Star in The
Nightmare
Maggie menonton tv di kamar
asramanya dengan malas. Tidak seperti siswi lain yang sedang belajar, dia
melihat acara yang sedang di hadiri oleh aktor senior ternama, Charlie Luxton
yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Pemuda itu menjadi aktor terkenal sejak
masih kecil. Sampai saat ini, dia sudah berkarir selama 18 tahun karena dia
mulai merintis karirnya setelah ibunya meninggal pasca melahirkan Maggie,
tepatnya ketika dia baru menginjak usia 9 tahun. Sang ayah juga harus berpulang
akibat tertembak saat sedang bertugas sebagai pasukan penjaga perbatasan. Sejak
saat itu pula Maggie bersekolah di sekolah berasrama dan sangat jarang bertemu
dengan kakaknya. Bukannya kesepian, Maggie justru merasa dunianya terlalu ramai
karena penggemar dan paparazi kakaknya yang selalu mengganggunya. Hal itu yang
menyebabkan Charlie terlalu membatasi pergaulan Maggie setiap waktu. Teman
sekamarnya di asrama, Rose datang dengan membawa dua gelas cokelat panas.
“Musim dingin sudah tiba. Minggu ini
adalah minggu terakhir kita bertemu sebelum liburan.”
“Bersenang-senanglah. Mungkin aku
akan memilih tinggal disini sampai liburan berakhir.”
“Ini Liburan akhir tahun. Bagaimana
bisa..”
Belum sampai Rose menyelesaikan
pertanyaannya, handphone Maggie
berdering. Ternyata kakaknya menelepon.
“Ya, Kak..”
“Bagaimana kabarmu? Kamu baik saja
kan?”
“Sangat baik. Sebentar lagi liburan
akhir tahun pelajaran.”
“Aku mengirim pancake kesukaanmu.
Disana juga ada sarung tangan dan topi yang kamu bilang keren itu. Kudengar kamu
menjadi pelari terbaik lagi tahun ini.”
“Terimakasih.. Liburan kali ini,
bisakah kita pergi berlibur bersama?”
“Tentu kamu tahu, aku sedang sibuk
dengan bisnis yang baru ku rilis. Aku akan menjemputmu selasa depan.”
“Baiklah, aku mengerti.” Jawab Maggie
dengan nada bergetar
“Apa kamu menangis? Suaramu terdengar
aneh..”
“Tidak. Jangan khawatir. Aku hanya
sedikit kedinginan.”
“Gunakanlah jaket tebal. Jaga dirimu.
Teleponnya akan kututup..”
Maggie meletakkan telepon dengan
malas. Rose langsung menimbunnya dengan banyak pertanyaan.
“Apa itu tadi kakakmu? Kapan dia akan
berkunjung lagi? Kalian merencanakan liburan?”
“Ya. Belum Rose, lagi-lagi belum.”
Jawab Maggie dengan nada bergetar. Rose melihat dia menangis
“Ya, aku mengerti. Kalau kamu mau,
kamu bisa pulang bersamaku ke rumahku selama liburan.” Hibur Rose
Liburan
tiba. Semua orang di asrama meninggalkan kamar hari ini. Maggie dan Rose juga
bersiap di depan pintu gerbang sekolah menunggu kakak Rose menjemput mereka.
“Bahkan pengacara hebat dan terkenal
seperti kakakmu bisa cuti di hari libur..” Kata Maggie dengan tatapan datar
“Dia juga banyak pekerjaan, Maggie.
Saat liburan aku sering membantu menyusun petisinya. Dia tetap bekerja meski
tinggal dirumah.”
Tak lama kemudian mobil kakak Rose
tiba dan membawa mereka berdua ke rumah Rose. Sesampainya disana, Maggie
ditanggapi dengan sangat baik oleh tuan dan nyonya Thorburn. Di hari pertama
kunjungannya saja Maggie sudah diajari membuat pancake yang sangat enak. Satu
pertanyaan yang sempat terbesit di pikiran Maggie, semenjak keluar dari mobil tadi
ia tak lagi melihat kakak Rose. Rose mangatakan bahwa kakaknya sedang ada di
ruang kerjanya.
Setelah
menghabiskan waktu seminggu di rumah Rose, Maggie merasa seperti memiliki
keluarga yang utuh. Dia sangat dekat dengan orangtua dan kakak Rose. Orangtua
Rose menilai Maggie sebagai gadis manis yang berkepribadian sangat tangguh dan
juga cerdas. Bahkan mereka menyuruh Maggie memanggil mereka Ibu dan Ayah,
supaya dia tak harus bermimpi bersama dengan orangtuanya. Peter, Kakak Rose
menilai gadis ini lebih dari penilaian orangtuanya. Itu terlihat dari perubahan
kebiasaannya. Hampir setiap hari dia pulang kerja lebih cepat dan tak
mengerjakan pekerjaannya di ruang kerjanya, melainkan di ruang tamu, dan
membiarkan Maggie melihatnya berkerja ataupun bertanya tentang pekerjaannya. Saat
sarapan bersama pagi itu Maggie berpamitan kepada Peter karena besok pagi-pagi
dia harus kembali ke asrama, kakaknya akan menjemputnya.
“Bukankah pemilihan presiden akan
dilaksanakan bulan depan? Kalau kamu dan Rose tak ada kegiatan dan libur,
kalian harus pulang. Kita akan menonton pawai kandidat bersama-sama.”
“Baiklah, aku akan sangat senang jika
aku bisa kemari lagi..”
“Sepertinya kakak sekarang lebih suka
kepada Maggie.. Langsung saja katakan bahwa kakak berharap bisa bertemu lagi
dengannya..” Goda Rose membuat semua orang tertawa.
Esok
tiba dan baru saja Maggie meninggalkan rumah keluarga Thorburn. Rose menarik
Ibunya ke kamar.
“Ada apa, sayang?”
“Bu, apa Ibu juga merasakan yang aku
rasakan?”
“Kamu ini aneh sekali! Apa yang harus
Ibu rasakan?”
“Bu, bukankah sudah jelas terlihat
kakak menyukai Maggie?”
“Ibu dan Ayah juga menyukainya.. Kamu
cemburu?”
“Ah..Ibu! Bukan itu maksudku. Kakak
menyukai Maggie sebagai pemuda menyukai gadis, bukan kakak menyukai adik, Bu..
Mereka bahkan baru bertemu beberapa hari yang lalu..”
“Memangnya kenapa? Maggie adalah
gadis yang cantik, berkepribadian baik dan sangat menarik. Ayah saja mengatakan
pada Ibu bahwa betapa senangnya jika anak itu menjadi menantu di keluarga ini.”
Maggie
sudah sampai di apartement kakaknya. Dia segera menata barangnya di kamar tamu
dan membersihkan apartement yang sangat tidak terawat ini.
“Apa yang kakak makan setiap hari?”
“Aku selalu makan diluar. Tenang
saja, aku juga makan sayur.”
Setelah selesai bersih-bersih, Maggie
duduk di samping kakaknya dan menyandarkan kepalanya di pundak sang kakak
sambil menonton televisi.
“Kamu bosan? Ayo kita keluar..”
“Tidak mau, disini saja. Begini
saja.”
“Bisakah tidak ke rumah keluarga
Thorburn lagi? Kita belum kenal dekat, sebaiknya jaga jarak.” Saran Charlie
sambil memeluk Maggie
“Asal seperti ini, aku merasa tak
apa-apa. Tapi jadi begitu sulit ketika aku merasa sendiri. Sendiri itu
benar-benar memuakkan.”
“Ya, aku mengerti.” Jawab Charlie
singkat sambil mempererat pelukannya.
Sejak
saat itu Maggie tak pernah mau lagi berkunjung ke rumah keluarga Thorburn. Rose
juga mulai sebal karena kakaknya terus menanyakan Maggie setiap ia pulang ke
rumah. Sudah dua minggu ini Peter selalu datang menemui Maggie setiap akhir
pekan. Kali ini mereka hanya makan malam bersama dan sepulang dari sana duduk
berdua di taman asrama.
