Jangan Coba - Coba Copast!!! Hargai hasil karya orang lain.. :-)

Protected by Copyscape Duplicate Content Check

Kamis, 06 Agustus 2015

Star in The Nightmare


Star in The Nightmare

Maggie menonton tv di kamar asramanya dengan malas. Tidak seperti siswi lain yang sedang belajar, dia melihat acara yang sedang di hadiri oleh aktor senior ternama, Charlie Luxton yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Pemuda itu menjadi aktor terkenal sejak masih kecil. Sampai saat ini, dia sudah berkarir selama 18 tahun karena dia mulai merintis karirnya setelah ibunya meninggal pasca melahirkan Maggie, tepatnya ketika dia baru menginjak usia 9 tahun. Sang ayah juga harus berpulang akibat tertembak saat sedang bertugas sebagai pasukan penjaga perbatasan. Sejak saat itu pula Maggie bersekolah di sekolah berasrama dan sangat jarang bertemu dengan kakaknya. Bukannya kesepian, Maggie justru merasa dunianya terlalu ramai karena penggemar dan paparazi kakaknya yang selalu mengganggunya. Hal itu yang menyebabkan Charlie terlalu membatasi pergaulan Maggie setiap waktu. Teman sekamarnya di asrama, Rose datang dengan membawa dua gelas cokelat panas.
“Musim dingin sudah tiba. Minggu ini adalah minggu terakhir kita bertemu sebelum liburan.”
“Bersenang-senanglah. Mungkin aku akan memilih tinggal disini sampai liburan berakhir.”
“Ini Liburan akhir tahun. Bagaimana bisa..”
Belum sampai Rose menyelesaikan pertanyaannya,  handphone Maggie berdering. Ternyata kakaknya menelepon.
“Ya, Kak..”
“Bagaimana kabarmu? Kamu baik saja kan?”
“Sangat baik. Sebentar lagi liburan akhir tahun pelajaran.”
“Aku mengirim pancake kesukaanmu. Disana juga ada sarung tangan dan topi yang kamu bilang keren itu. Kudengar kamu menjadi pelari terbaik lagi tahun ini.”
“Terimakasih.. Liburan kali ini, bisakah kita pergi berlibur bersama?”
“Tentu kamu tahu, aku sedang sibuk dengan bisnis yang baru ku rilis. Aku akan menjemputmu  selasa depan.”
“Baiklah, aku mengerti.” Jawab Maggie dengan nada bergetar
“Apa kamu menangis? Suaramu terdengar aneh..”
“Tidak. Jangan khawatir. Aku hanya sedikit kedinginan.”
“Gunakanlah jaket tebal. Jaga dirimu. Teleponnya akan kututup..”
Maggie meletakkan telepon dengan malas. Rose langsung menimbunnya dengan banyak pertanyaan.
“Apa itu tadi kakakmu? Kapan dia akan berkunjung lagi? Kalian merencanakan liburan?”
“Ya. Belum Rose, lagi-lagi belum.” Jawab Maggie dengan nada bergetar. Rose melihat dia menangis
“Ya, aku mengerti. Kalau kamu mau, kamu bisa pulang bersamaku ke rumahku selama liburan.” Hibur Rose
          Liburan tiba. Semua orang di asrama meninggalkan kamar hari ini. Maggie dan Rose juga bersiap di depan pintu gerbang sekolah menunggu kakak Rose menjemput mereka.
“Bahkan pengacara hebat dan terkenal seperti kakakmu bisa cuti di hari libur..” Kata Maggie dengan tatapan datar
“Dia juga banyak pekerjaan, Maggie. Saat liburan aku sering membantu menyusun petisinya. Dia tetap bekerja meski tinggal dirumah.”
Tak lama kemudian mobil kakak Rose tiba dan membawa mereka berdua ke rumah Rose. Sesampainya disana, Maggie ditanggapi dengan sangat baik oleh tuan dan nyonya Thorburn. Di hari pertama kunjungannya saja Maggie sudah diajari membuat pancake yang sangat enak. Satu pertanyaan yang sempat terbesit di pikiran Maggie, semenjak keluar dari mobil tadi ia tak lagi melihat kakak Rose. Rose mangatakan bahwa kakaknya sedang ada di ruang kerjanya.
          Setelah menghabiskan waktu seminggu di rumah Rose, Maggie merasa seperti memiliki keluarga yang utuh. Dia sangat dekat dengan orangtua dan kakak Rose. Orangtua Rose menilai Maggie sebagai gadis manis yang berkepribadian sangat tangguh dan juga cerdas. Bahkan mereka menyuruh Maggie memanggil mereka Ibu dan Ayah, supaya dia tak harus bermimpi bersama dengan orangtuanya. Peter, Kakak Rose menilai gadis ini lebih dari penilaian orangtuanya. Itu terlihat dari perubahan kebiasaannya. Hampir setiap hari dia pulang kerja lebih cepat dan tak mengerjakan pekerjaannya di ruang kerjanya, melainkan di ruang tamu, dan membiarkan Maggie melihatnya berkerja ataupun bertanya tentang pekerjaannya. Saat sarapan bersama pagi itu Maggie berpamitan kepada Peter karena besok pagi-pagi dia harus kembali ke asrama, kakaknya akan menjemputnya.
“Bukankah pemilihan presiden akan dilaksanakan bulan depan? Kalau kamu dan Rose tak ada kegiatan dan libur, kalian harus pulang. Kita akan menonton pawai kandidat bersama-sama.”
“Baiklah, aku akan sangat senang jika aku bisa kemari lagi..”
“Sepertinya kakak sekarang lebih suka kepada Maggie.. Langsung saja katakan bahwa kakak berharap bisa bertemu lagi dengannya..” Goda Rose membuat semua orang tertawa.
          Esok tiba dan baru saja Maggie meninggalkan rumah keluarga Thorburn. Rose menarik Ibunya ke kamar.
“Ada apa, sayang?”
“Bu, apa Ibu juga merasakan yang aku rasakan?”
“Kamu ini aneh sekali! Apa yang harus Ibu rasakan?”
“Bu, bukankah sudah jelas terlihat kakak menyukai Maggie?”
“Ibu dan Ayah juga menyukainya.. Kamu cemburu?”
“Ah..Ibu! Bukan itu maksudku. Kakak menyukai Maggie sebagai pemuda menyukai gadis, bukan kakak menyukai adik, Bu.. Mereka bahkan baru bertemu beberapa hari yang lalu..”
“Memangnya kenapa? Maggie adalah gadis yang cantik, berkepribadian baik dan sangat menarik. Ayah saja mengatakan pada Ibu bahwa betapa senangnya jika anak itu menjadi menantu di keluarga ini.”
          Maggie sudah sampai di apartement kakaknya. Dia segera menata barangnya di kamar tamu dan membersihkan apartement yang sangat tidak terawat ini.
“Apa yang kakak makan setiap hari?”
“Aku selalu makan diluar. Tenang saja, aku juga makan sayur.”
Setelah selesai bersih-bersih, Maggie duduk di samping kakaknya dan menyandarkan kepalanya di pundak sang kakak sambil menonton televisi.
“Kamu bosan? Ayo kita keluar..”
“Tidak mau, disini saja. Begini saja.”
“Bisakah tidak ke rumah keluarga Thorburn lagi? Kita belum kenal dekat, sebaiknya jaga jarak.” Saran Charlie sambil memeluk Maggie
“Asal seperti ini, aku merasa tak apa-apa. Tapi jadi begitu sulit ketika aku merasa sendiri. Sendiri itu benar-benar memuakkan.”
“Ya, aku mengerti.” Jawab Charlie singkat sambil mempererat pelukannya.
          Sejak saat itu Maggie tak pernah mau lagi berkunjung ke rumah keluarga Thorburn. Rose juga mulai sebal karena kakaknya terus menanyakan Maggie setiap ia pulang ke rumah. Sudah dua minggu ini Peter selalu datang menemui Maggie setiap akhir pekan. Kali ini mereka hanya makan malam bersama dan sepulang dari sana duduk berdua di taman asrama.
“Sebaiknya kamu segera masuk, kamu terlihat masih kedinginan walau sudah memakai jaket setebal itu.”
“Tak apa, aku sudah biasa. Lagi pula aku memang selalu merasa kedinginan, bahkan ketika orang di sekitarku merasa gerah.”
“Apa kamu mempunyai suatu penyakit? Tapi yang kutahu kamu adalah seorang atlet yang menjadi juara bertahan selama karirmu..”
