koki terbaik di muka bumi. Membayangkannya saja sudah memperbaiki suasana hati. Mudah. Hanya, tak sulit untuk menjadi buruk lagi. Ini terjadi sepersekian detik setelah aku keluar dari kamar dan turun.
Lantai satu ramai sekali. Orang-orang bersikap seperti di rumah sendiri. Memerintah pekerja dengan sangat tidak baik. Lainnya menggerombol di beberapa titik. Entah keras atau tidak, yang jelas gabungan suara di situ sungguh memusingkan. Belum sempat aku memikirkan sesuatu, seorang wanita asing melaluiku.
“Hm.. ini rupanya si anak pungut.”
Perkataannya menarik perhatian beberapa orang, lantas membuatku jadi pusat perhatian. Aku masih melongo tak mengerti dengan apa yang sedang kuhadapi.
“Sudah besar, ya. Umurnya akan membuat orang sulit percaya dia anak Prof. Herman.” Kata seorang lagi. Wanita muda dan cantik dengan gaun pendeknya. Dia sedang sarapan bersama beberapa orang. Di meja makan kami.
“Kasihan ya Dokter Mia. Orang awam akan mengira anak ini buah pekerjaan buruknya atau suami.” Kata seorang lagi, wanita tua. Sangat jelek dan tampak semakin jelek karena terlalu kentaranya si niat tak mau tua. Lihat saja, aplikasi pensil alisnya bukan main.
“Jangan bercanda. Tidak akan ada orang yang mengira sekonyol itu. Sekali lihat saja, orang tahu ini bukan anak kandung.” Seorang pria botak di sisi kanan meja menambahi.
Aku masih di situ. Di bawah tangga. Otakku bekerja dan memutuskan lebih cepat. Pertama, berjalan dulu ke luar. Tidak usah mengubah apapun. Rambut diikat sembarang. Sandang ransel di satu bahu. Bukan masalah.
Hampir berhasil, langkahku terhambat. Mama mengejar, membuatku menoleh. Fenomena mengejutkan yang tertangkap mata ini lebih berhasil menguasai perhatianku dibanding dengan kalimat panjang Mama.
Adalah meja ruang tengah kami. Penuh dengan kertas-kertas, satu dua judulnya terbaca dari tempatku berdiri. Papa duduk rapi, membaca sebendel dokumen. Orang-orang duduk mengelilingi meja dan melakukan hal serupa. Raut wajah mereka sangat serius.
Mereka adalah tokoh kenamaan. Belakangan muncul setidaknya sekali di setiap stasiun televisi setiap hari. Mengumbar omong kosong yang kutentang mati-matian bersama ratusan ribu orang lain di jalan ibu kota. Siapa kira mereka ada di sini. Kompak menoleh ke arahku sejak sedetik lalu.
“Ini yang namanya Danika? Cantiknya. Pak Herman, saya lihat genduk1 di barisan terdepan kemarin. Sangat keren.” Kata seorang tonggos berkacamata sambil membetulkan posisi pecinya.
Papa menundukkan kepala sambil tersenyum. Si muka lonjong dan perut besar, salah satu pimpinan rombongan ini mengamatiku dua detik dan tersenyum ganjil. Sudut kecil di satu ujung bibir, cukup mengantarkan pesan penghinaan.
“Bagus, anak muda memang wajib kental ideologinya. Baik kalau artinya murni. Kurang baik kalau akar ilmunya belum banyak. Kalau sudah, tentu akan sopan pada orang lebih tua, bukan sebaliknya seperti tempo hari, atau mendelik2 pada ayah angkatnya.”
Begitu kalimatnya selesai, seseorang lebih muda menyikunya pelan. Pria dengan wibawa, sang alpha3. Memandangku dengan tatapan teduh, aku tidak tahu itu bagian dari drama atau sungguhan.
“Mau berangkat kuliah, cah ayu?” Tanyanya sambil tersenyum.
“I..iya. Iya, pak.” Jawabku gagap sambil menundukkan kepala sebentar. Ayolah, Danika. Mari berperilaku baik demi Papa.
“Sudah diparingi4 uang saku? Pergi ke kampus menyetir sendiri atau dengan sopir?”
“Sudah. Sendiri. Eh, maksud saya menyetir sendiri, pak.”
“Baik, hati-hati. Rajin belajar, ya.”
Sekali lagi aku menunduk, lalu berbalik dan lanjut berjalan ke luar. Mama masih mengikutiku sambil berpesan ini itu.
“Cantik dan sopan, Pak Herman. Kurang beruntungnya, saya kehabisan joko5. Kalau bapak mau, saya bisa bantu. Bapak ngendika6 saja, ngersakne7 sawung8 seperti apa.”
Kepalaku masih sibuk, mataku sudah menangkap gambar sulit lagi. Di teras kami ada lima atau enam pemuda dengan penampilan tidak bercanda. Sepuluh hektar tanah mungkin belum sebanding harga beli embel-embel dari kepala hingga kaki.
Reaksi mereka melihatku sebetulnya tidak mengejutkan, mengingat rupaku memang persis kain keset. Ada yang memandangiku lalu membuang muka. Tak peduli. Bagus karena tidak memberiku alasan berhenti lagi. Pintu mobil sudah kubuka dan kulempar tasku ke dalam.
“Buru-buru, mau kemana? Mencari ayah ibu kandungmu di tengah demonstran?”