“Sebaiknya kamu segera masuk, kamu
terlihat masih kedinginan walau sudah memakai jaket setebal itu.”
“Tak apa, aku sudah biasa. Lagi pula
aku memang selalu merasa kedinginan, bahkan ketika orang di sekitarku merasa
gerah.”
“Apa kamu mempunyai suatu penyakit?
Tapi yang kutahu kamu adalah seorang atlet yang menjadi juara bertahan selama
karirmu..”
“Ah..tidak juga, aku tak pernah
sehebat itu. Aku menjadi pelari karena aku hanya ingin berlari.”
“Kenapa kamu ingin berlari?”
“Ketika aku masih kecil, kakak selalu
mengatakan padaku bahwa Ayah dan Ibu sedang pergi ke tempat yang jauh. Jadi
kupikir jika aku menjadi pelari tercepat, maka lambat laun aku akan menemui
mereka. Aku selalu ingin berlari bahkan ketika aku tahu bahwa tempat yang jauh
itu takkan pernah bisa kukunjungi.”
“Maafkan aku.”
“Oh, tak apa-apa. Sungguh. Dan lagi,
ketika aku kecil, teman-temanku selalu mencurigaiku sebagai keturunan vampir,
karena tubuhku selalu dingin ketika mereka sentuh. Jadi aku membayangkan, jika
putri tidur bisa bangun karena ada pangeran yang datang dan menciumnya, maka
akupun akan merasa dan terasa hangat saat ada pangeran yang selalu memegang
tanganku dan memelukku sampai aku mati. Itu pikiran yang konyol, bukan? Waktu
kecil aku memang banyak berhayal. Bagaimana dengan masa kecilmu?”
“Masa kecilku kurang begitu berkesan
karena aku selalu belajar dan jarang sekali bermain bersama teman-temanku.
Tapi, impianmu sangat indah, sama sekali tidak konyol. Jika begini, apa akan
membuatmu merasa hangat? Bisakah aku menjadi pangeran yang ada di impian masa
kecilmu?” Tanya Peter sambil berusaha meraih tangan Maggie dan memegangnya. Maggie
tak menjawab.
“Aku tak cukup baik untukmu, lagipula
aku masih kecil. Aku ini seusia dengan adikmu.”
Pagi
ini semua orang berkunjung ke taman botani untuk melakukan penelitian,
sedangkan Maggie tinggal di asrama karena dia sudah melakukan penelitiannya
jauh lebih dulu dari teman-temannya dan sudah mengumpulkan laporannya. Karena
bosan, akhirnya dia minta izin pada kepala asrama untuk pergi keluar. Setelah
mendapat izin, dia pergi ke taman kota dan melukis di sana. Ketika Maggie
selesai mewarnai dan baru akan membuka kanvas baru, ada seorang pemuda bertubuh
tinggi menghampirinya.
“Lukisanmu bagus, tapi ini bukan
tempat yang baik untuk melukis.”
“Siapa kamu? Terserah padaku akan
melukis dimana..” Maggie mendongak heran
“Mungkin taman kota lebih baik. Tapi
tak apa, aku tidak jadi mengusirmu. Tetap disini dan melukislah sesukamu. Tapi
dengan satu syarat, berikan padaku salah satu hasil lukisanmu nanti. Aku akan
membelinya dengan harga yang tinggi.”
“Cerewet sekali, kamu pikir kita
sedang di laboratorium?”
“Bukan laboratorium. Tepatnya halaman
hotel Chandler. Hotel milikku. Kami punya lingkungan yang bagus, bukan? Mungkin
kamu terlalu lelah sehingga salah masuk. Kalau kamu keluar dari sini dan
menoleh ke kiri, disana ada taman kota. Bukan disini.”
Maggie melihat sekeliling dengan
menahan malu karena semua orang disana memperhatikannya.
“Baiklah, kapan dan kemana aku harus
mengantar lukisanku?” Tanya Maggie menutupi rasa malunya
“Dilantai paling bawah hotel kami ada
restoran. Kamu bisa tunggu disana sampai aku selesai bekerja.”
Maggie meneruskan melukis tanpa
memperdulikan orang itu pergi. Begitu dia lelah dan lapar, dia mengemas alat
lukisnya dan berjalan menuju restoran hotel Chandler. Ternyata orang itu juga
sedang makan siang.
“Boleh aku duduk?” Tanya Maggie yang
membuat orang itu mendongak. Tanpa sadar semua orang di sana melihat mereka
berdua, mengatai Maggie yang berani bersikap senonformal itu pada pemilik
tempat ini.
“Silahkan.”
“Kamu makan sendirian? Katamu kamu
adalah pemilik tempat ini, kenapa tidak ada yang menemanimu makan?”
“Ada. Sekarang ini sedang duduk di
hadapanku.”
“Aku hanya datang hari ini, Tuan. Aku
sudah melukis banyak. Terimakasih karena sudah mengijinkanku melukis di taman
hotelmu. Aku akan memberikan padamu dua lukisanku hari ini. Aku tidak perlu
uang. Hanya saja, aku tidak membawa uang sepeserpun dan aku sekarang lapar.
Jadi biarkan aku makan disini dan tidak membayar.”
“Baiklah. Tapi mari kita lihat,
apakah kau benar-benar hanya datang hari ini.”
“Terserah sajalah.. Ngomong-ngomong,
kita belum saling mengenal. Perkenalkan, namaku Maggie Luxton. Siapa namamu?”
“Aku sudah tahu itu namamu. Orang
memanggilku Brian. Brian Chandler.”
“Sudah tahu manaku? Dari mana?”
“Kamu menuliskannya di sudut
kanvasmu. Aku baru melihatnya pagi ini.”
Mulai
saat itu seluruh lukisan yang ada di setiap dinding Hotel Chandler adalah hasil
lukisan Maggie. Hari demi hari dilalui Maggie tanpa rasa sepi lagi, karena dia
selalu melukis di waktu luang. Semenjak kedekatannya dengan Brian, Charlie,
Peter, bahkan Rose selalu mengingatkannya untuk menjauhi Brian Chandler. Mereka
bilang orang itu psikopat, kejam, dan hal buruk lainnya. Padahal yang Magie
rasakan selama dekat dengannya tidak demikian, Brian adalah orang yang tidak
sombong dan mengetahui cara memperlakukan wanita seperti yang Maggie sukai.
Terlebih dari itu, Brian selalu membuatnya nyaman dan berhasil mengusir
jauh-jauh penyakit kesepiannya. Jadi diam-diam dia tetap dekat dengan Brian dan
memberikan lukisannya setiap akhir pekan. Kamis malam setelah belajar, Maggie
memilih dua diantara lukisannya dan menyiapkan itu untuk diberikan pada Brian
hari Sabtu. Sesekali dia terbatuk. Rose menggeleng-gelengkan kepala melihat
sahabatnya itu.
“Kau sedang tak enak badan tapi
memaksakan diri. Apalagi untuk orang gila itu.”
Tiba-tiba Charlie datang dan mengajak
Maggie bicara sambil makan malam di luar.
“Kamu masih dekat dengan Brian Chandler?”
“Ada apa lagi ini? Kakak akan
menyuruhku menjauh lagi?”
“Dia itu berfikiran gila, Maggie.
Karena kebaikanmu, dia akan menyukaimu dengan mudah. Dan ketika dia
menginginkan sesuatu, dia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Dan juga,
dia pernah menikah sebelumnya. Istrinya terkena gangguan jiwa karena ulahnya.
Aku hanya ingin kamu berkenalan dengan orang yang benar. Lagi pula, kelihatannya
Peter benar-benar menyayangimu, kan?”
“Bukankah beberapa waktu lalu kakak
juga menyuruhku jaga jarak dengan keluarga Thorburn? Pada intinya, kakak
melarangku bergaul dengan siapapun. Dan apa yang bisa kulakukan? Bukankah aku
hanya akan selalu meuruti perintahmu? Sebenarnya apa arti aku di matamu? Adik
atau pesuruhmu?” Tanya Maggie bertubi-tubi sambil menangis kemudian pergi
begitu saja dari restoran itu sebelum Charlie sempat menjawab.