“Ah..tidak juga, aku tak pernah sehebat itu. Aku menjadi pelari karena aku hanya ingin berlari.”
“Kenapa kamu ingin berlari?”
“Ketika aku masih kecil, kakak selalu mengatakan padaku bahwa Ayah dan Ibu sedang pergi ke tempat yang jauh. Jadi kupikir jika aku menjadi pelari tercepat, maka lambat laun aku akan menemui mereka. Aku selalu ingin berlari bahkan ketika aku tahu bahwa tempat yang jauh itu takkan pernah bisa kukunjungi.”
“Maafkan aku.”
“Oh, tak apa-apa. Sungguh. Dan lagi, ketika aku kecil, teman-temanku selalu mencurigaiku sebagai keturunan vampir, karena tubuhku selalu dingin ketika mereka sentuh. Jadi aku membayangkan, jika putri tidur bisa bangun karena ada pangeran yang datang dan menciumnya, maka akupun akan merasa dan terasa hangat saat ada pangeran yang selalu memegang tanganku dan memelukku sampai aku mati. Itu pikiran yang konyol, bukan? Waktu kecil aku memang banyak berhayal. Bagaimana dengan masa kecilmu?”
“Masa kecilku kurang begitu berkesan karena aku selalu belajar dan jarang sekali bermain bersama teman-temanku. Tapi, impianmu sangat indah, sama sekali tidak konyol. Jika begini, apa akan membuatmu merasa hangat? Bisakah aku menjadi pangeran yang ada di impian masa kecilmu?” Tanya Peter sambil berusaha meraih tangan Maggie dan memegangnya. Maggie tak menjawab.
“Aku tak cukup baik untukmu, lagipula aku masih kecil. Aku ini seusia dengan adikmu.”
          Pagi ini semua orang berkunjung ke taman botani untuk melakukan penelitian, sedangkan Maggie tinggal di asrama karena dia sudah melakukan penelitiannya jauh lebih dulu dari teman-temannya dan sudah mengumpulkan laporannya. Karena bosan, akhirnya dia minta izin pada kepala asrama untuk pergi keluar. Setelah mendapat izin, dia pergi ke taman kota dan melukis di sana. Ketika Maggie selesai mewarnai dan baru akan membuka kanvas baru, ada seorang pemuda bertubuh tinggi menghampirinya.
“Lukisanmu bagus, tapi ini bukan tempat yang baik untuk melukis.”
“Siapa kamu? Terserah padaku akan melukis dimana..” Maggie mendongak heran
“Mungkin taman kota lebih baik. Tapi tak apa, aku tidak jadi mengusirmu. Tetap disini dan melukislah sesukamu. Tapi dengan satu syarat, berikan padaku salah satu hasil lukisanmu nanti. Aku akan membelinya dengan harga yang tinggi.”
“Cerewet sekali, kamu pikir kita sedang di laboratorium?”
“Bukan laboratorium. Tepatnya halaman hotel Chandler. Hotel milikku. Kami punya lingkungan yang bagus, bukan? Mungkin kamu terlalu lelah sehingga salah masuk. Kalau kamu keluar dari sini dan menoleh ke kiri, disana ada taman kota. Bukan disini.”
Maggie melihat sekeliling dengan menahan malu karena semua orang disana memperhatikannya.
“Baiklah, kapan dan kemana aku harus mengantar lukisanku?” Tanya Maggie menutupi rasa malunya
“Dilantai paling bawah hotel kami ada restoran. Kamu bisa tunggu disana sampai aku selesai bekerja.”
Maggie meneruskan melukis tanpa memperdulikan orang itu pergi. Begitu dia lelah dan lapar, dia mengemas alat lukisnya dan berjalan menuju restoran hotel Chandler. Ternyata orang itu juga sedang makan siang.
“Boleh aku duduk?” Tanya Maggie yang membuat orang itu mendongak. Tanpa sadar semua orang di sana melihat mereka berdua, mengatai Maggie yang berani bersikap senonformal itu pada pemilik tempat ini.
“Silahkan.”
“Kamu makan sendirian? Katamu kamu adalah pemilik tempat ini, kenapa tidak ada yang menemanimu makan?”
“Ada. Sekarang ini sedang duduk di hadapanku.”
“Aku hanya datang hari ini, Tuan. Aku sudah melukis banyak. Terimakasih karena sudah mengijinkanku melukis di taman hotelmu. Aku akan memberikan padamu dua lukisanku hari ini. Aku tidak perlu uang. Hanya saja, aku tidak membawa uang sepeserpun dan aku sekarang lapar. Jadi biarkan aku makan disini dan tidak membayar.”
“Baiklah. Tapi mari kita lihat, apakah kau benar-benar hanya datang hari ini.”
“Terserah sajalah.. Ngomong-ngomong, kita belum saling mengenal. Perkenalkan, namaku Maggie Luxton. Siapa namamu?”
“Aku sudah tahu itu namamu. Orang memanggilku Brian. Brian Chandler.”
“Sudah tahu manaku? Dari mana?”
“Kamu menuliskannya di sudut kanvasmu. Aku baru melihatnya pagi ini.”
          Mulai saat itu seluruh lukisan yang ada di setiap dinding Hotel Chandler adalah hasil lukisan Maggie. Hari demi hari dilalui Maggie tanpa rasa sepi lagi, karena dia selalu melukis di waktu luang. Semenjak kedekatannya dengan Brian, Charlie, Peter, bahkan Rose selalu mengingatkannya untuk menjauhi Brian Chandler. Mereka bilang orang itu psikopat, kejam, dan hal buruk lainnya. Padahal yang Magie rasakan selama dekat dengannya tidak demikian, Brian adalah orang yang tidak sombong dan mengetahui cara memperlakukan wanita seperti yang Maggie sukai. Terlebih dari itu, Brian selalu membuatnya nyaman dan berhasil mengusir jauh-jauh penyakit kesepiannya. Jadi diam-diam dia tetap dekat dengan Brian dan memberikan lukisannya setiap akhir pekan. Kamis malam setelah belajar, Maggie memilih dua diantara lukisannya dan menyiapkan itu untuk diberikan pada Brian hari Sabtu. Sesekali dia terbatuk. Rose menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabatnya itu.
“Kau sedang tak enak badan tapi memaksakan diri. Apalagi untuk orang gila itu.”
Tiba-tiba Charlie datang dan mengajak Maggie bicara sambil makan malam di luar.
“Kamu masih dekat dengan Brian Chandler?”
“Ada apa lagi ini? Kakak akan menyuruhku menjauh lagi?”
“Dia itu berfikiran gila, Maggie. Karena kebaikanmu, dia akan menyukaimu dengan mudah. Dan ketika dia menginginkan sesuatu, dia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Dan juga, dia pernah menikah sebelumnya. Istrinya terkena gangguan jiwa karena ulahnya. Aku hanya ingin kamu berkenalan dengan orang yang benar. Lagi pula, kelihatannya Peter benar-benar menyayangimu, kan?”
“Bukankah beberapa waktu lalu kakak juga menyuruhku jaga jarak dengan keluarga Thorburn? Pada intinya, kakak melarangku bergaul dengan siapapun. Dan apa yang bisa kulakukan? Bukankah aku hanya akan selalu meuruti perintahmu? Sebenarnya apa arti aku di matamu? Adik atau pesuruhmu?” Tanya Maggie bertubi-tubi sambil menangis kemudian pergi begitu saja dari restoran itu sebelum Charlie sempat menjawab.
Maggie masih menangis sampai dia tiba di asrama. Rose terus berusaha menenangkannya, sampai akhirnya mereka berdua terlelap bersama. Di tengah malam Rose terbangun karena Maggie mengigau dalam tidurnya. Rose terkejut melihat wajah sahabatnya sangat pucat dan mengeluarkan banyak keringat tapi sangat dingin jika disentuh. Rose langsung mengubungi kepala asrama dan membawa Maggie ke rumah sakit bersamanya. Tak lupa Rose juga menghubungi keluarganya dan Peterpun langsung menuju rumah sakit yang Rose maksudkan.
Terang dan ada bau menyengat, itu yang dirasakan Maggie ketika dia pertama membuka mata. Disamping ranjang tempat ia di baringkan ada Rose yang berjaga.
“Sudah bangun? Aku sampai hampir mati panik karenamu.”
“Kita sedang dimana?” Tanya Maggie dengan suara parau
“Rumah Sakit. Oh ya, disini juga ada Peter. Tapi sekarang dia sedang mengurusi administrasi dan melakukan konsultasi dengan dokter. Mungkin dia akan segera datang. Sebentar, akan kucarikan dia untukmu.”