“Tidak, bukan. Selama tinggal di sini, dia mungkin tidak diizinkan makan sembarang. Dia ke jalan karena rindu kehidupan lama. Makanan dalam gerobak kotor. Hahaha…”
“Sebaiknya cari jalan sepi. Jalan kota jadi atau tidak seperti kemarin, siapa yang tahu. Kasihan mobil itu kalau sampai diamuk masa. Sebaiknya tidak lupa, itu hanya pemberian orang lain. Kamu bukan anak kandung yang akan sah saja meski membuat rumah ini jadi abu.”
Orang terakhir membuatku batal masuk ke balik kemudi. Bukan karena kalimatnya, sungguh. Tak ada yang salah dengan kalimat itu. Suaranya. Aku tahu suara itu. Benar saja, sedetik setelah menoleh mulutku terbuka tanpa sadar. Terkejut. Sion, aktivis yang cukup populer. Kampusnya tak jauh dari kampusku. Temanku sejak SMA. Dia masuk ke rumah kami diikuti muda-muda bodoh tadi. Tunggu, dia masuk ke sana?
Terserah. Kupakai mobil ini untuk lari dengan cepat. Sepanjang jalan ke kampus kepalaku penuh dengan banyak sekali kata, tapi tak satupun keluar. Hampir terlalu jauh melamun, dering ponsel mengembalikan pikiranku ke kemudi. Si kribo Ilham teriak, minta ditunggu. Mengajak masuk kelas bersama. Mata kuliah malaikat maut, Prof. Radjiman.
“Aku bolos hari ini.” Jawabku singkat dan memutus sambungan saat dia masih teriak-teriak di tengah suara amat berisik. Pelawak itu pasti sedang ada di atas vespa mahal ayahnya.
Kuputar kemudi tanpa melirik kaca spion. Menginjak gas sedalam yang aku bisa. Berhenti di suatu kampung. Melanjutkan dengan jalan kaki, selesai di ladang gersang. Duduk beralas salah satu batu batas antar lahan. Diam dalam waktu lama. Mengorek tanah dengan kerikil atau mengamati sekeliling atau mencabut rumput dengan asal.
Sekitarku mulai tak seterik tadi. Kulihat jam di ponsel, pukul tiga sore. Para petani berjalan pulang. Beberapa yang mengenaliku, menyapa dengan tidak biasa. Memeluk dan banyak sekali bertanya. Aku hanya menjawab singkat –ya atau tidak atau diam– untuk semuanya. Beruntungnya, mereka tak menuntut jawab. Nampak juga seorang juragan melepas ternak di lahan yang masih berumput. Kemudian beberapa anak kecil mengganggu kerbau makan.
“Ya. Aku sudah melakukannya dengan baik. Anaknya Bapak akan selalu sehebat itu, ya kan Pak?” Tanyaku entah pada siapa.
Tiba-tiba sekitarku menjadi ribut. Orang-orang berteriak tak keruan. Melihat ke arah mereka menunjuk, seketika jantungku serasa melepaskan pegangannya. Yang benar saja, anak-anak tadi berlari ke arahku. Dengan kerbau jantan mengejar tak kalah semangat.
Sialan, aku juga jadi ikut lari. Hanya arahku payah. Saat anak-anak tadi menyebar, aku mengikuti satu yang berbadan tambun. Di antara semua arah dengan setidaknya dua anak lari, banteng itu memilih mengejar kami. Aku dan si tambun. Di belakang kerbau itu sekelompok petani mengejar sambil membawa tambang, berseru menyuruh kami terus berlari. Berjanji akan terus berusaha. Napasku sudah sulit, si tambun apa lagi. Entah sejak kapan kami saling berpegang erat. Persis seperti hendak kawin lari. Bukan dikejar mertua, tapi kerbau. Sama sekali tidak lucu.
Sepertinya mereka tidak akan berhasil. Kejar-mengejar hanya akan selesai jika kami memanjat sesuatu, tapi ladang ini hanya punya pohon ketela sebagai pemegang juara tinggi. Berlari sampai ke kampung? Jangan bercanda.
Kemudian kesialanku tergenapi. Aku tersandung. Jatuh sekerasnya menghantam tanah kering. Lalu gelap.
Saat aku kembali bertemu cahaya, tempatnya sudah bukan ladang. Kursi belakang sebuah mobil mewah. Bukan milikku. Sopir berjas. Badanku terlentang. Spontan duduk, membuatku menyadari keadaan dengan cepat. Kepalaku bocor, darahnya masih menetes ke celana yang sudah sedemikian lusuh dan sobek di sana sini. Lengan kanan sangat sakit, aku tidak tahu patah atau bukan. Satu sepatu tergeletak di atas ransel dengan sembarang. Ranselnya berlubang. Lalu pandanganku kabur, semua yang kulihat seperti perlahan berjalan ke kiri.
Seseorang duduk mendekat, meraih, membuatku bersandar padanya. Terus menyebut namaku tapi tidak kujawab. Tangannya berusaha menyentuh kepalaku, aku melawan. Mencoba duduk tegak lagi dan mundur sedikit. Berusaha mengenali. Tapi tak sekuat itu. Akhirnya tangan orang itu menyangga kepalaku lalu mendekatkan wajahnya. Paham maksudku.
“Ini aku. Jangan bergerak. Sebentar lagi kita sampai di Rumah Sakit.”
Di tengah rasa sakit sekujur tubuh, mataku masih hebat soal membelalak saat otakku mengeluarkan keputusan untuk terkejut. Pemandangan ini adalah pemenang utama dari semua keterkejutan hari ini. Ah, ilusi bodoh macam apa, batinku. Sulit sekali percaya. Mungkin kepalaku rusak dan baru saja menerjemahkan gambar dengan keliru.