Maggie masih menangis sampai dia tiba
di asrama. Rose terus berusaha menenangkannya, sampai akhirnya mereka berdua
terlelap bersama. Di tengah malam Rose terbangun karena Maggie mengigau dalam
tidurnya. Rose terkejut melihat wajah sahabatnya sangat pucat dan mengeluarkan
banyak keringat tapi sangat dingin jika disentuh. Rose langsung mengubungi
kepala asrama dan membawa Maggie ke rumah sakit bersamanya. Tak lupa Rose juga
menghubungi keluarganya dan Peterpun langsung menuju rumah sakit yang Rose
maksudkan.
Terang dan ada bau menyengat, itu
yang dirasakan Maggie ketika dia pertama membuka mata. Disamping ranjang tempat
ia di baringkan ada Rose yang berjaga.
“Sudah bangun? Aku sampai hampir mati
panik karenamu.”
“Kita sedang dimana?” Tanya Maggie
dengan suara parau
“Rumah Sakit. Oh ya, disini juga ada
Peter. Tapi sekarang dia sedang mengurusi administrasi dan melakukan konsultasi
dengan dokter. Mungkin dia akan segera datang. Sebentar, akan kucarikan dia
untukmu.”
Rose berlari ke meja penerima tamu,
tapi Peter tidak ada di sana. Tak lama kemudian Rose melihat kakaknya keluar
dari ruang dokter.
“Bagaimana kata dokter?”
“Radang paru.”
Malam itu Peter bermalam di rumah
sakit menjaga Maggie sementara Rose kembali ke asrama mengambilkan baju ganti
untuk Maggie dan baru akan kembali besok pagi.
Ini
adalah hari ketiga Maggie dirawat di tempat aneh ini. Setiap pagi hingga tengah
hari dia selalu sendirian di kamar perawatannya. Pagi ini Maggie mendapatkan
pesan singkat dari Brian.
+ Siang ini kamu datang lagi, kan? Aku ingin
memperkenalkanmu dengan beberapa orang yang tertarik pada lukisanmu
-
Maaf aku tidak bisa datang hari ini.
Aku sedang kurang enak badan. Setelah aku pulang, aku akan menemuimu.
+ Kamu sedang di rumah kakakmu?
-
Aku di rumah sakit.
“Maafkan aku, Maggie. Aku harus pergi
ke sekolah. Sepulang sekolah aku akan langsung kemari. Kakak juga minta maaf
karena tak bisa menemanimu pagi ini, karena dia ada sidang. Tapi dia bilang dia
akan datang saat jam makan siang.” Pamit Rose sebelum akhirnya menghilang di
balik pintu
Charlie,
kakaknya sendiri bahkan belum menjenguknya padahal ini sudah hari ketiga dia
dirawat dirumah sakit ini dan keadaannya terus memburuk.
“Apa
aku harus terus sendiri begini? Ayah.. Ibu..?” Gumam Maggie sambil menangis di
atas ranjangnya. Tak lama kemudian mata sayunya terpejam, tertidur sendiri di
tengah kesepiannya.
Maggie mendengar derap kaki seseorang
mendekat, mencoba menggerakkan tubuh kurusnya dan menoleh ke arah pintu sambil
berusaha membuka mata lebamnya. Begitu dia menggerakkan tubuhnya, rasanya
seperti banyak tombak menusuknya bersamaan. Begitu dingin sehingga dia
mengurungkan niatannya. Langkah kaki itu semakin jelas terdengar di telinga
Maggie dan sepertinya sekarang sudah ada di dekatnya berbaring. Kembali dia
berusaha membuka mata dengan melawan rasa sakit dan dinginnya.
“Aku
membuatmu terbangun?” Tanyanya
Maggie
melenguh kecil dan menggelengkan kepalanya. Suaranya laki-laki, tapi bukan
suara Peter ataupun Charlie. Dia juga terlihat lebih tinggi dan kulitnya sangat
putih, tak seperti Charlie ataupun Peter. Maggie merasa mengenal orang ini, dia
seperti Brian, orang yang sangat baik padanya tapi sangat dibenci Peter dan
Charlie. Matanya mengerjap untuk meyakinkan pendapatnya. Seperti tersengat
listrik, Maggie begitu terkejut begitu sebuah tangan besar dan hangat menyentuh
wajahnya. Tapi terasa begitu nyaman di tengah badannya yang benar-benar dingin.
“Kenapa
setiap aku menemuimu kamu selalu sendiri? Dimana mereka yang terlihat sangat
menyayangimu itu? Lihat dirimu, kamu begitu kedinginan dan mereka membiarkanmu
disini sendirian..” Kata Brian khawatir
Maggie tak menjawab karena terlalu
menikmati kehangatan telapak tangan Brian kemudian menggeliat kecil mendekat ke
arah tangan itu. Merasa Maggie nyaman dengan sentuhannya, Brian mencoba memeluk
tubuh Maggie yang terbaring lemas disana. Maggie merasa seperti mendapatkan
nyawanya yang sedikit demi sedikit seperti menguap setelah tiga hari berbaring
disini. Oleh karenanya Maggie tak melakukan penolakan apapun ketika Brian
menggendongnya dan membawanya pergi.
Terang dan hangat, tempat ini jauh
lebih baik dari pada rumah sakit yang berbau aneh dan dingin, terlebih dia di
sana sendiri. Disini berbeda. Karena Brian bahkan terus di samping ranjang
tempatnya dibaringkan dan membelai lembut wajahnya. Maggie membuka matanya dan
mencoba tersenyum semanis mungkin untuk orang yang selalu membuatnya merasa
nyaman.
“Sudah
bangun? Maaf karena sudah membawamu dari rumah sakit. Aku tak tahan melihat
keadaanmu yang terus memburuk. Aku takut kamu pergi, Maggie.”
“Hmm..tak
apa, aku lebih suka disini. Terimakasih..”
“Aku
tak ingin melihatmu menderita.. Orang-orang disekitarmu hanya mementingkan apa
yang akan mereka raih.. Mulai sekarang, kamu tak akan pernah sendiri lagi..jadi
jangan merasa sedih dan menangis sendiri..menangislah jika kamu sedang
bersamaku, supaya aku bisa meringankan bebanmu.”
“Terimakasih...”
“Yang
terpenting bagiku adalah kamu, Maggie. Jangan anggap aku seperti orang lain.”
Maggie
mengangguk pelan dan kembali tersenyum. Brian memanggil pelayan untuk
membawakan bubur untuk Maggie. Setelah buburnya datang, Brian membantu Maggie
duduk dan menyuapinya. Tiba-tiba ada orang datang ke rumah ini dengan suara
keras dan terdengar seperti sedang marah-marah pada Brian. Maggie terlihat
takut dan mencengkeram lengan baju Brian.
“Tak
apa-apa. Aku disini.” Kata Brian sebelum keluar dari kamar itu
Ternyata
Peter dan Charlie-lah yang datang sambil mengumpat tak karuhan. Mereka ingin
mengambil Maggie kembali dan mengancam akan menuntut Brian karena kasus
penculikan. Mendengar itu, Maggie berusaha sekuat tenaga untuk bangun dan
berjalan keluar padahal tubuhnya masih sangat lemah.
“Kenapa
keluar? Istirahat saja di dalam..” Titah Brian. Maggie hanya menjawabnya dengan
senyuman
“Lihat,
Maggie-pun menginginkan kembali pulang.” Kata Charlie
Peter
mencoba memegang tangan Maggie namun ditepis oleh Maggie.