Rose berlari ke meja penerima tamu, tapi Peter tidak ada di sana. Tak lama kemudian Rose melihat kakaknya keluar dari ruang dokter.
“Bagaimana kata dokter?”
“Radang paru.”
Malam itu Peter bermalam di rumah sakit menjaga Maggie sementara Rose kembali ke asrama mengambilkan baju ganti untuk Maggie dan baru akan kembali besok pagi.
          Ini adalah hari ketiga Maggie dirawat di tempat aneh ini. Setiap pagi hingga tengah hari dia selalu sendirian di kamar perawatannya. Pagi ini Maggie mendapatkan pesan singkat dari Brian.
+  Siang ini kamu datang lagi, kan? Aku ingin memperkenalkanmu dengan beberapa orang yang tertarik pada lukisanmu
-          Maaf aku tidak bisa datang hari ini. Aku sedang kurang enak badan. Setelah aku pulang, aku akan menemuimu.
+  Kamu sedang di rumah kakakmu?
-          Aku di rumah sakit.
Maafkan aku, Maggie. Aku harus pergi ke sekolah. Sepulang sekolah aku akan langsung kemari. Kakak juga minta maaf karena tak bisa menemanimu pagi ini, karena dia ada sidang. Tapi dia bilang dia akan datang saat jam makan siang.” Pamit Rose sebelum akhirnya menghilang di balik pintu
Charlie, kakaknya sendiri bahkan belum menjenguknya padahal ini sudah hari ketiga dia dirawat dirumah sakit ini dan keadaannya terus memburuk.
“Apa aku harus terus sendiri begini? Ayah.. Ibu..?” Gumam Maggie sambil menangis di atas ranjangnya. Tak lama kemudian mata sayunya terpejam, tertidur sendiri di tengah kesepiannya.
          Maggie mendengar derap kaki seseorang mendekat, mencoba menggerakkan tubuh kurusnya dan menoleh ke arah pintu sambil berusaha membuka mata lebamnya. Begitu dia menggerakkan tubuhnya, rasanya seperti banyak tombak menusuknya bersamaan. Begitu dingin sehingga dia mengurungkan niatannya. Langkah kaki itu semakin jelas terdengar di telinga Maggie dan sepertinya sekarang sudah ada di dekatnya berbaring. Kembali dia berusaha membuka mata dengan melawan rasa sakit dan dinginnya.
“Aku membuatmu terbangun?” Tanyanya
Maggie melenguh kecil dan menggelengkan kepalanya. Suaranya laki-laki, tapi bukan suara Peter ataupun Charlie. Dia juga terlihat lebih tinggi dan kulitnya sangat putih, tak seperti Charlie ataupun Peter. Maggie merasa mengenal orang ini, dia seperti Brian, orang yang sangat baik padanya tapi sangat dibenci Peter dan Charlie. Matanya mengerjap untuk meyakinkan pendapatnya. Seperti tersengat listrik, Maggie begitu terkejut begitu sebuah tangan besar dan hangat menyentuh wajahnya. Tapi terasa begitu nyaman di tengah badannya yang benar-benar dingin.
“Kenapa setiap aku menemuimu kamu selalu sendiri? Dimana mereka yang terlihat sangat menyayangimu itu? Lihat dirimu, kamu begitu kedinginan dan mereka membiarkanmu disini sendirian..” Kata Brian khawatir
Maggie tak menjawab karena terlalu menikmati kehangatan telapak tangan Brian kemudian menggeliat kecil mendekat ke arah tangan itu. Merasa Maggie nyaman dengan sentuhannya, Brian mencoba memeluk tubuh Maggie yang terbaring lemas disana. Maggie merasa seperti mendapatkan nyawanya yang sedikit demi sedikit seperti menguap setelah tiga hari berbaring disini. Oleh karenanya Maggie tak melakukan penolakan apapun ketika Brian menggendongnya dan membawanya pergi.
          Terang dan hangat, tempat ini jauh lebih baik dari pada rumah sakit yang berbau aneh dan dingin, terlebih dia di sana sendiri. Disini berbeda. Karena Brian bahkan terus di samping ranjang tempatnya dibaringkan dan membelai lembut wajahnya. Maggie membuka matanya dan mencoba tersenyum semanis mungkin untuk orang yang selalu membuatnya merasa nyaman.
“Sudah bangun? Maaf karena sudah membawamu dari rumah sakit. Aku tak tahan melihat keadaanmu yang terus memburuk. Aku takut kamu pergi, Maggie.”
“Hmm..tak apa, aku lebih suka disini. Terimakasih..”
“Aku tak ingin melihatmu menderita.. Orang-orang disekitarmu hanya mementingkan apa yang akan mereka raih.. Mulai sekarang, kamu tak akan pernah sendiri lagi..jadi jangan merasa sedih dan menangis sendiri..menangislah jika kamu sedang bersamaku, supaya aku bisa meringankan bebanmu.”
“Terimakasih...”
“Yang terpenting bagiku adalah kamu, Maggie. Jangan anggap aku seperti orang lain.”
Maggie mengangguk pelan dan kembali tersenyum. Brian memanggil pelayan untuk membawakan bubur untuk Maggie. Setelah buburnya datang, Brian membantu Maggie duduk dan menyuapinya. Tiba-tiba ada orang datang ke rumah ini dengan suara keras dan terdengar seperti sedang marah-marah pada Brian. Maggie terlihat takut dan mencengkeram lengan baju Brian.
“Tak apa-apa. Aku disini.” Kata Brian sebelum keluar dari kamar itu
Ternyata Peter dan Charlie-lah yang datang sambil mengumpat tak karuhan. Mereka ingin mengambil Maggie kembali dan mengancam akan menuntut Brian karena kasus penculikan. Mendengar itu, Maggie berusaha sekuat tenaga untuk bangun dan berjalan keluar padahal tubuhnya masih sangat lemah.
“Kenapa keluar? Istirahat saja di dalam..” Titah Brian. Maggie hanya menjawabnya dengan senyuman
“Lihat, Maggie-pun menginginkan kembali pulang.” Kata Charlie
Peter mencoba memegang tangan Maggie namun ditepis oleh Maggie.
“Aku..aku menunggumu...sampai di hari ketiga.. Aku..aku selalu berharap kakak datang dan memelukku. Aku pikir, jika itu terjadi..aku akan cepat sembuh. Tapi..tubuhku tak bisa bertahan selama itu... Jika Brian tidak datang, aku sudah mati..aku kedinginan sepanjang hari...dan sulit menggerakkan tubuhku..tak ada siapapun yang bisa kupanggil, karena aku... Bernafas saja terasa sangat berat...” Jelas Maggie susah payah sambil menangis. Brian menopangnya dari belakang karena kakinya seperti tak mau menyangga tubuhnya
“Oleh karenanya, ayo kita pulang.. Aku sudah datang..dan cepatlah sembuh..”
“Tidak... Aku.. aku,,akan tetap tinggal.”
Maggie membalik badan dan rebah di pelukan Brian karena terlalu lemas.
“Brian..jangan biarkan..jangan biarkan..aku pergi.” Maggie berusaha membisikkan kalimat terakhirnya sebelum akhirnya dia pingsan.
Mata Maggie terbuka lagi dan dia sudah berbaring di tempat yang berbeda. Di rumah Rose.
“Sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?” Peter bertanya khawatir
“..A...a..ssh..sul..sulit...” Maggie mencoba menjawab dengan terbata. Mulutnya sedikit terbuka untuk mengambil cukup udara. Peter dengan sigap memasangkan oksigen ke saluran pernafasannya.
Di tempat lain, Charlie sedang bingung memikirkan kata dokter barusan, yang mengatakan keadaan Maggie jauh lebih baik setelah “diculik” oleh Brian, itu tandanya Maggie merasa nyaman bersama orang itu. Ditambah dengan dokter yang menyarankan agar mereka berdua sering bertemu karena sudah terbukti dengan cara ini kesehatan Maggie berangsur membaik. Dengan berat hati, untuk pertama kalinya seorang Charlie Luxton menelepon saingan terberatnya.
“Halo. Aku Charlie. Kau bisa datang ke apartemenku untuk menjenguk Maggie besok. Kau bisa datang hanya selama dia sakit saja.”
“Baiklah, sepertinya kau sudah sadar bahwa dialah yang memilihku.”