“Kerbau..” Racauku.
“Mati.”
“Si gendut..
“Mereka membawanya. Aku tidak tahu kemana.”
“Mobilku..”
“Demi Tuhan, Danika!” Bentaknya.
Sedetik kemudian dia memeluk kepalaku dengan satu lengan sementara telapaknya membungkam luka robek. Tangan yang lain mendekap dan telapaknya menutup bagian paling sakit di punggung bawahku. Juga terus mengajakku bicara. Saat pandanganku mengabur bersama dayaku makin hilang, suaranya terdengar semakin buruk. Orang ini menangis? Aku bahkan masih ragu dia siapa.
“Tolong jangan tidur meskipun sangat mengantuk. Kumohon, Danika.”
Aku masih dengar, tapi semua keburukan ini membasmi habis tenagaku.
“Danika..”
“Dan… Oh Tuhan!”
Telapak yang di kepala didekatkannya ke hidungku, sedetik suara isakannya terdengar semakin sering. Situasiku sungguh tak baik, membuka mata terasa sedemikian berat. Hampir lupa usahaku memastikan siapa orang ini.
“Jangan maafkan aku saat kamu sudah sembuh nanti, ingat itu.”
Begitu kalimat itu selesai, entah kenapa malah aku tersedak. Dengan seribu kali lipat kesakitan. Aku tidak tahu basah-basah apa yang keluar dari mulutku, tapi mendengar reaksinya, pasti darah. Dia meraung-raung aneh sekali. Menangis seperti bayi sambil mendekap erat dan menutupi luka parah si sekarat dengan telapaknya yang lebar.
“Tidak… Tuhan, tolong. Jangan… Danika, aku tahu kamu dengar. Jangan sampai tidur. Kamu tidak boleh tidur, Danika.”
“Dan? Dan? Oh, Tuhan.. Dan?”
“Kenapa jalannya lambat sekali, bangsat??” Bentaknya pada sopir. Aku tidak begitu dengar lagi jawaban si sopir.
Baiklah, aku akan mati. Tapi bodoh sekali kalau mati sebelum yakin. Ayo, Dan. Mari kita buka mulut untuk terakhir kali, kata otakku dengan tegas. Ini jelas bukan anjuran. Pertama, hanya erangan parau tanpa arti. Percobaan kedua, justru tak ada suara. Ketiga adalah keberuntungan, berhasil. Jangan tanya jadi seperti apa kedengarannya tangisan orang itu.
“Ss..sion?” Yes! Seluruh selku bersorak, berhasil melaksanakan tugas terberat.
“Hmm?” Jawabnya tepat di samping telingaku.
Tidak ada suara yang bisa keluar lagi, karena pekerjaan ekstra sedang dilakukan dengan paksa oleh dadaku. Jantungku merespon bisikan itu dengan amat berlebihan. Aku tidak mengerti bagaimana, tapi ini menambah kesakitanku.
Ada hal penting di titik ini. Kepercayaanku bahwa rencana Tuhan selalu mengantar kepada kebahagiaan. Dalam kasusku, aku akhirnya paham bahwa tanpa hal-hal sialan tadi aku mungkin tidak berakhir dengan merasa sedemikian dicintai.
Ini awal atau akhir atau keduanya? Tidak ada rumus pasti untuk itu.
Satu hal penting dan pasti, bahagia kini bukan sekadar suasana di film atau narasi penjilat-penjilat bodoh. Ternyata rasanya begini. Seperti tidak akan ada lagi hal lebih menyukakan. Ya, tidak ada kebahagian yang lebih besar dari milik mereka yang dicintai. Dalam kasusku, rasanya seperti oasis. Wahah di ladang gersang. Gersang yang berteman dengan kerbau jantan.
Selesai.



Keterangan
1.      Genduk                 : (Jawa) sebutan untuk anak perempuan
2.      Mendelik               : (Jawa) melotot, dimaknai sebagai perilaku tidak sopan
3.      Alpha                    : huruf pertama dalam alfabet Yunani, sering digunakan dalam
menganalogikan kepemimpinan atau dominasi individu di atas kelompok
4.      Diparingi               : (Jawa) diberi, dianugerahi
5.      Joko                       : (Jawa) perjaka
6.      Ngendika              : (Jawa) bicara
7.      Ngersakne             : (Jawa) menghendaki
8.      Sawung                 : (Jawa) jago, calon, sering dimaknai sebagai laki-aki atau pejantan

Kamis, 17 September 2015

Dan




            Seperti biasa, rumah besar ini sepi. Bahkan ketika pagi telah menjelang, tak ada seekor burungpun yang meramaikan pagi seperti lingkungan lain. Semua lampu di lantai dasar masih padam. Lubang angin kamar sang empunya rumah inilah satu – satunya celah yang bercahaya. Ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Rumah mewah nan besar yang memiliki fasilitas olahraga dan musik yang lengkap ini memiliki penghuni yang tak lebih dari satu. Tak ada pembantu, sopir atau tukang kebun. Si empunya selalu melakukan semuanya sendiri dengan alasan tak mau melakukan pemborosan dengan membayar orang untuk pekerjaan yang bisa dilakukannya sendiri. Tak heran, rumah ini selalu terlihat bersih dan rapi.