“Aku..aku
menunggumu...sampai di hari ketiga.. Aku..aku selalu berharap kakak datang dan
memelukku. Aku pikir, jika itu terjadi..aku akan cepat sembuh. Tapi..tubuhku
tak bisa bertahan selama itu... Jika Brian tidak datang, aku sudah mati..aku
kedinginan sepanjang hari...dan sulit menggerakkan tubuhku..tak ada siapapun
yang bisa kupanggil, karena aku... Bernafas saja terasa sangat berat...” Jelas
Maggie susah payah sambil menangis. Brian menopangnya dari belakang karena
kakinya seperti tak mau menyangga tubuhnya
“Oleh
karenanya, ayo kita pulang.. Aku sudah datang..dan cepatlah sembuh..”
“Tidak...
Aku.. aku,,akan tetap tinggal.”
Maggie
membalik badan dan rebah di pelukan Brian karena terlalu lemas.
“Brian..jangan
biarkan..jangan biarkan..aku pergi.” Maggie berusaha membisikkan kalimat
terakhirnya sebelum akhirnya dia pingsan.
Mata
Maggie terbuka lagi dan dia sudah berbaring di tempat yang berbeda. Di rumah
Rose.
“Sudah
bangun? Bagaimana keadaanmu?” Peter bertanya khawatir
“..A...a..ssh..sul..sulit...”
Maggie mencoba menjawab dengan terbata. Mulutnya sedikit terbuka untuk
mengambil cukup udara. Peter dengan sigap memasangkan oksigen ke saluran pernafasannya.
Di
tempat lain, Charlie sedang bingung memikirkan kata dokter barusan, yang mengatakan
keadaan Maggie jauh lebih baik setelah “diculik” oleh Brian, itu tandanya
Maggie merasa nyaman bersama orang itu. Ditambah dengan dokter yang menyarankan
agar mereka berdua sering bertemu karena sudah terbukti dengan cara ini
kesehatan Maggie berangsur membaik. Dengan berat hati, untuk pertama kalinya
seorang Charlie Luxton menelepon saingan terberatnya.
“Halo.
Aku Charlie. Kau bisa datang ke apartemenku untuk menjenguk Maggie besok. Kau
bisa datang hanya selama dia sakit saja.”
“Baiklah,
sepertinya kau sudah sadar bahwa dialah yang memilihku.”
Dengan cara ini, Maggie bisa
dinyatakan sehat dalam hitungan hari dan tinggal melakukan pemantauan dokter
dan obat jalan selama 6 bulan untuk menyembuhkan radangnya. Selama itu pula
Maggie dilarang keras melakukan kegiatan olahraga dalam bentuk apapun. Waktunya
sepulang sekolah hanya diisi dengan melukis dan melukis. Seiring dengan
kedekatannya dengan Brian, Maggie mulai jauh dengan keluarga Thorburn.
Belakangan pihak notaris sering datang ke apartement Charlie untuk membahas tentang harta warisan.
Peter juga pernah mengatakan bahwa Brian telah membuat perusahaan Charlie
terancam bangkrut. Hari ini, seorang notaris dan pengacara keluarga datang ke
apartement Charlie. Ketika Maggie hendak menjamu para tamu itu, tak sengaja dia
mendengar perbincangan mereka dengan Charlie.
“Apa
sesulit itu?”
“Ini
bukan jumlah yang kecil. Seperti yang kita tahu Ibu Maggie sangat kaya. Tapi
tidak mudah menguasainya jika posisi kita seperti sekarang ini.”
“Lalu
apa yang harus aku lakukan? Jangan sampai media mengetahui bisnisku runtuh..”
“Nikahilah
Maggie. Lagi pula kalian tak ada ikatan darah sama sekali dan kalian selalu
bersama sejak dia masih kecil. Kurasa tak sulit mencuri hati gadis kecil itu.”
Tanpa
mengeluarkan suara apapun Maggie mengemas barang-barangnya dan pergi ke asrama
sekolahnya tanpa sepengetahuan Charlie. Air matanya mengalir deras mengiringi
langkahnya menuju halte bus. Sesampainya di asrama dia hanya menangis keras
tanpa memperhatikan handphonenya yang
terus berdering dan juga Rose yang terus-terusan menanyainya. Maggie
merasa dia benar-benar hampir gila karena kini dia merasa tak ada satupun orang
yang benar-benar ada di pihaknya. Semua orang yang ada di sekitarnya tak bisa
dia percayai. Hal yang paling memperburuk suasana hatinya adalah dia harus
mendengar semua ini di hari menjelang ulangtahun ke 17 yang bersamaan dengan
pesta kelulusannya, yang akan di rayakan besok malam di sekolah.
Hari gila ini berlnagsung dengan cepat
dan tiba-tiba Maggie sudah ada di tengah pestanya. Sebisa mungkin Rose
mendandaninya dengan baik supaya matanya tak memperlihatkan bahwa dia telah
menangis. Begitu melihat Charlie, Maggie terburu-buru menjauh, namun Brian dan
Peter menghalangi dua jalan menghindar terbaik yang dimiliki Maggie. Akhirnya
Maggie terpaksa mendengar Charlie.
“Kamu
sudah dengar.”
“Karena
aku memang tidak tuli. Kalian membahasnya dengan sangat jelas. Kurasa kalian
lupa kalau aku masih ada di sana.”
“Karena kamu
masih kecil, Aku hanya ingin melihatmu disampingku. Sampai sekarang ini. Dan
aku ingin begitu juga di masa depan. Aku ingin kamu ada di sampingku di masa
depan juga.”
“Apa yang
harus kukatakan? Apa aku harus mengatakan ya dan membiarkanmu menikahiku?
Baiklah, akan aku lakukan sesuai kemauanmu. Ayo kita menikah dan lakukan apapun
semamumu, bukankah itu juga yang selama ini terjadi?” Tanya Maggie
Tiba-tiba
Brian datang dari belakang Maggie dengan membawa sebuah syal
“Kelihatannya
masalahmu sudah bocor sebelum kalian berhasil menyusun rencana yang matang,
Bung. Oh ya, Selamat ulangtahun Maggie. Kau juga berhasil lulus dengan nilai
yang tidak mengecewakan. Ini kadomu. Maaf karena aku tak pandai membuat sesuatu
yang berkesan. Jika kau menerimanya, kuanggap kau menolak kata-kata yang baru
saja kau dengar dari orang selain aku dan kau mau tinggal disisiku. Jangan berpikiran
bahwa dengan menikahinya saja maka kehidupan kalian akan menjadi lebih baik.
Jadi tentukan sekarang jika tak ingin menyesal.”
Brian menatap
Maggie dengan mata tajamnya sedangkan Charlie menatapnya seakan melarang dia
menerima syal itu. Maggie tak sedikitpun mengarahkan pandangannya pada Charlie
maupun Brian.
“Terimakasih
atas kadonya, Brian. Aku menerimanya.”
Beberapa hari setelah malam itu,
pernikahan Brian dan Maggie dilaksanakan tanpa dihadiri satu orangpun dari
pihak Maggie. Maggie berubah status tanpa disaksikan oleh keluarga dan
kerabatnya. Hanya pesan singkat ucapan selamat dari Rose sahabatnya yang
menemaninya naik altar.
Kehidupan menjadi seorang istri
ternyata begitu mengejutkan Maggie. Apalagi menjadi istri seorang psikopat
seperti Brian. Begitu banyak aturan yang harus dia taati untuk mencegah sang
suami marah. Jangan tanya, akan jadi apa Maggie jika makhluk seperti Brian
sudah marah. Setelah Maggie memikirkannya lagi, sebenarnya larangan-larangan
itu juga untuk kebaikannya sendiri. Misalnya saja larangan untuk membersihkan
rumah dan menjalin hubungan terlalu dekat dengan para pembantu yang bekerja di
rumah ini, itu untuk menjaganya jika Brian tak bisa mengawasinya secara
langsung. Tidak boleh menemui Peter maupun Charlie, jelas karena Brian tak mau
kehilangannya. Dari semua larangan yang ditetapkan padanya, Maggie masih belum
paham dengan larangan menanyakan keluarga Brian, terkait dengan kehadiran
mereka di pesta pernikahannya. Maggie hanya bertemu dengan keluarga kakak
laki-laki Brian. Tak ada Ayah maupun Ibu mertuanya yang dia jumpai. Untuk yang
satu ini, Maggie mengambil kesimpulan bahwa mungkin Brian memgalami luka hati
yang cukup dalam berkaitan dengan kedua orangtuanya. Kini, usia pernikahan mereka
sudah menginjak tahun pertama. Maggie mulai terbiasa dengan sikap Brian yang
selalu berubah-ubah. Pada fase ini, Maggie juga mulai mencintai kekurangan dan
kelebihan Brian secara tulus tanpa paksaan. Meski belum tentu itu juga yang ada
di kepala Brian. Pagi ini, setelah memasak Maggie menyajikannya di meja makan.