          Dengan cara ini, Maggie bisa dinyatakan sehat dalam hitungan hari dan tinggal melakukan pemantauan dokter dan obat jalan selama 6 bulan untuk menyembuhkan radangnya. Selama itu pula Maggie dilarang keras melakukan kegiatan olahraga dalam bentuk apapun. Waktunya sepulang sekolah hanya diisi dengan melukis dan melukis. Seiring dengan kedekatannya dengan Brian, Maggie mulai jauh dengan keluarga Thorburn. Belakangan pihak notaris sering datang ke apartement  Charlie untuk membahas tentang harta warisan. Peter juga pernah mengatakan bahwa Brian telah membuat perusahaan Charlie terancam bangkrut. Hari ini, seorang notaris dan pengacara keluarga datang ke apartement Charlie. Ketika Maggie hendak menjamu para tamu itu, tak sengaja dia mendengar perbincangan mereka dengan Charlie.
“Apa sesulit itu?”
“Ini bukan jumlah yang kecil. Seperti yang kita tahu Ibu Maggie sangat kaya. Tapi tidak mudah menguasainya jika posisi kita seperti sekarang ini.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan? Jangan sampai media mengetahui bisnisku runtuh..”
“Nikahilah Maggie. Lagi pula kalian tak ada ikatan darah sama sekali dan kalian selalu bersama sejak dia masih kecil. Kurasa tak sulit mencuri hati gadis kecil itu.”
Tanpa mengeluarkan suara apapun Maggie mengemas barang-barangnya dan pergi ke asrama sekolahnya tanpa sepengetahuan Charlie. Air matanya mengalir deras mengiringi langkahnya menuju halte bus. Sesampainya di asrama dia hanya menangis keras tanpa memperhatikan handphonenya yang  terus berdering dan juga Rose yang terus-terusan menanyainya. Maggie merasa dia benar-benar hampir gila karena kini dia merasa tak ada satupun orang yang benar-benar ada di pihaknya. Semua orang yang ada di sekitarnya tak bisa dia percayai. Hal yang paling memperburuk suasana hatinya adalah dia harus mendengar semua ini di hari menjelang ulangtahun ke 17 yang bersamaan dengan pesta kelulusannya, yang akan di rayakan besok malam di sekolah.
          Hari gila ini berlnagsung dengan cepat dan tiba-tiba Maggie sudah ada di tengah pestanya. Sebisa mungkin Rose mendandaninya dengan baik supaya matanya tak memperlihatkan bahwa dia telah menangis. Begitu melihat Charlie, Maggie terburu-buru menjauh, namun Brian dan Peter menghalangi dua jalan menghindar terbaik yang dimiliki Maggie. Akhirnya Maggie terpaksa mendengar Charlie.
“Kamu sudah dengar.”
“Karena aku memang tidak tuli. Kalian membahasnya dengan sangat jelas. Kurasa kalian lupa kalau aku masih ada di sana.”
“Karena kamu masih kecil, Aku hanya ingin melihatmu disampingku. Sampai sekarang ini. Dan aku ingin begitu juga di masa depan. Aku ingin kamu ada di sampingku di masa depan juga.”
“Apa yang harus kukatakan? Apa aku harus mengatakan ya dan membiarkanmu menikahiku? Baiklah, akan aku lakukan sesuai kemauanmu. Ayo kita menikah dan lakukan apapun semamumu, bukankah itu juga yang selama ini terjadi?” Tanya Maggie
Tiba-tiba Brian datang dari belakang Maggie dengan membawa sebuah syal
“Kelihatannya masalahmu sudah bocor sebelum kalian berhasil menyusun rencana yang matang, Bung. Oh ya, Selamat ulangtahun Maggie. Kau juga berhasil lulus dengan nilai yang tidak mengecewakan. Ini kadomu. Maaf karena aku tak pandai membuat sesuatu yang berkesan. Jika kau menerimanya, kuanggap kau menolak kata-kata yang baru saja kau dengar dari orang selain aku dan kau mau tinggal disisiku. Jangan berpikiran bahwa dengan menikahinya saja maka kehidupan kalian akan menjadi lebih baik. Jadi tentukan sekarang jika tak ingin menyesal.”
Brian menatap Maggie dengan mata tajamnya sedangkan Charlie menatapnya seakan melarang dia menerima syal itu. Maggie tak sedikitpun mengarahkan pandangannya pada Charlie maupun Brian.
“Terimakasih atas kadonya, Brian. Aku menerimanya.”
          Beberapa hari setelah malam itu, pernikahan Brian dan Maggie dilaksanakan tanpa dihadiri satu orangpun dari pihak Maggie. Maggie berubah status tanpa disaksikan oleh keluarga dan kerabatnya. Hanya pesan singkat ucapan selamat dari Rose sahabatnya yang menemaninya naik altar.
          Kehidupan menjadi seorang istri ternyata begitu mengejutkan Maggie. Apalagi menjadi istri seorang psikopat seperti Brian. Begitu banyak aturan yang harus dia taati untuk mencegah sang suami marah. Jangan tanya, akan jadi apa Maggie jika makhluk seperti Brian sudah marah. Setelah Maggie memikirkannya lagi, sebenarnya larangan-larangan itu juga untuk kebaikannya sendiri. Misalnya saja larangan untuk membersihkan rumah dan menjalin hubungan terlalu dekat dengan para pembantu yang bekerja di rumah ini, itu untuk menjaganya jika Brian tak bisa mengawasinya secara langsung. Tidak boleh menemui Peter maupun Charlie, jelas karena Brian tak mau kehilangannya. Dari semua larangan yang ditetapkan padanya, Maggie masih belum paham dengan larangan menanyakan keluarga Brian, terkait dengan kehadiran mereka di pesta pernikahannya. Maggie hanya bertemu dengan keluarga kakak laki-laki Brian. Tak ada Ayah maupun Ibu mertuanya yang dia jumpai. Untuk yang satu ini, Maggie mengambil kesimpulan bahwa mungkin Brian memgalami luka hati yang cukup dalam berkaitan dengan kedua orangtuanya. Kini, usia pernikahan mereka sudah menginjak tahun pertama. Maggie mulai terbiasa dengan sikap Brian yang selalu berubah-ubah. Pada fase ini, Maggie juga mulai mencintai kekurangan dan kelebihan Brian secara tulus tanpa paksaan. Meski belum tentu itu juga yang ada di kepala Brian. Pagi ini, setelah memasak Maggie menyajikannya di meja makan. Brian yang baru turun dari kamar mereka menatapnya tajam.
“Aku menyuruh bibi pergi membeli susu. Aku hanya menyiapkan sarapan. Tak apa, kan?” Tanya Maggie lembut dengan senyuman terbaiknya
“Memang masakanmu yang terbaik, tapi seharusnya bibi mengerjakan pekerjaannya dengan benar..” Jawab Brian sembari duduk kursinya
“Sepertinya aku perlu bersaing dengan bibi untuk memasakkan masakan yang enak untuk suamiku..” Kata Maggie sambil menyusun menu di piring Brian
Maggie menyerahkan tas kerja Brian yang dibawanya begitu mereka sudah tiba di depan pintu.
“Aku akan pergi ke kantor. Oh ya, mungkin aku pulang agak malam, jadi jangan menungguku dan segera tidurlah. Aku akan makan malam di luar.”
“Baiklah, semoga harimu baik.”
Brian masuk ke mobilnya setelah mencium kening Maggie dan menyuruh Maggie masuk. Ritual wajib setiap pagi selama satu tahun ini.
Pagi ini Maggie baru bangun dan ingin menyiapkan sarapan, tapi dia melihat Brian sudah selesai mandi.
“Oh, kamu bangun begitu pagi, sayang.” Sapa Brian
“Maafkan aku. Aku kurang tidur juga menunggumu pulang semalam.” Maggie langsung menuju dapur dan memasak sup iga sapi kesukaan Brian
“Aku suka itu, tapi aku hanya ingin roti... Bisa kamu buatkan untukku?”
“Kamu harus sarapan nasi. Aku sudah melihat jadwalmu hari ini. Kamu akan banyak pekerjaan dan melupakan waktu makanmu.”
“Aku mau roti saja. Kamu akan membuatkannya untukku kan?” Tanya Brian dengan mendekatkan mulutnya di telinga Maggie
“Baiklah, kamu akan sarapan roti pagi ini. Aku akan mengantarkan supnya ke kantor untuk kau makan siang nanti.”
Maggie meninggalkan begitu saja sayuran yang disiapkannya kemudian mulai memanggang roti.