Si Empunya mengerjapkan matanya yang masih terasa berat. Dilihatnya sekeliling, sprei dan selimutnya masih rapi. Masih tak bergerak saat tidur. Dia duduk dan mengecek jadwal di ponselnya. Aktivitas kerjanya akan dimulai pukul delapan malam nanti. Dengan membawa ponselnya Si Empunya pergi kebawah untuk sarapan. Ia menggoreng daging, merebus sebutir telur, mengiris roti dan keju, lalu membuat teh hangat baru kemudian membawanya ke meja makan. Sebelum makan, Dia pergi ke kamarnya dan kembali membawa sebuah buku kemudian memutar musik. Ketika sedang asik menikmati sarapannya sambil membaca buku, ponselnya berdering.
“Halo…”
… ”Baiklah, Aku akan datang sebelum waktu makan malam.”
Dia kembali fokus pada buku dan sarapannya. Setelah sarapan, orang itu membersihkan dapur dan peralatan masaknya kemudian keatas untuk mandi. Merasa tubuhnya sudah segar, dia membuka almari besar di sisi kiri ranjang king size-nya yang berisi begitu banyak jas, kemeja, baju, dan jaket. Dia mengambil sebuah baju dan jaket kulit berwarna hitam. Kemudian beralih pada sebuah buffet rendah panjang di samping meja kerjanya yang berisi banyak sekali sepatu. Setelah mengambil satu yang berwarna hitam, orang itu beralih pada sisi kanan buffet untuk mengambil jam tangan. Tapi dia kembali ke almari pakaian dan mengambil sebuah kaus dengan sembarang lalu memakainya. Semua yang tadi dipilihnya hanya dibiarkan tergeletak di ranjang. Ia lalu turun ke garasi mobil. Disana ada lima mobil dan tiga motor besar yang terparkir. Ia melewati LaFerrari, Pagani, Hennessey, Bugati dan berhenti di depan Lamborghini merahnya. Dia mengendarainya dan berhenti di halaman kemudian mencucinya sampai mengkilap lalu membawanya masuk lagi.
            Orang itu menghabiskan waktu siangnya dengan menulis di sebuah buku bersampul kertas cokelat muda yang dilapisi plastik dengan rapi. Baru kemudian pergi mandi dan berangkat tepat pukul enam sore, sebelum waktu makan malam.
Tibalah Ia di gedung bertingkat 14 yang menjadi tujuan banyak orang untuk mewujudkan impiannya. Begitu memasuki gedung itu, seorang pemuda berlari mendekatinya dengan menggendong tas yang terlihat berisi penuh dan sebuah buku catatan di tangannya.
“Hei, Dan. Kau tiba lebih cepat rupanya. Sudah makan malam?” Tanya Pemuda itu
“Begitulah. Aku akan makan malam bersama Direktur. Apa Kau keberatan mempersiapkan semua sendiri?”
“Baiklah, semoga makan malammu menyenangkan.”
            Dan memasuki lift untuk menuju tingkat 9 seperti yang diperintahkan. Yang memintanya untuk datang sudah menunggu dan menyambutnya dengan senyuman. Dan hanya tersenyum tipis mengimbanginya.
“Selamat atas lagumu. Aku dengar royaltinya jauh lebih tinggi dari sebelumnya.”
“Terimakasih atas dukungannya selama ini, Direktur.”
“Kau sudah bisa melakukan semuanya sendiri. Cobalah menghubungi Ibumu. Dia pasti sangat merindukanmu.”
Raut wajah Dan berubah seketika.
“Mengajakku makan malam bersama, apa ada sesuatu yang ingin Anda katakan?” Dan mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Oh, ya. Aku hanya ingin Kau berhati – hati dengan wartawan GN TV. Mereka sering menjebak para artis dengan pertanyaan yang menguak masa lalu belakangan ini.”
“Iya. Aku tahu.”
            Setelah selesai makan, Dan menemui Ren, managernya yang sudah siap di mobil agensi kemudian meluncur ke GN TV. Jobnya hari ini adalah menyanyikan 2 buah lagu dan menjawab beberapa pertanyaan yang sudah disodorkan padanya beberapa hari lalu. Talk show ini berdurasi 50 menit dan setelah itu dia harus bertemu dengan Produser Drama untuk menandatangani perjanjian Royalti untuk Soundtrack mereka.
            Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya Dan masuk sambil menyanyikan sebuah lagu. Selesai menyanyikannya, dia dipersilahkan duduk dan memulai perbincangan.
“Dan, bisakah Kau bercerita tentang perjalanan karirmu dari awal sampai sekarang?”
“Aku mulai belajar gitar saat umurku 7 tahun. Kemudian saat umurku 9 tahun, aku juga belajar piano. Ketika aku berumur 15 tahun, aku menulis lagu pertamaku dan menyanyikannya di youtube dan mencoba mengirim audio demo ke beberapa Lebel Rekaman. Akhirnya, di tahun yang sama aku dipanggil ke DR Entertaintment dan debut tiga tahun kemudian setelah melewati masa training.”
“Wah.. hebat sekali ya. Menurutmu, apa yang paling menginspirasimu dalam menulis lagu dan siapa orang yang paling mendukungmu sejauh ini?”
“Biasanya aku hanya menonton film atau drama untuk mencari inspirasi. Orang yang mendukungku bermusik adalah pastur yang mengasuhku dulu. Dia yang membelikan gitar pertamaku. Dan juga Direktur kami. Beliau sudah seperti Ayahku sendiri.”
Acara usai, rombongan Dan langsung menuju cafe yang ditentukan Produser pemesan lagunya. Begitu selesai penandatanganan dan penyerahan cek, Dan kembali ke agensi untuk merapatkan tawaran show-nya bersama wakil Direktur, Manager dan penata busananya hingga larut malam. Malam ini dia tidur di situ karena besok mereka harus keluar kota untuk shooting video clip terbarunya.
