Jangan Coba - Coba Copast!!! Hargai hasil karya orang lain.. :-)

Protected by Copyscape Duplicate Content Check

Senin, 07 Oktober 2019

Wahah (ketika gersang berteman dengan kerbau jantan)


Sepertinya memang tidak ada hal yang lebih menyebalkan dari bangun pagi. Saat ponsel menyuarakan nada paling mengganggu sedunia. Hewan piaraan membuat keributan di mana-mana. Teriakan Mama mengingatkan sekian kegiatan. Aku yakin, untuk beberapa orang lain bangun pagi sama artinya dengan punya urusan tentang brutalnya para pengantri kamar mandi, air dingin, atau sarapan sepanas hati pasca diselingkuhi. Tapi bisa apa, hari tetap berganti tak peduli seenggan apa orang menjalaninya.
Dalam kasusku, mendengar suara alarm diterjemahkan otak sebagai tanda sesuatu harus dibuka. Lalu semacam film diputar dengan sangat cepat di sana. Ingatan-ingatan mengganggu. Seperti cipratan air liur Mr. Santoso saat berkhotbah soal skripsi, kadang juga wajah legam ketua organisasi mahasiswa yang kuyup keringat saat orasi. Atau riuhnya sorakan selusin orang di kantin saat aku datang. Percayalah, itu bukan sambutan. Alih-alih menyambut, mereka merayakan. Setidaknya ada satu lagi selain mereka yang sedemikian bodoh dan terlambat lebih dari lima belas menit di mata kuliah Prof. Radjiman.
Kupikir akan menyenangkan jika lelap barang sepuluh menit lagi setelah mematikan alarm. Aku menggeliat sebebasnya sebagai ratu ranjang. Kemudian tanganku mendarat pada permukaan aneh. Rambut-rambut kecil nyaris tajam. Tanganku bergerak sedikit, mendapati sesuatu yang basah. Terkejut, aku melompat dari ranjang dengan tendangan hebat sebagai awalnya.
“Astaga, Papa!” Kataku meninggikan suara. Tentu tidak dijawab, Papa sedang sibuk mengumpulkan puing kesadaran. Duduk tanpa nyawa, sembarang menendang selimut.
“Mama di mana?” Tanyanya tanpa melihat ke arahku.
“Mana kutahu... Ada apa dengan kamar Papa Mama?”
“Tamu. Mereka tidak bisa keluar dari hotel dan berjalan ke rumah kita kalau matahari sudah naik. Tidak boleh.”
Terserah, aku tidak paham. Kupilih mandi sebagai pengalih kekesalan. Sambil membayangkan sarapan buatan koki terbaik di muka bumi. Membayangkannya saja sudah memperbaiki suasana hati. Mudah. Hanya, tak sulit untuk menjadi buruk lagi. Ini terjadi sepersekian detik setelah aku keluar dari kamar dan turun.
Lantai satu ramai sekali. Orang-orang bersikap seperti di rumah sendiri. Memerintah pekerja dengan sangat tidak baik. Lainnya menggerombol di beberapa titik. Entah keras atau tidak, yang jelas gabungan suara di situ sungguh memusingkan. Belum sempat aku memikirkan sesuatu, seorang wanita asing melaluiku.
“Hm.. ini rupanya si anak pungut.”
Perkataannya menarik perhatian beberapa orang, lantas membuatku jadi pusat perhatian. Aku masih melongo tak mengerti dengan apa yang sedang kuhadapi.
“Sudah besar, ya. Umurnya akan membuat orang sulit percaya dia anak Prof. Herman.” Kata seorang lagi. Wanita muda dan cantik dengan gaun pendeknya. Dia sedang sarapan bersama beberapa orang. Di meja makan kami.
“Kasihan ya Dokter Mia. Orang awam akan mengira anak ini buah pekerjaan buruknya atau suami.” Kata seorang lagi, wanita tua. Sangat jelek dan tampak semakin jelek karena terlalu kentaranya si niat tak mau tua. Lihat saja, aplikasi pensil alisnya bukan main.
“Jangan bercanda. Tidak akan ada orang yang mengira sekonyol itu. Sekali lihat saja, orang tahu ini bukan anak kandung.” Seorang pria botak di sisi kanan meja menambahi.
Aku masih di situ. Di bawah tangga. Otakku bekerja dan memutuskan lebih cepat. Pertama, berjalan dulu ke luar. Tidak usah mengubah apapun. Rambut diikat sembarang. Sandang ransel di satu bahu. Bukan masalah.