“Sayang, nanti kita harus pergi ke pesta pernikahan Rose Warhington, temanmu. Kamu ingat dia? Pasti kau merindukannya. Undangan baru datang kemarin dan aku tak sempat memberikannya padamu. Hari ini aku akan pulang cepat dan kita harus pergi ke salon untuk mempersiapkan diri.”
“Kami sudah lama tak bertemu. Lagi pula aku malu, karena aku tak datang di pesta pertunangannya.”
Brian memeluknya dari belakang dengan sangat erat hingga timbul lenguhan kecil dari mulut Maggie berkat perutnya yang terasa sakit akibat ‘pelukan’ Brian yang terlalu kuat.
“Ahh..”
“Kita akan pergi. Ok?”
“Ya. Kita akan pergi.” Jawab Maggie sambil membalikkan tubuhnya sehingga suami istri ini berpelukan sambil saling berhadapan.
“...Sayang, bolehkah aku mengatakan sesuatu?” Tanya Maggie sambil menengadah ke Brian, masih dalam pelukannya.
“Baiklah.”
“Bolehkah jika aku memintamu tidak memelukku dengan tenaga sekuat itu?”
“Seperti ini?” Brian malah mempraktekkannya, sukses membuat Maggie kembali kesakitan. Ini mungkin karena luka akibat jatuh dari tangga kemarin belum sembuh 100%
“Ahh... Sayang, aku tak bohong. Ini sakit.”
“Aku memelukmu dengan erat supaya kamu tak pergi dariku.” Brian terus mempererat pelukannya
“Aku ini milikmu dan hanya pergi jika itu adalah bersamamu. Tapi apa kamu suka melihat milikmu ini kesakitan?” Tanya  Maggie dengan wajah menengadah ke arah Brian sambil memasang wajah manja
“Tentu saja tidak. Jadi penting karena untukmu.” Brian kemudian merenggangkan pelukannya.
 Di pesta, Brian menemui rekan-rekan bisnisnya sementara Maggie mengobrol dengan teman-temannya semasa SMA. Di tengah kerumunan, seseorang menariknya ke tempat sepi di  lantai 4 gedung pertemuan ini.
“Charlie..”
Tanpa menjawabnya, Charlie memeluk Maggie erat.
“Tak apa. Kamu tak perlu merasa bersalah karena kamu merasa aku melakukan ini untukmu. Tidak, Charlie. Aku memilih bersama Brian karena aku memang mencintainya.”
“Kudengar dia memperlakukanmu dengan buruk..”
“Tidak..dia sangat mencintaiku. Dia akan membunuh semua orang yang menggangguku. Dia adalah suami yang baik, Charlie.”
Maggie membelalakkan mata dan melepaskan pelukannya begitu melihat Brian datang dari arah belakang Charlie. Tanpa mengatakan apapun Brian menariknya keluar untuk segera pulang.
Masih dengan gaun pestanya, Maggie meringkuk sambil memeluk lutut dan menundukkan kepala di sudut kamarnya, sedangkan suaminya terus membentaknya dan melemparkan barang-barang di kamar itu ke hadapannya hingga semua benda itu pecah memenuhi lantai kamar, khususnya di hadapan Maggie.
“BUKANKAH SUDAH KUBILANG UNTUK TIDAK MENEMUINYA LAGI?????????”
“TIDAK TAHUKAH KAU AKU SANGAT MEMBENCINYA?????”
“JAWAB AKU.....!!!!!!!”
“JIKA KAU TERUS MENCOBA MENEMUINYA, AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHNYA...!!!!!”
“INGAT BAIK-BAIK, AKU AKAN MEMBUNUHNYA.....!!!!!!!!!!”
Maggie tak menjawab sepatahpun. Dia terus menangis dan membiarkan Brian keluar dari kamar mereka masih dengan amarahnya.
Semalam Brian menginap di hotel dan baru pulang setelah selesai bekerja di esok harinya. Dia memasuki rumah dengan senyuman manisnya. Rumah kelihatan bersih sekali hari ini. Kerusuhan yang dia buat semalam sama sekali tak berbekas. Dia senyum-senyum sendiri sambil melihat sebuah tas plastik kecil berisi beberapa benih bunga kesukaan Maggie yang saat ini di bawanya. Dia tahu Maggie akan banyak berkebun ke taman kecilnya di depan rumah ini begitu musim gugur berakhir. Brian mencari istrinya di dapur, tak ada. Dia mencoba ke ruang lukisnya, tak ada. Di ruang tamupun tak ada. Brian mengira kalau istrinya mungkin kelelahan merapikan rumah sendiri, dan mungkin sekarang sedang tidur.
Brian memasuki kamar, kamarnya terlihat sangat bersih dan berbau harum violet kesukaannya. Begitu melihat ke ranjang, matanya menangkap gambar istrinya yang sedang tertidur pulas. Brian meletakkan benih bunganya di meja dan berbaring menghadap Maggie. Begitu dia menyentuh wajah Maggie, wajah itu panas sekali. Seperti merasakan sentuhan Brian, Maggie menggeliat kecil dan membuka matanya perlahan.
“Aku membangunkanmu? Maafkan aku..” Kata Brian
“Tidak. Aku sudah terlalu lama tidur. Kamu baru selesai bekerja? Sudah mandi?”
“Ya. Aku mandi.”
“Baiklah, akan kubuatkan makan malam untukmu. Kamu mau aku membuat apa?” Tanya Maggie sambil berusaha bangkit namun ditahan oleh Brian
“Aku sudah makan. Bagaimana denganmu?”
“Tadi siang Sekretarismu datang membawakan sup iga kesukaanmu, tapi aku menghabiskannya. Tak apa, kan?” Jawab Maggie berusaha tersenyum
“Ya. Maafkan aku, sayang..”
“Apa yang perlu kumaafkan?”
“Semalam. Aku hanya tak mau kamu pergi dariku. Aku hanya ingin kamu tetap disisiku.”
“Oh. Kamu tahu, apapun yang kamu lakukan, rasanya selalu nikmat dan menyenangkan. Karena apa? Karena aku mencintaimu..dan ingin selalu bersamamu.. Jadi jangan pernah berfikiran aku akan pergi..”
“Terimakasih.. Kamu sedang sakit. Jadi istirahatlah. Aku akan memanggil dokter.” Brian mengecup kening Maggie dan memeluknya.
“Seperti ini.. aku ingin seperti ini lebih lama lagi.. Kamu tahu, pelukanmu terasa seperti menyerap semua sakit di tubuhku. Aku tak perlu dokter.”
          Esoknya, saat jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Maggie masih berada di dapur bersama salah seorang pembantunya.
“Ini sudah malam, Nyonya. Sebaiknya anda segera menunggu Tuan di depan atau pergi ke kamar anda dan istirahat. Ini sudah malam, saya takut Tuan akan maraah jika tahu anda ada di sini.” Pinta si pembantu lugu
“Baiklah, Bibi. Aku akan duduk di ruang tengah sambil menunggunya pulang. Bisakah Bibi membuatkan aku segelas teh?”
“Baik, Nyonya.”
Maggie duduk di ruang tengah dan meraih majalah fasion yang belum sempat dibacanya. Beberapa waktu kemudian pembantunya membawakan segelas teh.
“Ini teh-nya, Nyonya. Oh ya, saya hampir melupakan sesuatu. Tadi siang pengantar ada orang yang mengantar koran pesanan Tuan. Ini, Nyonya. Saya takut Tuan menanyakannya nanti.”
“Baiklah..”
Maggie meletakkan majalahnya dan meraih koran itu. Tiba-tiba wajahnya memerah dan tangannya bergetar, disusul butiran air mata yang memburu keluar. Dengan cepat dia menghapus air matanya setelah mendengar suara mobil suaminya memasuki pekarangan rumah mereka. Maggie melempar koran itu ke depan pintu begitu melihat Brian masuk.
“Apa ini??”
Brian mengambil koran itu dan membaca berita di halaman paling depan, berita bahwa pengusaha muda dan sukses Charlie Luxton masuk bui pagi ini.
“Apa urusannya denganku? Dia bukan siapa-siapa..” Jawab Brian tak kalah ketus
“Bukan siapa-siapa?? Tak ada urusannya denganmu?? Kamu lupa, aku menerimamu sebagai suamiku karena kamu berjanji menyelamatkannya.. DENGAN MUDAHNYA KAMU BILANG TAK ADA URUSANNYA DENGANMU???” Maggie berteriak frustasi
“BEGITUKAH?? Jadi selama ini kamu hanya memikirkan orang itu saja? KAU TIDAK PERNAH MENJADI ISTRIKU!!!” Bentak Brian sambil membanting tas kerjanya. Maggie memejamkan matanya terkejut dan membukanya kembali disaat mata sayunya sudah basah.