            Hari esok berbeda dari kemarin. Hari ini Dan sangat sibuk dan 3 kali makan di belakang panggung. Ia dan rombongan kembali ke agensi larut malam dan tertidur di dalam mobil.
“Dia pasti sangat kelelahan.” Sopir membuka perbincangan
“Tentu saja, Dia juga tak makan dengan baik.” Jawab Ren
“Terkadang aku merasa kasihan padanya. Bagaimana bisa dia selalu sendirian? Bahkan kurasa Dia tak pernah dekat dengan gadis manapun.” Sambung Dee, penata busana sekaligus periasnya.
“Kurasa menjadi artis dan sibuk adalah alasan baginya untuk melupakan kesesakannya.”
            Album untuk menyambut datangnya musim dingin telah dipersiapkan. Di album ini Dan memiliki single special duet bersama penyanyi solo wanita dari agensinya juga, Yanki Lee. Selama penggarapan album ini mereka selalu bersama. Ditengah proses pemotretan, Dan dipanggil oleh Ren.
“Ada apa Ren?”
“Pergi ke lantai 9. Ayahmu menunggu.”
Dengan senyum sumringah Dan menuju tempat yang dimaksud. Benar saja, Direktur yang menunggunya.
“Kau bahagia?”
“Kenapa tiba – tiba Anda mengatakan itu?”
“Pemuda yang kuanggap sebagai puteraku sendiri, pemuda tambang emas perusahaanku, tertawa lepas untuk pertama kalinya.”
“Apa? Bagaimana Anda mengamati sampai sedetail itu?”
“Lagu yang baru selesai kau tulis, aku melihatnya dari Tim mu kemarin. Itu lagu bahagia pertama yang Kau tulis. Kau menulisnya dengan seseorang kan?”
“Ah, tidak juga. Dia hanya tak sengaja melihat saat aku menyusun nada kemudian mengusulkan beberapa hal.”
“Benarkah? Kalau begitu tulis namanya di daftar ucapan terimakasih untuk album mu.”
Dan hanya menjawabnya dengan senyuman
“Aku mengenalnya sama seperti aku mengenalmu. Dia gadis yang baik. Dia juga memiliki rasa sakit yang hampir sama denganmu. Jadi kurasa kalian baik untuk bersama.”
            Suatu hari, ketika promo album terbaru Dan sudah mulai, Dan semakin sibuk saja, begitu juga dengan Yanki. Mereka bahkan dirumorkan sedang menjalin hubungan meski sebenarnya mereka benar – benar sedang melangkah kesana. Dan kembali hadir dalam acara talk show GN TV untuk mempromosikan album terbarunya.
“Saat ini Kau benar – benar sukses dalam bermusik. Kami mendengar Album yang Kau distribusikan ke Jepang  sudah habis terjual. Bagaimana perasaanmu?”
“Tentu saja aku sangat senang. Aku sangat berterimakasih pada semua fans yang sudah mendukungku selama ini.”
“Adakah ucapan terimakasih khusus yang ingin Kau sampaikan?”
“Tentu ada. Aku sangat berterimakasih pada Agensi dan Yanki yang membantuku menyelesaikan program ini. Aku benar – benar tak bisa apa – apa tanpa dukungan semua orang.”
“Tidakkah Kau berniat untuk berterimakasih pada Bibi ini?”
Tiba – tiba datang seorang wanita paruh baya dari belakang panggung. Seperti tersambar petir di siang bolong, Dan membeku terkejut setengah mati. Itu adalah Ibunya. Wanita itu langsung memeluknya sambil menangis dan memanggil – manggil namanya. Dan terlihat sangat bingung, tak mengucapkan apapun meski ditanya. Ren yang tahu ini berarti sesuatu yang buruk akan menimpa Dan langsung menariknya turun panggung kemudian membawanya kembali ke agensi. Di perjalanan, Dan tak mengatakan apapun dan hanya melihat ke depan dengan tatapan sayu dan lelah. Ren khawatir karena tak pernah melihat wajah Dan seburuk ini. Setibanya di agensi, Direktur sudah menunggunya di ruang istirahat Dan.
“Apa yang terjadi?”
“Aku tak tau akan jadi begini bos.” Jawab Ren. Dan mengikutinya dan duduk dengan kasar.
“Ajak bagian perwakilan dan tim pengacara untuk membahas ini. Semua stasiun TV menayangkan pernyataan Ibu Dan yang meminta maaf dan meminta kejelasan mengapa dia di beritakan sudah meninggal. Omong kosong apa itu, kenapa dia baru muncul sekarang dan merusak semuanya. Dia tak mendampingi Dan lebih dari 17 tahun. Bagaimana bisa orang seperti itu masih dianggap hidup?” Direktur terlihat begitu marah
“Baiklah bos. Aku mohon, suruh orang menemani Dan untuk hari ini saja.”
“Ya. Aku tahu.”
            Dengan cepat, tanpa dipanggil Yanki datang ke ruang istirahat Dan dan mendapati pemuda itu hanya duduk di ranjang dengan tatapan kosong tanpa teman.
“Kau baik – baik saja?” Tanya Yanki sambil menatap lamat – lamat wajah lesu Dan
“Tidak.” Jawab Dan singkat tanpa melihat ke arah Yanki
“Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah orangtuamu sudah meninggal?”