Hampir berhasil, langkahku terhambat. Mama mengejar, membuatku menoleh. Fenomena mengejutkan yang tertangkap mata ini lebih berhasil menguasai perhatianku dibanding dengan kalimat panjang Mama.
Adalah meja ruang tengah kami. Penuh dengan kertas-kertas, satu dua judulnya terbaca dari tempatku berdiri. Papa duduk rapi, membaca sebendel dokumen. Orang-orang duduk mengelilingi meja dan melakukan hal serupa. Raut wajah mereka sangat serius.
Mereka adalah tokoh kenamaan. Belakangan muncul setidaknya sekali di setiap stasiun televisi setiap hari. Mengumbar omong kosong yang kutentang mati-matian bersama ratusan ribu orang lain di jalan ibu kota. Siapa kira mereka ada di sini. Kompak menoleh ke arahku sejak sedetik lalu.
“Ini yang namanya Danika? Cantiknya. Pak Herman, saya lihat genduk1 di barisan terdepan kemarin. Sangat keren.” Kata seorang tonggos berkacamata sambil membetulkan posisi pecinya.
Papa menundukkan kepala sambil tersenyum. Si muka lonjong dan perut besar, salah satu pimpinan rombongan ini mengamatiku dua detik dan tersenyum ganjil. Sudut kecil di satu ujung bibir, cukup mengantarkan pesan penghinaan.
“Bagus, anak muda memang wajib kental ideologinya. Baik kalau artinya murni. Kurang baik kalau akar ilmunya belum banyak. Kalau sudah, tentu akan sopan pada orang lebih tua, bukan sebaliknya seperti tempo hari, atau mendelik2 pada ayah angkatnya.”
Begitu kalimatnya selesai, seseorang lebih muda menyikunya pelan. Pria dengan wibawa, sang alpha3. Memandangku dengan tatapan teduh, aku tidak tahu itu bagian dari drama atau sungguhan.
“Mau berangkat kuliah, cah ayu?” Tanyanya sambil tersenyum.
“I..iya. Iya, pak.” Jawabku gagap sambil menundukkan kepala sebentar. Ayolah, Danika. Mari berperilaku baik demi Papa.
“Sudah diparingi4 uang saku? Pergi ke kampus menyetir sendiri atau dengan sopir?”
“Sudah. Sendiri. Eh, maksud saya menyetir sendiri, pak.”
“Baik, hati-hati. Rajin belajar, ya.”
Sekali lagi aku menunduk, lalu berbalik dan lanjut berjalan ke luar. Mama masih mengikutiku sambil berpesan ini itu.
“Cantik dan sopan, Pak Herman. Kurang beruntungnya, saya kehabisan joko5. Kalau bapak mau, saya bisa bantu. Bapak ngendika6 saja, ngersakne7 sawung8 seperti apa.”
Kepalaku masih sibuk, mataku sudah menangkap gambar sulit lagi. Di teras kami ada lima atau enam pemuda dengan penampilan tidak bercanda. Sepuluh hektar tanah mungkin belum sebanding harga beli embel-embel dari kepala hingga kaki.
Reaksi mereka melihatku sebetulnya tidak mengejutkan, mengingat rupaku memang persis kain keset. Ada yang memandangiku lalu membuang muka. Tak peduli. Bagus karena tidak memberiku alasan berhenti lagi. Pintu mobil sudah kubuka dan kulempar tasku ke dalam.
“Buru-buru, mau kemana? Mencari ayah ibu kandungmu di tengah demonstran?”
“Tidak, bukan. Selama tinggal di sini, dia mungkin tidak diizinkan makan sembarang. Dia ke jalan karena rindu kehidupan lama. Makanan dalam gerobak kotor. Hahaha…”
“Sebaiknya cari jalan sepi. Jalan kota jadi atau tidak seperti kemarin, siapa yang tahu. Kasihan mobil itu kalau sampai diamuk masa. Sebaiknya tidak lupa, itu hanya pemberian orang lain. Kamu bukan anak kandung yang akan sah saja meski membuat rumah ini jadi abu.”
Orang terakhir membuatku batal masuk ke balik kemudi. Bukan karena kalimatnya, sungguh. Tak ada yang salah dengan kalimat itu. Suaranya. Aku tahu suara itu. Benar saja, sedetik setelah menoleh mulutku terbuka tanpa sadar. Terkejut. Sion, aktivis yang cukup populer. Kampusnya tak jauh dari kampusku. Temanku sejak SMA. Dia masuk ke rumah kami diikuti muda-muda bodoh tadi. Tunggu, dia masuk ke sana?