“Setelah selama ini.. apa kamu tak juga mengerti? Apa menurutmu ada wanita yang bisa bertahan dengan pria sepertimu hanya dengan alasan semacam itu?” Tanya Maggie dengan air mata yang hampir jatuh
“Masuk dan tidurlah,” Jawab Brian dengan nada suara yang sudah menurun
“Masalah kita belum selesai! Bebaskan Charlie!” Tegas Maggie
“KUBILANG MASUK!!!” Bentak Brian
Maggie berlari keatas sambil menangis.
          Setelah selesai mandi, Brian berbaring di samping Maggie yang membelakanginya. Brian menyentuh bahu Maggie untuk memastikan apakah Maggie sudah tertidur. Brian merasakan bahu itu bergetar, dan langsung saja Brian memeluknya dari belakang. Sedangkan Maggie masih terus menangis.
“Maafkan aku...aku sudah berusaha..”
          Maggie baru selesai memasak dan menyajikannya di meja makan, kemudian Brian duduk bersiap makan, kemudian keduanya mulai makan.
“Masakanmu memang yang terbaik, sayang. Aku tak pernah merasakan makanan yang aneh selama kamu yang memasakkannya..”
“Kamu baru sadar bahwa masakan Bibi sangat payah.. Oh ya, siang nanti aku akan pergi ke butik Miss. Mitchel..”
“Apa kamu menginginkan gaun baru?”
“Tidak juga, hanya ingin pergi berkunjung.”
Tidak seperti  izinnya pada Brian, siang ini Maggie pergi ke kuil untuk melihat abu orangtuanya dan baru pulang saat hari sudah sore dan Brian sudah pulang. Maggie membuka pintu rumah dan melangkah gontai dengan mata sembabnya. Jelas dia baru saja selesai menangis dalam waktu yang lama.
“Dari mana saja?”
Maggie tercekat mendengar pertanyaan itu. Diedarkan pandangannya untuk mencari sumber suara. Brian pulang lebih cepat dari biasanya dan kini duduk di sofa ruang tengah.
“Aku kan sudah izin padamu tadi, aku ke butik.”
“Dan baru pulang saat waktu makan malam hampir tiba? Tadi aku datang ke sana karena berniat mengajakmu dan juga Miss. Mitchel pergi makan siang.”
“Maafkan aku..” Maggie tak berani menatap Brian dan hanya menundukkan kepalanya.
“Ke mana saja?” Tanya Brian dingin tanpa menatap Maggie
“Aku...Aku..” Maggie ketakutan dan masih menundukkan kepalanya. Brian kemudian berdiri dan meraih dagu Maggie dan mendongakkannya supaya Maggie melihat matanya.
“Lihat aku. Katakan kemana kamu pergi seharian ini.” Titah Brian tajam
“Maafkan aku..aku..aku pergi ke kuil..” Jawab Maggie terbata-bata dengan mata yang sudah basah.
“Bukankah sudah kubilang jangan pernah datang kesana lagi?”
Maggie tidak menjawab, hanya terus menangis. Brian memeluknya juga membelai puncak kepala Maggie lembut untuk menenangkannya.
“Sudah. Mandilah, lalu kita makan. Bibi sudah memasak untuk kita. Kita bicara lagi nanti. Jangan menangis.”
Begitu selesai makan, Maggie langsung ke kamar dan tidur. Brian baru pergi ke kamar setelah menyelesaikan pekerjaannya. Melihat Maggie tidur dengan mata hampir sebesar bola tenis, Brian berbaring menghadap wanita kurus itu dan membelai kepalanya lembut.
“Kenapa kamu begitu takut padaku? Apa arti aku bagimu hanya sebatas suami yang menakutkan? Aku hanya tidak suka melihatmu menangis dan menangis lagi. Lihat dirimu, kamu selalu menangis dan semakin kurus dari hari ke hari... Seburuk itukah aku bagimu? Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu nyaman bersamaku?” Brian merengkuh Maggie yang tertidur pulas itu dengan air mata yang mengalir deras di kedua pipinya.
          Pagi tiba, untuk pertama kalinya selama mereka menikah, Maggie  bangun terlambat. Begitu membuka mata, dia segera merapikan tempat tidur lalu rambutnya. Kemudian berlari ke dapur dan langsung memasak. Belum selesai memasak, dia kembali berlari ke kamar dan menyiapkan pakaian untuk suaminya. Brian yang baru keluar dari kamar mandi hanya tersenyum melihat istrinya yang begitu repot.
“Turun dan lanjutkan memasak. Aku akan menyiapkannya sendiri.”
“Bajumu sudah siap. Oh ya, maafkan aku karena terlambat bangun di hari yang sangat penting..”
“Tidak juga, aku tidak ada meeting penting hari ini.”
“Kamu melupakan tanggal pernikahan kita? Ini adalah hari ulangtahun pertama pernikahan kita..”
“Tentu saja aku ingat, aku tidak menyangka kamu akan seantusias ini..”
“Bagaimana bisa aku tidak antusias? Tapi maafkan aku karena tidak mempersiapkan apapun.. Aku tidak pandai membuat kejutan.”
“Aku tidak memerlukan itu. Ayo, turun dan siapkan sarapan, aku tidak akan sarapan jika makanannya hangus.” Jawab Brian sambil membalikkan tubuh Maggie dan mendorongnya pelan.
Tak lama kemudian Brian turun dengan penampilan yang sudah rapi sementara makanan juga sudah tersaji. Hari ini Maggie memasak banyak.
“Kenapa harus ada sayuran? Kamu kan tahu aku tidak suka..” Gerutu Brian
“Itu untukku. Sayuran sangat bagus untuk kulit dan kesehatan tubuh. Aku hanya ingin orang memandangku sebagai orang yang memiliki kehidupan yang baik. Setidaknya aku harus terlihat cantik, menarik dan agak berisi, kan?” Jelas Maggie dengan wajah sumringah.
“Kau mengatakan itu seolah-olah kau tidak diberi makan selama ini. Oh ya, hari ini aku pulang cepat. Bersiaplah karena aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”
“Baiklah..”
Benar saja, Brian pulang cepat dan mengajak Maggie pergi. Mobilnya berhenti di sebuah kuil. Tempat yang selama ini sangat diharamkan Brian. Brian menggandeng istrinya itu hingga akhirnya berhenti di depan sebuah lemari abu yang cukup mewah. Di lemari seindah dan semewah itu hanya terdapat dua buah guci antik yang juga terlihat mahal.
“Kenapa kita kemari? Abu siapa yang ada disini?” Tanya Maggie bertubi-tubi
“Hari ini adalah hari peringatan istimewa. Mereka adalah Ayah yang meninggal karena Kakakmu dan Ibu yang pernah mencintai Ayahmu. Mereka adalah orang tuaku, mertuamu, dan nenek-kakek dari anak-anak kita nanti.”
“Apa maksudmu? Aku tidak tahu apa-apa.”
“Perusahaan Ayahku adalah yang terkuat saat itu. Ayah membangun dan mempertahankannya dengan seluruh kemampuannya. Tapi Ayah jadi terganggu karena mengetahui Ibu tidak sepenuhnya mendukungnya. Ayah sakit karena Ibu mempunyai orang lain di hatinya, Ayahmu. Di sisi lain, seorang pengusaha muda pendatang baru dan sangat rakus seperti Kakakmu itu memanfaatkan keadaan Ayah. Dia terus mencoba segala cara untuk menumbangkan Ayah. Kemudian Ayah baru benar-benar jatuh saat Ibu meninggalkannya demi Ayahmu. Kemudian Ayah pergi tak lama kemudian dan meninggalkan perusahaannya yang hampir bangkrut kepadaku yang baru saja mendapatkan akta 1. Aku berhenti kuliah dan mengurusi management perusahaan seorang diri. Di tahun kedua, perusahaanku mulai hidup lagi namun kini aku mengalihkannya ke produk fashion, bukan lagi penggalangan kapal seperti yang Ayahku lakukan selama 25 tahun sebelum itu. Saat itu Ibu pulang dengan pakaian lusuh seperti gelandangan, ternyata Ayahmu membuangnya setelah Ibumu meninggal. Sejak saat itu, aku tak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah, apa yang seharusnya kulakukan dan tidak kulakukan.” Jelas Brian
Maggie hanya menatap lurus sambil mendengar semua penjelasan Brian. Saat Brian berhenti bercerita, barulah Maggie melihat suaminya itu menangis. Maggie baru mengerti mengapa Brian dikenal sebagai anjing gila selama ini. dan juga tahu bahwa anjing gila itu adalah suaminya, yang menyimpan ini sendirian selama bertahun-tahun dan menceritakan hal ini hanya padanya.