Dan diam dalam kebingungannya. Yanki meraih kepala Dan kemudian memeluknya lembut. Lama dengan posisi itu tanpa mengeluarkan suara apapun, lengan Yanki terasa basah. Dan menutup matanya dan air mengalir dari ujung matanya. Yanki mempererat pelukannya. Dia tahu benar apa yang dirasakan Dan. Itu hampir sama dengan saat dimana Ibunya meninggal ditangan selingkuhan Ayahnya, di depan matanya.
            Ditempat lain, Direktur mengadakan rapat dengan badan perwakilan, tim pengacara, dan Tim produksi Dan.
“Berita sangat cepat tersebar dan semua sudah berkembang menjadi gossip – gossip tak jelas yang menyangkut ke mana – mana. Saya rasa, kita memang harus mempertemukan Ibu itu dengan Dan kemudian menuntutnya atas pencemaran nama baik dan penterlantaran anak. Baru kemudian menggelar Jumpa Pers.” Jelas Kepala Tim Pengacara
“Tapi mental Dan akan sangat down. Bisakah mengusahakan cara yang lain?” Tanya Dee
“Itu adalah satu – satu cara yang efektif untuk kembali membersihkan nama Dan. Untuk strategi pemulihan kesan public, serahkan kepada kami.” Kata kepala badan perwakilan
“Lagi pula, jika dia benar – benar rapuh, apa fungsi kalian, Crew yang mendampinginya? Kalian adalah orang terdekat yang pasti bisa membangkitkan semangatnya. Bukankah kalian sudah saling menganggap saudara?”
“Benar juga. Aku atau Dee akan mencoba bicara pada Dan sebelum pertemuan supaya Dia tak terlalu terguncang.”
“Bagaimanapun, kita tak boleh kehilangan bintang kita yang satu ini. Dia sangat menjanjikan untuk keperluan jangka panjang. Dengan bakatnya itu, sangat tidak adil jika harus tenggelam secepat ini.” Imbuh salah seorang dari badan perwakilan
            Rencana pihak management benar – benar dilaksanakan setelah melewati proses  perundingan yang panjang. Hari ini mereka baru akan mempertemukan Dan dengan Ibunya. Direktur melihat Dan turun dari mobil menuju sebuah ruangan yang mereka siapkan dengan tatapan pedih.
“Kau benar – benar datang..” Kata Ibu membuka pembicaraan. Dan duduk tanpa menjawabnya. Tatapannya benar – benar mati
“Bagaimana keadaanmu? Apa Kau baik – baik saja?” Tanya Ibu lagi
“Tidak. Aku tidak baik – baik saja.” Kini Dan melihat ke wajah Ibunya
“Maaf karena harus muncul dengan cara ini. Ibu terlalu bingung memikirkan cara menemuimu..”
Dan masih diam sambil memandang lamat – lamat wajah Ibunya.
“Apa Kau hidup dengan baik selama ini? Ibu dengar Kau memiliki banyak teman dan penggemar. Bagaimana sikap mereka padamu? Kau senang?” Tanya Ibu berkaca – kaca
Dan tenang dalam diamnya.
“Apa Kau makan dengan baik? Apa makanan favoritmu? Apakah Kau sedang ingin masakan rumah? Kau memasak makananmu sendiri atau pergi ke Restoran?” Air mata Ibu benar – benar jatuh
“Apa maksudmu meminta kejelasan atas status orangtuaku? Bukankah tidak salah jika kusebutkan aku yatim piatu?” Akhirnya Dan angkat bicara
“Ini salah Ibu..Ini salah Ibu…” wanita itu kini menangis sejadi – jadinya di hadapan putera yang telah ditinggalkannya itu
“Jika Kau tau salah, seharusnya Kau tak pernah muncul.” Dan bangkit, namun Ibu menahan tangannya
“Tinggallah sebentar lagi. Ibu mohon..”
“Aku selalu menunggumu. Aku menunggu di depan apartemenmu sepulang sekolah sampai pastur menjemputku. Aku selalu menyisikan uang koinku untuk meneleponmu. Aku selalu percaya suatu saat Kau kembali. Aku selalu berdoa untukmu. Ini bukan hanya sehari dua hari. Aku melakukannya selama 19 tahun dan menunggu seperti orang bodoh. Sekarang aku lelah. Kau masih memintaku untuk tinggal? Berapa lama lagi aku harus menjadi orang bodoh?”
Dan menghempaskan tangan Ibunya dan pergi begitu saja dengan Lamborghini merahnya. Mobil itu melesat dengan sangat cepat dan berhenti di sebuah sekolah dasar di batas kota. Pemuda itu turun dan duduk di salah satu ayunan yang berada di seberang telepon umum sambil menengadah menatap langit sore yang mulai gelap. Lama dengan posisi seperti itu, dia beranjak ke telepon umum di seberang jalan. Ada nomor telepon yang ditulis dengan uang logam di bawah gagang telepon. Tulisan yang sangat berantakan seperti anak yang baru belajar mengeja. Di atasnya terdapat tulisan yang tak kalah jeleknya, “Mom”. Dan membelai tulisan itu dengan mata berkaca – kaca.
            Dan kembali ke mobilnya ketika hari sudah malam. Dia terkjut melihat puluhan panggilan tak terjawab dari semua orang. Tanpa pikir panjang, dia menghubungi nomor yang menghubunginya lebih dari dua puluh kali.
“Dan, dimana Kau? Semua orang bingung mencarimu..” Ternyata dia mengubungi Yanki
“Aku hanya mencari udara segar sebentar. Aku dalam perjalanan kembali.”