Terserah. Kupakai mobil ini untuk lari dengan cepat. Sepanjang jalan ke kampus kepalaku penuh dengan banyak sekali kata, tapi tak satupun keluar. Hampir terlalu jauh melamun, dering ponsel mengembalikan pikiranku ke kemudi. Si kribo Ilham teriak, minta ditunggu. Mengajak masuk kelas bersama. Mata kuliah malaikat maut, Prof. Radjiman.
“Aku bolos hari ini.” Jawabku singkat dan memutus sambungan saat dia masih teriak-teriak di tengah suara amat berisik. Pelawak itu pasti sedang ada di atas vespa mahal ayahnya.
Kuputar kemudi tanpa melirik kaca spion. Menginjak gas sedalam yang aku bisa. Berhenti di suatu kampung. Melanjutkan dengan jalan kaki, selesai di ladang gersang. Duduk beralas salah satu batu batas antar lahan. Diam dalam waktu lama. Mengorek tanah dengan kerikil atau mengamati sekeliling atau mencabut rumput dengan asal.
Sekitarku mulai tak seterik tadi. Kulihat jam di ponsel, pukul tiga sore. Para petani berjalan pulang. Beberapa yang mengenaliku, menyapa dengan tidak biasa. Memeluk dan banyak sekali bertanya. Aku hanya menjawab singkat –ya atau tidak atau diam– untuk semuanya. Beruntungnya, mereka tak menuntut jawab. Nampak juga seorang juragan melepas ternak di lahan yang masih berumput. Kemudian beberapa anak kecil mengganggu kerbau makan.
“Ya. Aku sudah melakukannya dengan baik. Anaknya Bapak akan selalu sehebat itu, ya kan Pak?” Tanyaku entah pada siapa.
Tiba-tiba sekitarku menjadi ribut. Orang-orang berteriak tak keruan. Melihat ke arah mereka menunjuk, seketika jantungku serasa melepaskan pegangannya. Yang benar saja, anak-anak tadi berlari ke arahku. Dengan kerbau jantan mengejar tak kalah semangat.
Sialan, aku juga jadi ikut lari. Hanya arahku payah. Saat anak-anak tadi menyebar, aku mengikuti satu yang berbadan tambun. Di antara semua arah dengan setidaknya dua anak lari, banteng itu memilih mengejar kami. Aku dan si tambun. Di belakang kerbau itu sekelompok petani mengejar sambil membawa tambang, berseru menyuruh kami terus berlari. Berjanji akan terus berusaha. Napasku sudah sulit, si tambun apa lagi. Entah sejak kapan kami saling berpegang erat. Persis seperti hendak kawin lari. Bukan dikejar mertua, tapi kerbau. Sama sekali tidak lucu.
Sepertinya mereka tidak akan berhasil. Kejar-mengejar hanya akan selesai jika kami memanjat sesuatu, tapi ladang ini hanya punya pohon ketela sebagai pemegang juara tinggi. Berlari sampai ke kampung? Jangan bercanda.
Kemudian kesialanku tergenapi. Aku tersandung. Jatuh sekerasnya menghantam tanah kering. Lalu gelap.
Saat aku kembali bertemu cahaya, tempatnya sudah bukan ladang. Kursi belakang sebuah mobil mewah. Bukan milikku. Sopir berjas. Badanku terlentang. Spontan duduk, membuatku menyadari keadaan dengan cepat. Kepalaku bocor, darahnya masih menetes ke celana yang sudah sedemikian lusuh dan sobek di sana sini. Lengan kanan sangat sakit, aku tidak tahu patah atau bukan. Satu sepatu tergeletak di atas ransel dengan sembarang. Ranselnya berlubang. Lalu pandanganku kabur, semua yang kulihat seperti perlahan berjalan ke kiri.
Seseorang duduk mendekat, meraih, membuatku bersandar padanya. Terus menyebut namaku tapi tidak kujawab. Tangannya berusaha menyentuh kepalaku, aku melawan. Mencoba duduk tegak lagi dan mundur sedikit. Berusaha mengenali. Tapi tak sekuat itu. Akhirnya tangan orang itu menyangga kepalaku lalu mendekatkan wajahnya. Paham maksudku.
“Ini aku. Jangan bergerak. Sebentar lagi kita sampai di Rumah Sakit.”
Di tengah rasa sakit sekujur tubuh, mataku masih hebat soal membelalak saat otakku mengeluarkan keputusan untuk terkejut. Pemandangan ini adalah pemenang utama dari semua keterkejutan hari ini. Ah, ilusi bodoh macam apa, batinku. Sulit sekali percaya. Mungkin kepalaku rusak dan baru saja menerjemahkan gambar dengan keliru.