Brian yang baru turun dari kamar mereka menatapnya tajam.
“Aku menyuruh
bibi pergi membeli susu. Aku hanya menyiapkan sarapan. Tak apa, kan?” Tanya
Maggie lembut dengan senyuman terbaiknya
“Memang
masakanmu yang terbaik, tapi seharusnya bibi mengerjakan pekerjaannya dengan
benar..” Jawab Brian sembari duduk kursinya
“Sepertinya
aku perlu bersaing dengan bibi untuk memasakkan masakan yang enak untuk
suamiku..” Kata Maggie sambil menyusun menu di piring Brian
Maggie
menyerahkan tas kerja Brian yang dibawanya begitu mereka sudah tiba di depan
pintu.
“Aku akan
pergi ke kantor. Oh ya, mungkin aku pulang agak malam, jadi jangan menungguku
dan segera tidurlah. Aku akan makan malam di luar.”
“Baiklah,
semoga harimu baik.”
Brian masuk
ke mobilnya setelah mencium kening Maggie dan menyuruh Maggie masuk. Ritual
wajib setiap pagi selama satu tahun ini.
Pagi ini Maggie baru bangun dan ingin menyiapkan
sarapan, tapi dia melihat Brian sudah selesai mandi.
“Oh,
kamu bangun begitu pagi, sayang.” Sapa Brian
“Maafkan
aku. Aku kurang tidur juga menunggumu pulang semalam.” Maggie langsung menuju
dapur dan memasak sup iga sapi kesukaan Brian
“Aku
suka itu, tapi aku hanya ingin roti... Bisa kamu buatkan untukku?”
“Kamu
harus sarapan nasi. Aku sudah melihat jadwalmu hari ini. Kamu akan banyak
pekerjaan dan melupakan waktu makanmu.”
“Aku
mau roti saja. Kamu akan membuatkannya untukku kan?” Tanya Brian dengan
mendekatkan mulutnya di telinga Maggie
“Baiklah,
kamu akan sarapan roti pagi ini. Aku akan mengantarkan supnya ke kantor untuk
kau makan siang nanti.”
Maggie
meninggalkan begitu saja sayuran yang disiapkannya kemudian mulai memanggang
roti.
“Sayang,
nanti kita harus pergi ke pesta pernikahan Rose Warhington, temanmu. Kamu ingat
dia? Pasti kau merindukannya. Undangan baru datang kemarin dan aku tak sempat
memberikannya padamu. Hari ini aku akan pulang cepat dan kita harus pergi ke
salon untuk mempersiapkan diri.”
“Kami
sudah lama tak bertemu. Lagi pula aku malu, karena aku tak datang di pesta
pertunangannya.”
Brian
memeluknya dari belakang dengan sangat erat hingga timbul lenguhan kecil dari
mulut Maggie berkat perutnya yang terasa sakit akibat ‘pelukan’ Brian yang
terlalu kuat.
“Ahh..”
“Kita
akan pergi. Ok?”
“Ya.
Kita akan pergi.” Jawab Maggie sambil membalikkan tubuhnya sehingga suami istri
ini berpelukan sambil saling berhadapan.
“...Sayang,
bolehkah aku mengatakan sesuatu?” Tanya Maggie sambil menengadah ke Brian,
masih dalam pelukannya.
“Baiklah.”
“Bolehkah
jika aku memintamu tidak memelukku dengan tenaga sekuat itu?”
“Seperti
ini?” Brian malah mempraktekkannya, sukses membuat Maggie kembali kesakitan.
Ini mungkin karena luka akibat jatuh dari tangga kemarin belum sembuh 100%
“Ahh...
Sayang, aku tak bohong. Ini sakit.”
“Aku
memelukmu dengan erat supaya kamu tak pergi dariku.” Brian terus mempererat
pelukannya
“Aku
ini milikmu dan hanya pergi jika itu adalah bersamamu. Tapi apa kamu suka
melihat milikmu ini kesakitan?” Tanya
Maggie dengan wajah menengadah ke arah Brian sambil memasang wajah manja
“Tentu
saja tidak. Jadi penting karena untukmu.” Brian kemudian merenggangkan
pelukannya.
Di
pesta, Brian menemui rekan-rekan bisnisnya sementara Maggie mengobrol dengan
teman-temannya semasa SMA. Di tengah kerumunan, seseorang menariknya ke tempat
sepi di lantai 4 gedung pertemuan ini.
“Charlie..”
Tanpa
menjawabnya, Charlie memeluk Maggie erat.
“Tak
apa. Kamu tak perlu merasa bersalah karena kamu merasa aku melakukan ini
untukmu. Tidak, Charlie. Aku memilih bersama Brian karena aku memang
mencintainya.”
“Kudengar
dia memperlakukanmu dengan buruk..”
“Tidak..dia
sangat mencintaiku. Dia akan membunuh semua orang yang menggangguku. Dia adalah
suami yang baik, Charlie.”
Maggie
membelalakkan mata dan melepaskan pelukannya begitu melihat Brian datang dari
arah belakang Charlie. Tanpa mengatakan apapun Brian menariknya keluar untuk
segera pulang.
Masih dengan gaun pestanya, Maggie meringkuk
sambil memeluk lutut dan menundukkan kepala di sudut kamarnya, sedangkan
suaminya terus membentaknya dan melemparkan barang-barang di kamar itu ke
hadapannya hingga semua benda itu pecah memenuhi lantai kamar, khususnya di
hadapan Maggie.
“BUKANKAH
SUDAH KUBILANG UNTUK TIDAK MENEMUINYA LAGI?????????”
“TIDAK
TAHUKAH KAU AKU SANGAT MEMBENCINYA?????”
“JAWAB
AKU.....!!!!!!!”
“JIKA
KAU TERUS MENCOBA MENEMUINYA, AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHNYA...!!!!!”
“INGAT
BAIK-BAIK, AKU AKAN MEMBUNUHNYA.....!!!!!!!!!!”
Maggie
tak menjawab sepatahpun. Dia terus menangis dan membiarkan Brian keluar dari
kamar mereka masih dengan amarahnya.
Semalam Brian menginap di hotel dan baru pulang
setelah selesai bekerja di esok harinya. Dia memasuki rumah dengan senyuman
manisnya. Rumah kelihatan bersih sekali hari ini. Kerusuhan yang dia buat
semalam sama sekali tak berbekas. Dia senyum-senyum sendiri sambil melihat
sebuah tas plastik kecil berisi beberapa benih bunga kesukaan Maggie yang saat
ini di bawanya. Dia tahu Maggie akan banyak berkebun ke taman kecilnya di depan
rumah ini begitu musim gugur berakhir. Brian mencari istrinya di dapur, tak
ada. Dia mencoba ke ruang lukisnya, tak ada. Di ruang tamupun tak ada. Brian
mengira kalau istrinya mungkin kelelahan merapikan rumah sendiri, dan mungkin
sekarang sedang tidur.
Brian
memasuki kamar, kamarnya terlihat sangat bersih dan berbau harum violet
kesukaannya. Begitu melihat ke ranjang, matanya menangkap gambar istrinya yang
sedang tertidur pulas. Brian meletakkan benih bunganya di meja dan berbaring
menghadap Maggie. Begitu dia menyentuh wajah Maggie, wajah itu panas sekali. Seperti
merasakan sentuhan Brian, Maggie menggeliat kecil dan membuka matanya perlahan.
“Aku
membangunkanmu? Maafkan aku..” Kata Brian
“Tidak.