“Katamu ini hari peringatannya, kan? Kenapa kamu tidak segera meletakkan bunganya?” Maggie mengambil rangkaian bunga dari tangan Brian dan meletakkannya di depan guci abu orang tua Brian
“Selamat malam Ayah, Ibu. Maafkan saya karena saya baru bisa hadir hari ini. saya akan berusaha menjadi istri yang baik untuk putera anda sekalian. Mohon pengayomannya.” Kata Maggie
Sepulangnya dari kuil, Maggie mengajak Brian unuk makan malam bersama dulu di sebuah restoran Jepang sebelum pulang. Maggie berusaha terlihat bahagia dan makan dengan lahap meski dadanya serasa akan meledak. Sedangkan Brian hanya memainkan supitnya tanpa membiarkan sedikitpun makanan memasuki mulutnya.
“Tidak makan? Makanlah, aku tidak membuat apa-apa untuk makan malam. Jadi makanlah yang banyak. Atau kamu mau kusuapi?”
“Tidak usah. Makanlah sampai benar-benar kenyang, lalu aku akan mengantarmu pulang. Jangan terlalu terburu-buru, apa kamu tidak malu dilihat orang dengan cara makanmu seperti itu?”
“Kenapa aku harus malu? Restoran ini sebentar lagi tutup dan sekarang kitalah satu-satunya pelanggan yang tersisa. Lagi pula aku sudah lama tidak makan Sushi.. dulu aku sering membeli ini bersama Rose di restoran Jepang dekat asrama kami. Oh ya, apa kamu ada acara lain setelah ini, sampai harus tak pulang?”
“Ya. Aku harus mengurus suatu surat bersama pengacara.”
          Sesampainya di rumah, mereka berdua langsung istirahat di kamar. Brian duduk di meja kerjanya sementara Maggie bersiap mandi.
“Apa kamu mau mandi dulu sebelum pergi? Aku akan menyiapkan air hangat..”
“Maggie..”
“Ya?”
“Tetap disini. Aku ingin bicara.”
“Kamu ingin sesuatu?”
“Maafkan aku. Maafkan aku, Maggie. Selama ini aku memenjarakanmu untuk membalas dendam. Aku ingin semua orang terluka seperti aku. Hari ini aku banyak berfikir tentang itu. Kurasa ini tidak adil untuk gadis muda sepertimu.”
“Apa maks...”
“Pergi. Pergilah, Maggie. Mulai sekarang kamu kembali menjadi Maggie yang bebas. Jadilah atlet lari seperti yang kau inginkan. Aku tahu kamu akan bisa melakukannya. Besok surat perceraian akan di kirim ke rumahmu, dan di amplop yang sama ada kartu identitasmu yang baru, aku mencarikan itu supaya kamu bisa masuk ke perguruan tinggi dengan status siswi lulusan SMA. Kamu harus berlatih menggunakan nama barumu, dan lupakan jauh-jauh nama Maggie dan kehidupannya. Dan, anggap saja kau tidak pernah bertemu denganku.” Jelas Brian yang langsung menitikkan air matanya begitu mengucapkan kalimat terakhirnya dengan berat
“Kemana aku harus pergi? Kenapa aku harus pergi? Ya, aku sudah melupakan Maggie. Aku lupa bahwa Maggie adalah seorang gadis yang bermimpi menjadi atlet lari, memiliki keluarga dan kehidupan yang seperti apapun itu. Yang aku ingat adalah Maggie yang beruntung. Maggie yang bertemu lelaki luar biasa yang sudi mengambilnya menjadi istri. Maggie yang mencintai Brian dengan sepenuh hati. Maggie yang...” Maggie tak mampu melanjutkan kata-katanya. Brian langsung menariknya ke dalam dekapan sambil turut menangis
“Kenapa kamu ingin membuangku? Seburuk apakan aku sehingga bisa begitu?” Maggie melanjutkannya sambil terisak.
Satu tahun kemudian..
Setelah menerima telepon dari Peter, Brian meluncurkan mobilnya ke tempat yang disepakati.
“Kamu cepat sekali merespon.” Sapa Peter
“Langsung ke intinya saja.”
“Kamu tahu, kasusmu sudah terkuak. Tak lama lagi kamu akan jadi buronan. Aku tak mau Maggie hidup sengsara bersamamu. Kurasa kamu juga akan berpendapat sama denganku. Jadi serahkan dia kepadaku.”
“Baiklah, tanyakan langsung padanya. Biar Maggie yang menentukan hidupnya sendiri. Dia mencintaiku dan aku mencintainya. Tak ada alasan bagi kami untuk berpisah.”
Brian pulang dengan suasana hati yang carut marut. Dia disambut istrinya yang terlihat sangat senang.
“Ada apa denganmu? Kenapa begitu murung?”
“Aku hanya kelelahan.” Brian menjawab dengan malas dan berniat langsung kekamar. Maggie menguntit di belakangnya
“Ada apa? Kamu belum menyiapkan air hangat? Tak apa-apa, tak perlu setakut itu. Tidurlah duluan. Aku sudah makan diluar.”
Maggie membalikkan tubuh suaminya itu dan memeluknya dengan kepalanya tetap menengadah ke wajah si suami.
“Ada yang ingin kamu katakan?”
“Cium aku.”
“Kenapa kamu jadi begitu manja?”
“Kalau begitu biar aku memberi tahumu ini, setelah itu cium aku sebagai hadiah atas keberhasilanku.”
“Kamu ini terlalu berbelit-belit. Ya, katakan yang kamu sebut sebagai keberhasilan itu..”
“Aku hamil.”
“Apa?”
“Aku hamil. Di dalam perutku ada anak kita. Dan dia sudah berusia dua bulan. Aku benar-benar bodoh, baru menyadarinya. Dokter bahkan juga mengataiku bodoh.”
“Ya Tuhan..” Brian langsung mendapatkan kembali semangatnya dan memeluk erat istrinya. Tak lupa memberikan hadiah istimewanya.
          Sejak mengetahui berita kehamilan Maggie, Rose, suami dan kakaknya sering berkunjung ke rumah. Sejauh ini Brian tidak menunjukkan ketidaksetujuannya, justru terlihat lebih akrab dengan Peter, karena mereka sering mengobrol belakangan ini. suatu pagi, Peter dantang sendiri tidak bersama Rose seperti biasanya dan langsung mengobrol dengan Brian. Maggie pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk mereka. Dia tetap membuat minuman sendiri meski pembantunya terus memohon padanya untuk menghentikan aktivitas seperti ini.
“Kapan kamu akan memberitahunya? Kamu sudah jadi buron. Kamu ini berani sekali.”
“Dia sedang mengandung anak pertama kami. Usia kandungannya kini menginjak bulan ke delapan. Aku sudah konsultasi dengan dokter keluargaku. Dia bilang akan buruk bagi anak kami jika Maggie sampai shock. Beri aku beberapa hari lagi. Aku ingin menghabiskan waktu bersamanya dulu. Aku akan segera menghubungimu. Pada saat itu, kamu bisa menjemputnya.”
Di tengah perbincangan serius antara dua orang itu, Maggie datang membawa 2 cangkir cokelat panas. Maggie menjatuhkannya karena terkejut mendengar perkataan Brian.
“Tidak. Aku tak akan pergi.”
“Maggie...” Brian terlihat sangat terkejut
“Sayang, suruh dia pergi. Aku tak mau pergi kemana-mana.”
“Peter, kamu pulanglah dulu.” Kata Brian dan Peter pun segera meninggalkan rumah itu.
Brian menoleh, melihat Maggie dengan perut besarnya terlihat kesulitan duduk. Brian membantunya. Maggie memeluknya erat sambil menangis.
“Jangan usir aku..kumohon..jangan buang aku...bawa aku kemanapun kamu akan pergi...”
“Tidak, sayang. Kamu harus selamatkan anak kita. Kamu bilang menurutmu dia laki-laki, kan? Dia akan menjadi anak yang berani dan pintar, yang dapat menjagamu dengan baik. Selama kamu menunggunya, Peter akan menjaga kalian.”