“Kerbau..” Racauku.
“Mati.”
“Si gendut..
“Mereka membawanya. Aku tidak tahu kemana.”
“Mobilku..”
“Demi Tuhan, Danika!” Bentaknya.
Sedetik kemudian dia memeluk kepalaku dengan satu lengan sementara telapaknya membungkam luka robek. Tangan yang lain mendekap dan telapaknya menutup bagian paling sakit di punggung bawahku. Juga terus mengajakku bicara. Saat pandanganku mengabur bersama dayaku makin hilang, suaranya terdengar semakin buruk. Orang ini menangis? Aku bahkan masih ragu dia siapa.
“Tolong jangan tidur meskipun sangat mengantuk. Kumohon, Danika.”
Aku masih dengar, tapi semua keburukan ini membasmi habis tenagaku.
“Danika..”
“Dan… Oh Tuhan!”
Telapak yang di kepala didekatkannya ke hidungku, sedetik suara isakannya terdengar semakin sering. Situasiku sungguh tak baik, membuka mata terasa sedemikian berat. Hampir lupa usahaku memastikan siapa orang ini.
“Jangan maafkan aku saat kamu sudah sembuh nanti, ingat itu.”
Begitu kalimat itu selesai, entah kenapa malah aku tersedak. Dengan seribu kali lipat kesakitan. Aku tidak tahu basah-basah apa yang keluar dari mulutku, tapi mendengar reaksinya, pasti darah. Dia meraung-raung aneh sekali. Menangis seperti bayi sambil mendekap erat dan menutupi luka parah si sekarat dengan telapaknya yang lebar.
“Tidak… Tuhan, tolong. Jangan… Danika, aku tahu kamu dengar. Jangan sampai tidur. Kamu tidak boleh tidur, Danika.”
“Dan? Dan? Oh, Tuhan.. Dan?”
“Kenapa jalannya lambat sekali, bangsat??” Bentaknya pada sopir. Aku tidak begitu dengar lagi jawaban si sopir.
Baiklah, aku akan mati. Tapi bodoh sekali kalau mati sebelum yakin. Ayo, Dan. Mari kita buka mulut untuk terakhir kali, kata otakku dengan tegas. Ini jelas bukan anjuran. Pertama, hanya erangan parau tanpa arti. Percobaan kedua, justru tak ada suara. Ketiga adalah keberuntungan, berhasil. Jangan tanya jadi seperti apa kedengarannya tangisan orang itu.
“Ss..sion?” Yes! Seluruh selku bersorak, berhasil melaksanakan tugas terberat.
“Hmm?” Jawabnya tepat di samping telingaku.
Tidak ada suara yang bisa keluar lagi, karena pekerjaan ekstra sedang dilakukan dengan paksa oleh dadaku. Jantungku merespon bisikan itu dengan amat berlebihan. Aku tidak mengerti bagaimana, tapi ini menambah kesakitanku.
Ada hal penting di titik ini. Kepercayaanku bahwa rencana Tuhan selalu mengantar kepada kebahagiaan. Dalam kasusku, aku akhirnya paham bahwa tanpa hal-hal sialan tadi aku mungkin tidak berakhir dengan merasa sedemikian dicintai.
Ini awal atau akhir atau keduanya? Tidak ada rumus pasti untuk itu.
Satu hal penting dan pasti, bahagia kini bukan sekadar suasana di film atau narasi penjilat-penjilat bodoh. Ternyata rasanya begini. Seperti tidak akan ada lagi hal lebih menyukakan. Ya, tidak ada kebahagian yang lebih besar dari milik mereka yang dicintai. Dalam kasusku, rasanya seperti oasis. Wahah di ladang gersang. Gersang yang berteman dengan kerbau jantan.
Selesai.



Keterangan
1.      Genduk                 : (Jawa) sebutan untuk anak perempuan
2.      Mendelik               : (Jawa) melotot, dimaknai sebagai perilaku tidak sopan
3.      Alpha                    : huruf pertama dalam alfabet Yunani, sering digunakan dalam
menganalogikan kepemimpinan atau dominasi individu di atas kelompok
4.      Diparingi               : (Jawa) diberi, dianugerahi
5.      Joko                       : (Jawa) perjaka
6.      Ngendika              : (Jawa) bicara
7.      Ngersakne             : (Jawa) menghendaki
8.      Sawung                 : (Jawa) jago, calon, sering dimaknai sebagai laki-aki atau pejantan