Aku sudah terlalu lama tidur. Kamu baru selesai bekerja? Sudah mandi?”
“Ya.
Aku mandi.”
“Baiklah,
akan kubuatkan makan malam untukmu. Kamu mau aku membuat apa?” Tanya Maggie
sambil berusaha bangkit namun ditahan oleh Brian
“Aku
sudah makan. Bagaimana denganmu?”
“Tadi
siang Sekretarismu datang membawakan sup iga kesukaanmu, tapi aku
menghabiskannya. Tak apa, kan?” Jawab Maggie berusaha tersenyum
“Ya.
Maafkan aku, sayang..”
“Apa
yang perlu kumaafkan?”
“Semalam.
Aku hanya tak mau kamu pergi dariku. Aku hanya ingin kamu tetap disisiku.”
“Oh.
Kamu tahu, apapun yang kamu lakukan, rasanya selalu nikmat dan menyenangkan.
Karena apa? Karena aku mencintaimu..dan ingin selalu bersamamu.. Jadi jangan
pernah berfikiran aku akan pergi..”
“Terimakasih..
Kamu sedang sakit. Jadi istirahatlah. Aku akan memanggil dokter.” Brian
mengecup kening Maggie dan memeluknya.
“Seperti
ini.. aku ingin seperti ini lebih lama lagi.. Kamu tahu, pelukanmu terasa
seperti menyerap semua sakit di tubuhku. Aku tak perlu dokter.”
Esoknya, saat jam dinding menunjukkan
pukul sepuluh malam. Maggie masih berada di dapur bersama salah seorang
pembantunya.
“Ini sudah
malam, Nyonya. Sebaiknya anda segera menunggu Tuan di depan atau pergi ke kamar
anda dan istirahat. Ini sudah malam, saya takut Tuan akan maraah jika tahu anda
ada di sini.” Pinta si pembantu lugu
“Baiklah,
Bibi. Aku akan duduk di ruang tengah sambil menunggunya pulang. Bisakah Bibi
membuatkan aku segelas teh?”
“Baik,
Nyonya.”
Maggie duduk
di ruang tengah dan meraih majalah fasion yang belum sempat dibacanya. Beberapa
waktu kemudian pembantunya membawakan segelas teh.
“Ini teh-nya,
Nyonya. Oh ya, saya hampir melupakan sesuatu. Tadi siang pengantar ada orang
yang mengantar koran pesanan Tuan. Ini, Nyonya. Saya takut Tuan menanyakannya
nanti.”
“Baiklah..”
Maggie
meletakkan majalahnya dan meraih koran itu. Tiba-tiba wajahnya memerah dan
tangannya bergetar, disusul butiran air mata yang memburu keluar. Dengan cepat
dia menghapus air matanya setelah mendengar suara mobil suaminya memasuki
pekarangan rumah mereka. Maggie melempar koran itu ke depan pintu begitu
melihat Brian masuk.
“Apa ini??”
Brian
mengambil koran itu dan membaca berita di halaman paling depan, berita bahwa
pengusaha muda dan sukses Charlie Luxton masuk bui pagi ini.
“Apa
urusannya denganku? Dia bukan siapa-siapa..” Jawab Brian tak kalah ketus
“Bukan
siapa-siapa?? Tak ada urusannya denganmu?? Kamu lupa, aku menerimamu sebagai
suamiku karena kamu berjanji menyelamatkannya.. DENGAN MUDAHNYA KAMU BILANG TAK
ADA URUSANNYA DENGANMU???” Maggie berteriak frustasi
“BEGITUKAH??
Jadi selama ini kamu hanya memikirkan orang itu saja? KAU TIDAK PERNAH MENJADI
ISTRIKU!!!” Bentak Brian sambil membanting tas kerjanya. Maggie memejamkan
matanya terkejut dan membukanya kembali disaat mata sayunya sudah basah.
“Setelah
selama ini.. apa kamu tak juga mengerti? Apa menurutmu ada wanita yang bisa
bertahan dengan pria sepertimu hanya dengan alasan semacam itu?” Tanya Maggie
dengan air mata yang hampir jatuh
“Masuk dan
tidurlah,” Jawab Brian dengan nada suara yang sudah menurun
“Masalah kita
belum selesai! Bebaskan Charlie!” Tegas Maggie
“KUBILANG
MASUK!!!” Bentak Brian
Maggie
berlari keatas sambil menangis.
Setelah selesai mandi, Brian berbaring
di samping Maggie yang membelakanginya. Brian menyentuh bahu Maggie untuk
memastikan apakah Maggie sudah tertidur. Brian merasakan bahu itu bergetar, dan
langsung saja Brian memeluknya dari belakang. Sedangkan Maggie masih terus
menangis.
“Maafkan
aku...aku sudah berusaha..”
Maggie baru selesai memasak dan
menyajikannya di meja makan, kemudian Brian duduk bersiap makan, kemudian
keduanya mulai makan.
“Masakanmu
memang yang terbaik, sayang. Aku tak pernah merasakan makanan yang aneh selama
kamu yang memasakkannya..”
“Kamu baru
sadar bahwa masakan Bibi sangat payah.. Oh ya, siang nanti aku akan pergi ke
butik Miss. Mitchel..”
“Apa kamu
menginginkan gaun baru?”
“Tidak juga,
hanya ingin pergi berkunjung.”
Tidak
seperti izinnya pada Brian, siang ini
Maggie pergi ke kuil untuk melihat abu orangtuanya dan baru pulang saat hari
sudah sore dan Brian sudah pulang. Maggie membuka pintu rumah dan melangkah
gontai dengan mata sembabnya. Jelas dia baru saja selesai menangis dalam waktu
yang lama.
“Dari mana
saja?”
Maggie
tercekat mendengar pertanyaan itu. Diedarkan pandangannya untuk mencari sumber
suara. Brian pulang lebih cepat dari biasanya dan kini duduk di sofa ruang
tengah.
“Aku kan sudah
izin padamu tadi, aku ke butik.”
“Dan baru
pulang saat waktu makan malam hampir tiba? Tadi aku datang ke sana karena berniat
mengajakmu dan juga Miss. Mitchel pergi makan siang.”
“Maafkan
aku..” Maggie tak berani menatap Brian dan hanya menundukkan kepalanya.
“Ke mana
saja?” Tanya Brian dingin tanpa menatap Maggie
“Aku...Aku..”
Maggie ketakutan dan masih menundukkan kepalanya. Brian kemudian berdiri dan
meraih dagu Maggie dan mendongakkannya supaya Maggie melihat matanya.
“Lihat aku.
Katakan kemana kamu pergi seharian ini.” Titah Brian tajam
“Maafkan
aku..aku..aku pergi ke kuil..” Jawab Maggie terbata-bata dengan mata yang sudah
basah.
“Bukankah
sudah kubilang jangan pernah datang kesana lagi?”
Maggie tidak
menjawab, hanya terus menangis. Brian memeluknya juga membelai puncak kepala
Maggie lembut untuk menenangkannya.
“Sudah.
Mandilah, lalu kita makan. Bibi sudah memasak untuk kita. Kita bicara lagi
nanti. Jangan menangis.”
Begitu
selesai makan, Maggie langsung ke kamar dan tidur. Brian baru pergi ke kamar
setelah menyelesaikan pekerjaannya. Melihat Maggie tidur dengan mata hampir
sebesar bola tenis, Brian berbaring menghadap wanita kurus itu dan membelai
kepalanya lembut.
“Kenapa kamu
begitu takut padaku? Apa arti aku bagimu hanya sebatas suami yang menakutkan?
Aku hanya tidak suka melihatmu menangis dan menangis lagi. Lihat dirimu, kamu
selalu menangis dan semakin kurus dari hari ke hari... Seburuk itukah aku
bagimu? Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu nyaman bersamaku?” Brian
merengkuh Maggie yang tertidur pulas itu dengan air mata yang mengalir deras di
kedua pipinya.