Dan mempercepat laju mobilnya menuju agensi. Ketika jaraknya sudah dekat dengan kantor agensi, Ren menghubunginya, menyuruhnya pulang saja karena di agensi sedang dikerumuni oleh banyak sekali wartawan. Dia juga menyuruh Dan tetap dirumah sampai dia menghubunginya lagi. Ren juga berjanji akan mengurus semua kebutuhannya. Dengan malas  Dan berbalik arah dan pulang.
            Dan baru bangun saat kebanyakan orang berjalan – jalan keluar untuk menyaksikan salju pertama yang turun tahun ini. Tidak. Sesungguhnya dia dengan malas menyaksikan bulan bosan menyinarinya dan semburat cahaya pagi muncul sampai rendahnya suhu diluar seperti hendak memecahkan dinding kaca kamarnya. Dia turun dan memutar vcd film kesukaannya. Setelah merasa lapar, dia mengambil satu botol bertuliskan “Chateau Lafite 1718” dan beberapa snack dari lemari es nya. Ruang tengahnya tampak sangat buruk dengan bungkus snack yang memenuhi meja yang biasa dia gunakan untuk menulis not – not lagunya. Di Minggu pagi yang menyenangkan bagi sebagian besar warga negeri ini, pemuda ini bahkan sudah mabuk. Dia ingin keluar, tapi wartawan memenuhi gerbang sampai jalan menuju kompleks rumahnya. Setelah menghabiskan anggurnya, Dan tidur begitu saja di lantai ruang tengahnya tanpa alas apapun.
            Rutinitas yang sama terus Dan lakukan lebih dari seminggu. Dia selalu mengatakan masih ketika Ren menanyakan stok makanannya. Pagi ini Dan mandi setelah sekian hari tak menyentuh air. Ketika hendak berpakaian, Ia tertegun melihat tubuhnya yang begitu kurus dan wajahnya yang pucat. Lalu dia merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kasar dan kembali tidur.
            Yanki melihat jadwalnya dengan ekspresi kesal.
“Kenapa masih ada jadwal shooting di saat seperti ini? Tidakkah mereka mengaitkanku dalam skandal Dan?”
“Ikuti saja proses yang ada. Management sedang memperbaiki semuanya. Ini tak akan lama. Akan ku ajak Ren ke rumah Dan malam nanti. Kau mau ikut?” Tawar Managernya
“Aku akan berangkat duluan setelah shooting.”
            Yanki, Managernya, Ren juga Dee mengunjungi rumah Dan. Dee mengajak yang lain masuk melewati pintu belakang untuk menghindari wartawan. Setelah memasukkan beberapa angka pada pengunci pintunya, mereka masuk dengan cepat lalu menutupnya lagi. mereka melihat dapur, rapi seperti biasa. Begitu memasuki ruang tengah, Dee berteriak terkejut melihat ruangan itu terlihat seperti kapal pecah. Bungkus snack dimana – mana, botol – botol anggur bermerek dunia tergeletak hampir di seluruh bagian ruangan. Semua sudah tertebak dari sini. Dan tidak makan nasi. Yanki dan Ren berlari keatas sementara Dee dan manager Yanki membersihkan ruang tengah.
            Kamar Dan tak seburuk ruang tengahnya. Masih rapi, berbau wangi menyegarkan. Tubuh kurusnya meringkuk di tengah ranjang. Yanki mendekatinya dan mencoba menggoncangkan tubuh itu. Dia menatap miris melihat pemuda yang mulai disukainya itu begitu tak terurus. Badannya terasa sangat dingin, dan tak kunjung bangun meski sudah berusaha dibangunkan olehnya dan Ren.
“Dia pingsan. Tolong panggilkan dokter.” Pinta Yanki
Ren segera menghubungi dokter agensi dan tak membutuhkan waktu yang lama untuk beliau datang. Dan sadar sesaat setelah menerima suntikan.
“Kau merasa lebih baik?” Tanya Yanki
“Kepalaku sakit. Kapan Kau tiba?”
“Beberapa jam yang lalu. Ren, Dee dan Sui juga datang. Mereka di bawah, membereskan sampahmu.”
“Ah, maaf.”
            Kehadiran Yanki setiap hari benar – benar membantu Dan. Tak butuh waktu sampai sebulan untuk mengurus kekurangan karbohidrat yang dideritanya dan mengembalikan Dan yang dulu. Yanki banyak bercerita tentang hidupnya yang sulit dan caranya mengalahkan semua kesulitan itu membuat Dan mau berusaha mengerti hal yang terjadi dalam hidupnya. Keuntungan juga untuknya karena dia bisa ketiduran ketika Yanki begitu banyak bicara. Rumor tentangnya sudah mulai surut meski masih dipertanyakan. Pihak agensi hanya menerangkan ke public bahwa semuanya belum baik untuk dijelaskan sekarang, Dan maupun Ibunya memerlukan waktu untuk membicarakan bersama dengan agensi. Setelah semuanya diklarifikasi dalam agensi, mereka berjanji akan mengumumkan kejelasan tentang ini kepada para fans.
            Hari itu Dan pergi bersama Yanki ke sekolah dasarnya dulu. Dan menceritakan masa kecilnya yang ceria disana. Untuk pertama kalinya Yanki melihat Dan tertawa lepas saat menceritakan tentangnya. Sepulang dari sana, Yanki mengajak Dan mampir di sebuah club dan memilih private room untuk makan. Dan tau persis ini jebakan. Tapi dia mengikuti saja.
            Perkiraan Dan tak meleset. Ibunya ada disana. Dan sama sekali tak terkejut, justru tersenyum melihat wajah takut Ibunya.