Pagi ini seperti biasa, Maggie meminum susu untuk janinnya. Brian terlihat sedang menunggu sesuatu sambil berdiri di dinding kaca rumah mereka, terus melihat keluar.
“Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan? Jangan bilang...” Tanya Maggie
Brian hanya menjawab pertanyaan istrinya dengan kecupan dahi dan memeluknya.
“Sayang, ini adalah hari terakhirku bersama kalian.. Siang nanti Peter akan datang untuk menjemputmu dan menangkapku. Tapi tak apa, jangan sedih.”
Brian tak mendengar jawaban. Dia mendongakkan wajah Maggie dan melihat mata indah istrinya penuh dengan air.
“Hei, jangan menangis, Nyonya.. Anak kita akan merasa tak nyaman..”
Peter dan rombongannya sudah tiba di rumah. Maggie segera berlindung di belakang punggung Brian. Beberapa dari orang-orang itu membujuk Maggie agar mau pergi bersamanya. Maggie bersikeras tak mau ikut dan terus mempererat penangannya pada tangan Brian. Tapi Brian justru melepaskannya perlahan dan memeluk Maggie tanpa perpisahannya.
“Jaga dirimu, sayang.. Kamu harus menjadi Ibu yang tangguh untuk anak kita. Jika dia laki-laki, aku mau kau memanggilnya Matthew. Dan jika perempuan, aku akan memanggilnya Marry.”
“Dimana.. dimana kamu akan ditahan?”
“Aku tak tahu. Aku mencintaimu.. Maggie..aku mencintaimu..” Kata Brian kemudian mencium kening istrinya
“Apa.. kita akan bertemu lagi..?”
“Ya...kita akan bertemu lagi...kita akan bertemu lagi... Sekarang pergilah, aku akan baik-baik saja.. jaga dirimu dan anak kita..aku mencintaimu, sayang.” Kali ini air mata mengalir deras di kedua pipi kurus Brian
Peter mulai meraih tangan Maggie untuk menjauh dari Brian dan beberapa orang yang lain.
          20 tahun kemudian...
          Hari ini Brian mengakhiri masa kurungannya. Dia terlihat berjalan menyusuri trotoar yang ramai dengan pandangan kosong. Sekarang semuanya dimulai dari nol. Karena kelelahan berjalan, Brian duduk di depan sebuah pusat perbelanjaan. Disana banyak orang yang sedang mengantri. Entah untuk apa. Tiba-tiba seorang satpam mendekatinya.
“Pak, anda ingin mendaftar menjadi pekerja Pack dan Antar partai besar juga? Segeralah masuk antrian, mereka hanya akan menerima 20 orang sementara pengantri semakin bertambah. Mereka juga melakukan beberapa tes. Jadi masih ada harapan untuk anda, tapi ada baiknya anda segera masuk ke antrian.”
Tanpa pikir panjang Brian langsung masuk ke antrian panjang itu.
          Beberapa hari kemudian Brian mulai bekerja setelah menginap di jalan dan sempat mandi di toilet umum. Sebelum mulai kerja, mandornya menyuruhnya mandi di salah satu kamarmandi pekerja dan memberinya beberapa seragam. Suatu keuntungan yang besar bagi Brian, karena mulai malam ini dia harus tidur disini menemani penjaga gudang. Setelah rapi, Brian melakukan pekerjaan pertamanya, mengepak banyak sekali alat olahraga. Brian menengadahkan kepalanya ketika teman-temannya berkata si pelanggan sedang berjalan kemari, menunjukkan alamat tujuan barang-barang ini. Ternyata sebuah keluarga.
“Paman, tolong antarkan semua ke alamat ini, Ayah kami sudah membayarnya di kasir.” Kata seorang pemuda tinggi usia sekitar 20 tahunan sambil menyerahkan secarik kertas kepada mandor kemudian pergi.
“Hei,, Chandler!! Kau antar ini!!! Panggil pegawai transport dan katakan bahwa aku yang menyuruhmu.” Teriak mandor dari kejauhan
“Baik Bos! Kami baru saja selesai mengemasnya.”
Brian kemudian menuju Alamat yang dimaksud. Setelah sampai, dengan perlahan Brian mengetuk pintu rumah mewah itu, dan nampaklah seorang gadis cantik dan tinggi semampai membukakan pintu.
“Kami dari ZA Mall. Pesan antar.”
“Baiklah, kupanggilkan Ayahku. Tunggu sebentar.”
Tak lama kemudian muncul pria paruh baya yang sempat membuat Brian tertegun begitu melihatnya. Peter.
“Apa kalian dari ZA Mall? Silahkan masuk, aku tunjukkan dimana kalian harus meletakkan barang-barang itu.”
Brian masih tertegun karena begitu terkejut. Tapi nampaknya Peter tidak mengenalinya.
“Apa ada yang ingin anda katakan? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya Peter
“Ah, tidak. Maafkan saya.”
          Brian memasuki rumah itu dan melihat pemuda yang tadi menyerahkan alamat sedang duduk di salah satu sofa dengan banyak buku pelajaran tentang hukum berserakan di ruangan itu sambil membaca buku. Seorang lainnya adalah gadis yang tadi membuka pintu, sedang mengotak-atik laptopnya sambil duduk di bawah pemuda tadi.
“Matthew, bukankah ini terlalu dramatis? Tidakkan ini terlalu dibuat-buat?” Tanya si gadis. Brian menelan ludah mendengar sebutan yang diberikan gadis itu kepada si pemuda.
“Dalam persidangan, kemanangan bukanlah hal yang selayaknya dimiliki pihak yang benar, tetapi pihak yang tepat dan sesuai dengan hukum. Tak ada yang tahu apa hukum itu adil atau tidak, yang pasti kita hanya perlu membuat petisi. Percaya aja, dengan presentasi kasus ini, kita akan melewati tes semester ini dengan sangat mudah. Marry yang baik hati, jangan gunakan perasaanmu saat bersidang. Ok??”
“Lihat, kamu mengatakannya seolah-olah kamu makan kabel setiap hari dan akhirnya menjadi robot pintar yang akan menjadi jaksa..”
Tak lama kemudian, muncul wanita lain yang nampaknya Ibu mereka, dengan membawa minuman untuk mereka. Brian merasa dadanya akan meledak. Itu Maggie. Namun dia masih meneruskan menata alat-alat itu di bagian belakang ruangan keluarga ini.
“Sudah. Istirahatlah dari belajar kalian dan makan. Ini sudah jam berapa?” Kata si Ibu sambil meletakkan empat minuman dan beberapa kaleng kue kering.
“Ibu ini, kenapa Ibu yang selalu membawakan kami minuman? Untuk apa pembantu dibayar setiap bulan jika Ibu terus melakukan pekerjaan ini?” Tanya si pemuda dengan nada marah
“Bibi punya banyak pekerjaan lain, lagi pula apa salahnya menyiapkan minuman untuk anak sendiri?”
“Wahwah...Ibu, aku heran dengan Matthew ini.. kenapa ada manusia sejenis ini? Sialnya, kenapa dia harus lahir bersama denganku?”
“Kalian ini, selalu meributkan tentang kelahiran. Jika kalian tidak mau lahir bersama, ada yang ingin Ayah kembalikan ke perut Ibu?” Tanya Peter yang membuat mereka semua tertawa
“Tuan, kami sudah selesai menata semuanya. Kami mohon diri.” Brian pamit sambil menundukkan kepalanya menahan rasa campur aduk di dadanya.
“Tunggu..” Panggil Marry, puteri di rumah ini.
“Ada apa, Nona?”
“Paman pasti lelah. Tunggu sebentar, aku akan memberikan Paman-paman semua sesuatu yang manis..”
“Terimakasih, Nona. Tapi kami harus segera kembali.”
“Tidak. Diam disana.”
Kemudian Marry datang dengan membawa kantong plastik besar.
“Disini ada beberapa botol jus dan ada juga kue buatanku. Panam-paman semua bisa memakan ini di perjalanan atau di rumah nanti.”
“Terimakasih banyak, Nona.”
“Sama-sama, Paman. Kalian kira-kira seusia dengan Ayah. Saat Ayah ulang tahun aku memberikan kue dan jus seperti ini padanya dan ia suka sekali. Jadi kurasa kalian juga akan menyukainya.”
Kemudian Brian dan teman-temannya kembali ke ZA Mall.


TheEnd


Tidak ada komentar:

Posting Komentar