Pagi tiba, untuk pertama kalinya
selama mereka menikah, Maggie bangun
terlambat. Begitu membuka mata, dia segera merapikan tempat tidur lalu
rambutnya. Kemudian berlari ke dapur dan langsung memasak. Belum selesai
memasak, dia kembali berlari ke kamar dan menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Brian yang baru keluar dari kamar mandi hanya tersenyum melihat istrinya yang
begitu repot.
“Turun dan
lanjutkan memasak. Aku akan menyiapkannya sendiri.”
“Bajumu sudah
siap. Oh ya, maafkan aku karena terlambat bangun di hari yang sangat penting..”
“Tidak juga,
aku tidak ada meeting penting hari ini.”
“Kamu
melupakan tanggal pernikahan kita? Ini adalah hari ulangtahun pertama
pernikahan kita..”
“Tentu saja
aku ingat, aku tidak menyangka kamu akan seantusias ini..”
“Bagaimana
bisa aku tidak antusias? Tapi maafkan aku karena tidak mempersiapkan apapun..
Aku tidak pandai membuat kejutan.”
“Aku tidak
memerlukan itu. Ayo, turun dan siapkan sarapan, aku tidak akan sarapan jika
makanannya hangus.” Jawab Brian sambil membalikkan tubuh Maggie dan
mendorongnya pelan.
Tak lama
kemudian Brian turun dengan penampilan yang sudah rapi sementara makanan juga
sudah tersaji. Hari ini Maggie memasak banyak.
“Kenapa harus
ada sayuran? Kamu kan tahu aku tidak suka..” Gerutu Brian
“Itu untukku.
Sayuran sangat bagus untuk kulit dan kesehatan tubuh. Aku hanya ingin orang
memandangku sebagai orang yang memiliki kehidupan yang baik. Setidaknya aku
harus terlihat cantik, menarik dan agak berisi, kan?” Jelas Maggie dengan wajah
sumringah.
“Kau
mengatakan itu seolah-olah kau tidak diberi makan selama ini. Oh ya, hari ini
aku pulang cepat. Bersiaplah karena aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”
“Baiklah..”
Benar saja,
Brian pulang cepat dan mengajak Maggie pergi. Mobilnya berhenti di sebuah kuil.
Tempat yang selama ini sangat diharamkan Brian. Brian menggandeng istrinya itu
hingga akhirnya berhenti di depan sebuah lemari abu yang cukup mewah. Di lemari
seindah dan semewah itu hanya terdapat dua buah guci antik yang juga terlihat
mahal.
“Kenapa kita
kemari? Abu siapa yang ada disini?” Tanya Maggie bertubi-tubi
“Hari ini
adalah hari peringatan istimewa. Mereka adalah Ayah yang meninggal karena
Kakakmu dan Ibu yang pernah mencintai Ayahmu. Mereka adalah orang tuaku,
mertuamu, dan nenek-kakek dari anak-anak kita nanti.”
“Apa
maksudmu? Aku tidak tahu apa-apa.”
“Perusahaan
Ayahku adalah yang terkuat saat itu. Ayah membangun dan mempertahankannya
dengan seluruh kemampuannya. Tapi Ayah jadi terganggu karena mengetahui Ibu
tidak sepenuhnya mendukungnya. Ayah sakit karena Ibu mempunyai orang lain di
hatinya, Ayahmu. Di sisi lain, seorang pengusaha muda pendatang baru dan sangat
rakus seperti Kakakmu itu memanfaatkan keadaan Ayah. Dia terus mencoba segala
cara untuk menumbangkan Ayah. Kemudian Ayah baru benar-benar jatuh saat Ibu
meninggalkannya demi Ayahmu. Kemudian Ayah pergi tak lama kemudian dan
meninggalkan perusahaannya yang hampir bangkrut kepadaku yang baru saja
mendapatkan akta 1. Aku berhenti kuliah dan mengurusi management perusahaan
seorang diri. Di tahun kedua, perusahaanku mulai hidup lagi namun kini aku
mengalihkannya ke produk fashion, bukan lagi penggalangan kapal seperti yang
Ayahku lakukan selama 25 tahun sebelum itu. Saat itu Ibu pulang dengan pakaian
lusuh seperti gelandangan, ternyata Ayahmu membuangnya setelah Ibumu meninggal.
Sejak saat itu, aku tak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah, apa yang
seharusnya kulakukan dan tidak kulakukan.” Jelas Brian
Maggie hanya
menatap lurus sambil mendengar semua penjelasan Brian. Saat Brian berhenti
bercerita, barulah Maggie melihat suaminya itu menangis. Maggie baru mengerti
mengapa Brian dikenal sebagai anjing gila selama ini. dan juga tahu bahwa
anjing gila itu adalah suaminya, yang menyimpan ini sendirian selama
bertahun-tahun dan menceritakan hal ini hanya padanya.
“Katamu ini
hari peringatannya, kan? Kenapa kamu tidak segera meletakkan bunganya?” Maggie
mengambil rangkaian bunga dari tangan Brian dan meletakkannya di depan guci abu
orang tua Brian
“Selamat
malam Ayah, Ibu. Maafkan saya karena saya baru bisa hadir hari ini. saya akan
berusaha menjadi istri yang baik untuk putera anda sekalian. Mohon
pengayomannya.” Kata Maggie
Sepulangnya
dari kuil, Maggie mengajak Brian unuk makan malam bersama dulu di sebuah
restoran Jepang sebelum pulang. Maggie berusaha terlihat bahagia dan makan
dengan lahap meski dadanya serasa akan meledak. Sedangkan Brian hanya memainkan
supitnya tanpa membiarkan sedikitpun makanan memasuki mulutnya.
“Tidak makan?
Makanlah, aku tidak membuat apa-apa untuk makan malam. Jadi makanlah yang
banyak. Atau kamu mau kusuapi?”
“Tidak usah.
Makanlah sampai benar-benar kenyang, lalu aku akan mengantarmu pulang. Jangan
terlalu terburu-buru, apa kamu tidak malu dilihat orang dengan cara makanmu
seperti itu?”
“Kenapa aku
harus malu? Restoran ini sebentar lagi tutup dan sekarang kitalah satu-satunya
pelanggan yang tersisa. Lagi pula aku sudah lama tidak makan Sushi.. dulu aku
sering membeli ini bersama Rose di restoran Jepang dekat asrama kami. Oh ya,
apa kamu ada acara lain setelah ini, sampai harus tak pulang?”
“Ya. Aku
harus mengurus suatu surat bersama pengacara.”
Sesampainya di rumah, mereka berdua
langsung istirahat di kamar. Brian duduk di meja kerjanya sementara Maggie
bersiap mandi.
“Apa kamu mau
mandi dulu sebelum pergi? Aku akan menyiapkan air hangat..”
“Maggie..”
“Ya?”
“Tetap
disini. Aku ingin bicara.”
“Kamu ingin
sesuatu?”
“Maafkan aku.
Maafkan aku, Maggie. Selama ini aku memenjarakanmu untuk membalas dendam. Aku
ingin semua orang terluka seperti aku. Hari ini aku banyak berfikir tentang
itu. Kurasa ini tidak adil untuk gadis muda sepertimu.”
“Apa maks...”
“Pergi.
Pergilah, Maggie. Mulai sekarang kamu kembali menjadi Maggie yang bebas.
Jadilah atlet lari seperti yang kau inginkan. Aku tahu kamu akan bisa
melakukannya. Besok surat perceraian akan di kirim ke rumahmu, dan di amplop
yang sama ada kartu identitasmu yang baru, aku mencarikan itu supaya kamu bisa
masuk ke perguruan tinggi dengan status siswi lulusan SMA. Kamu harus berlatih
menggunakan nama barumu, dan lupakan jauh-jauh nama Maggie dan kehidupannya.