“Bagaimana kabarmu hari ini? Sudah makan?” Sapa Sang Ibu
“Sudah tadi pagi. Sekarang aku kemari juga untuk makan.” Jawab Dan singkat. Tanpa kemarahan
“Baiklah, mari kita  memesan sesuatu.” Ajak Yanki mencairkan suasana
Mereka makan dalam diam. Dan bersikap seperti tak ada masalah dan makan dengan baik. Yanki memakan makanannya sambil melihat Dan sesekali dengan hari berdebar, takut pria itu marah dengan situasi yang diaturnya. Setelah mereka selesai makan, Dan membuka perbincangan.
“Mereka akan menuntut dengan tuduhan pencemaran nama baik. Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku menghentikannya, atau membiarkannya?”
Dan menatap Ibunya dengan tatapan bertanya sambil tersenyum teduh. Sangat berbeda dari tatapannya ketika perjumpaan kedua. Yanki juga menatap Ibu Dan menanti jawaban.
“Tanyakan pada hatimu dan turuti saja apa maunya.” Jawab Ibu dengan senyum. Dia baru sadar Dan tidak lagi sama
“Mmhh..”
“Bolehkah Ibu meminta sesuatu?”
“Apa itu?”
“Ibu ingin melihat tempatmu tinggal.”
“Tentu saja boleh, Bibi. Anda bisa ikut bersama kami nanti.” Serobot Yanki
            Esok datang. Ibu sudah menyiapkan segelas susu dan roti di atas meja. Dan yang baru bangun langsung duduk dan menikmatinya sambil senyum – senyum sendiri.
“Ada masalah? Apa rasanya buruk?” Tanya Ibu
“Tidak juga. Hanya saja biasanya aku menambahkan keju dan daging sapi goreng. Aku tidak biasa minum susu di pagi hari.”
“Maaf, Ibu tidak tau. Mau diganti?”
“Tidak usah. Ini sudah cukup.”
Ibu melihat Dan makan sampai selesai. Dan menjadi salah tingkah dan senyum – senyum sendiri, membuat Ibunya melepas gelak tawa.
“Terimakasih atas makanannya. Aku akan pergi mandi.”
Setelah selesai mandi, Dan kembali turun untuk menonton TV. Ibunya hanya duduk disofa sambil membaca koleksi majalah yang memajang wajah puteranya pada sampulnya.
“Menakjubkan, bukan? Aku memang tampan.”
Dan duduk di samping ibunya sambil membawa snack. Akhirnya Ibu juga ikut makan bersama dengannya. Begitu snack habis, Dan focus ke TV tanpa mengatakan apapun.
“Ibu sudah melihat rumahmu. Ibu rasa sudah waktunya pulang. Kapan sebaiknya Ibu pergi? Bagaimana caranya supaya tak tertangkap wartawan?”
Dan diam saja
“Kau ingin Ibu tinggal beberapa hari lagi?”
Dan masih diam. Ibu memutuskan untuk menoleh ke sisi kanannya, dan mendapati puteranya sedang tertidur pulas. Ini adalah kali pertama Ibu melihat Dan tidur Sembilan belas tahun terakhir. Bahkan anak itu mendengkur. Air mata Ibu menetes, benci pada dirinya sendiri yang justru menjadi orang yang paling tidak mengenal puteranya sendiri.
Dan bangun dalam kesepian. Ibunya tak lagi ada di sana. Dia bangkit dengan malas dan melanjutkan lagunya di kamar. Merasa inspirasinya buntu, Dan merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kasar dan tidur.
Beberapa hari berlalu, Dan tidak melakukan apapun. Seperti mayat hidup, dia hanya bangun – sarapan – mandi – menonton TV  – tidur. Setelah memikirkan semuanya, Dan meminta Ren untuk mengurus persiapan konferensi pers dan pencabutan tuntutan. Direktur dan semua orang di agensi sebenarnya tak setuju, tapi mereka lebih menghargai pilihan Dan.
Konferensi pers digelar. Dan menceritakan semuanya tanpa perasaan ragu sedikitpun dengan Direktur dan beberapa orang dari badan perwakilan bersamanya. Dari apartement – nya, Ibu menonton acara itu sampai tak sadar berapa banyak air yang membanjiri kedua pipinya. Ketika hari sudah mulai sore, sebuah Lamborghini merah memasuki area parkir apartement Ibu. Itu adalah Dan. Ibu langsung membuka pintu begitu bel berbunyi tak lama kemudian.
“Kau mencabut tuntutannya?”
“Seseorang menyuruhku untuk bertanya pada hatiku dan melakukan maunya, jadi aku lakukan saja.”
“Apa yang dikatakan hatimu?”
“Hukum Negara tak akan bisa menyeimbangi hukuman yang akan aku berikan.”
“Jadi, apa itu?”
“Tinggal dirumahku. Membuatkan aku sarapan dan membuatku menyukai susu di pagi hari. Menyapaku saat pulang kerja dengan pelukan hangat. Menyukai gadisku seperti aku menyukainya. Tidak membuatku menunggu. Tidak meninggalkanku.”
“Baiklah. Boleh Ibu mulai dengan pelukan saat bertemu ketika pulang atau berangkat kerja? Bukankah sekarang Kau baru saja pulang kerja?”
Tanpa menunggu jawaban, Ibu langsung memeluknya tubuh yang jauh lebih tinggi darinya itu dengan erat. Ia juga mendapatkan balasan. Dan sangat berdebar didengar dari dadanya oleh sang Ibu.”
“Apa Kau baik – baik saja?”
“Tidak. Aku tidak baik – baik saja, Ibu.”

THE END