Dan, anggap saja kau tidak pernah bertemu denganku.” Jelas Brian yang langsung
menitikkan air matanya begitu mengucapkan kalimat terakhirnya dengan berat
“Kemana aku
harus pergi? Kenapa aku harus pergi? Ya, aku sudah melupakan Maggie. Aku lupa
bahwa Maggie adalah seorang gadis yang bermimpi menjadi atlet lari, memiliki
keluarga dan kehidupan yang seperti apapun itu. Yang aku ingat adalah Maggie
yang beruntung. Maggie yang bertemu lelaki luar biasa yang sudi mengambilnya
menjadi istri. Maggie yang mencintai Brian dengan sepenuh hati. Maggie yang...”
Maggie tak mampu melanjutkan kata-katanya. Brian langsung menariknya ke dalam
dekapan sambil turut menangis
“Kenapa kamu
ingin membuangku? Seburuk apakan aku sehingga bisa begitu?” Maggie
melanjutkannya sambil terisak.
Satu tahun kemudian..
Setelah menerima telepon dari Peter, Brian
meluncurkan mobilnya ke tempat yang disepakati.
“Kamu
cepat sekali merespon.” Sapa Peter
“Langsung
ke intinya saja.”
“Kamu
tahu, kasusmu sudah terkuak. Tak lama lagi kamu akan jadi buronan. Aku tak mau
Maggie hidup sengsara bersamamu. Kurasa kamu juga akan berpendapat sama
denganku. Jadi serahkan dia kepadaku.”
“Baiklah,
tanyakan langsung padanya. Biar Maggie yang menentukan hidupnya sendiri. Dia
mencintaiku dan aku mencintainya. Tak ada alasan bagi kami untuk berpisah.”
Brian
pulang dengan suasana hati yang carut marut. Dia disambut istrinya yang
terlihat sangat senang.
“Ada
apa denganmu? Kenapa begitu murung?”
“Aku
hanya kelelahan.” Brian menjawab dengan malas dan berniat langsung kekamar.
Maggie menguntit di belakangnya
“Ada
apa? Kamu belum menyiapkan air hangat? Tak apa-apa, tak perlu setakut itu.
Tidurlah duluan. Aku sudah makan diluar.”
Maggie
membalikkan tubuh suaminya itu dan memeluknya dengan kepalanya tetap menengadah
ke wajah si suami.
“Ada
yang ingin kamu katakan?”
“Cium
aku.”
“Kenapa
kamu jadi begitu manja?”
“Kalau
begitu biar aku memberi tahumu ini, setelah itu cium aku sebagai hadiah atas
keberhasilanku.”
“Kamu
ini terlalu berbelit-belit. Ya, katakan yang kamu sebut sebagai keberhasilan
itu..”
“Aku
hamil.”
“Apa?”
“Aku
hamil. Di dalam perutku ada anak kita. Dan dia sudah berusia dua bulan. Aku
benar-benar bodoh, baru menyadarinya. Dokter bahkan juga mengataiku bodoh.”
“Ya
Tuhan..” Brian langsung mendapatkan kembali semangatnya dan memeluk erat
istrinya. Tak lupa memberikan hadiah istimewanya.
Sejak mengetahui berita kehamilan
Maggie, Rose, suami dan kakaknya sering berkunjung ke rumah. Sejauh ini Brian
tidak menunjukkan ketidaksetujuannya, justru terlihat lebih akrab dengan Peter,
karena mereka sering mengobrol belakangan ini. suatu pagi, Peter dantang
sendiri tidak bersama Rose seperti biasanya dan langsung mengobrol dengan
Brian. Maggie pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk mereka. Dia tetap
membuat minuman sendiri meski pembantunya terus memohon padanya untuk
menghentikan aktivitas seperti ini.
“Kapan
kamu akan memberitahunya? Kamu sudah jadi buron. Kamu ini berani sekali.”
“Dia
sedang mengandung anak pertama kami. Usia kandungannya kini menginjak bulan ke
delapan. Aku sudah konsultasi dengan dokter keluargaku. Dia bilang akan buruk
bagi anak kami jika Maggie sampai shock. Beri aku beberapa hari lagi. Aku ingin
menghabiskan waktu bersamanya dulu. Aku akan segera menghubungimu. Pada saat
itu, kamu bisa menjemputnya.”
Di
tengah perbincangan serius antara dua orang itu, Maggie datang membawa 2
cangkir cokelat panas. Maggie menjatuhkannya karena terkejut mendengar perkataan
Brian.
“Tidak.
Aku tak akan pergi.”
“Maggie...”
Brian terlihat sangat terkejut
“Sayang,
suruh dia pergi. Aku tak mau pergi kemana-mana.”
“Peter,
kamu pulanglah dulu.” Kata Brian dan Peter pun segera meninggalkan rumah itu.
Brian
menoleh, melihat Maggie dengan perut besarnya terlihat kesulitan duduk. Brian
membantunya. Maggie memeluknya erat sambil menangis.
“Jangan
usir aku..kumohon..jangan buang aku...bawa aku kemanapun kamu akan pergi...”
“Tidak,
sayang. Kamu harus selamatkan anak kita. Kamu bilang menurutmu dia laki-laki,
kan? Dia akan menjadi anak yang berani dan pintar, yang dapat menjagamu dengan
baik. Selama kamu menunggunya, Peter akan menjaga kalian.”
Pagi ini seperti biasa, Maggie meminum susu untuk
janinnya. Brian terlihat sedang menunggu sesuatu sambil berdiri di dinding kaca
rumah mereka, terus melihat keluar.
“Apa
ada sesuatu yang kamu pikirkan? Jangan bilang...” Tanya Maggie
Brian
hanya menjawab pertanyaan istrinya dengan kecupan dahi dan memeluknya.
“Sayang,
ini adalah hari terakhirku bersama kalian.. Siang nanti Peter akan datang untuk
menjemputmu dan menangkapku. Tapi tak apa, jangan sedih.”
Brian
tak mendengar jawaban. Dia mendongakkan wajah Maggie dan melihat mata indah
istrinya penuh dengan air.
“Hei,
jangan menangis, Nyonya.. Anak kita akan merasa tak nyaman..”
Peter dan rombongannya sudah tiba di rumah.
Maggie segera berlindung di belakang punggung Brian. Beberapa dari orang-orang
itu membujuk Maggie agar mau pergi bersamanya. Maggie bersikeras tak mau ikut
dan terus mempererat penangannya pada tangan Brian. Tapi Brian justru
melepaskannya perlahan dan memeluk Maggie tanpa perpisahannya.
“Jaga
dirimu, sayang.. Kamu harus menjadi Ibu yang tangguh untuk anak kita. Jika dia
laki-laki, aku mau kau memanggilnya Matthew. Dan jika perempuan, aku akan
memanggilnya Marry.”
“Dimana..
dimana kamu akan ditahan?”
“Aku
tak tahu. Aku mencintaimu.. Maggie..aku mencintaimu..” Kata Brian kemudian
mencium kening istrinya
“Apa..
kita akan bertemu lagi..?”
“Ya...kita
akan bertemu lagi...kita akan bertemu lagi... Sekarang pergilah, aku akan
baik-baik saja.. jaga dirimu dan anak kita..aku mencintaimu, sayang.” Kali ini
air mata mengalir deras di kedua pipi kurus Brian
Peter
mulai meraih tangan Maggie untuk menjauh dari Brian dan beberapa orang yang
lain.
20 tahun kemudian...
Hari ini Brian mengakhiri masa
kurungannya. Dia terlihat berjalan menyusuri trotoar yang ramai dengan
pandangan kosong. Sekarang semuanya dimulai dari nol. Karena kelelahan
berjalan, Brian duduk di depan sebuah pusat perbelanjaan. Disana banyak orang
yang sedang mengantri. Entah untuk apa. Tiba-tiba seorang satpam mendekatinya.
“Pak,
anda ingin mendaftar menjadi pekerja Pack dan Antar partai besar juga?
Segeralah masuk antrian, mereka hanya akan menerima 20 orang sementara
pengantri semakin bertambah. Mereka juga melakukan beberapa tes. Jadi masih ada
harapan untuk anda, tapi ada baiknya anda segera masuk ke antrian.”
Tanpa
pikir panjang Brian langsung masuk ke antrian panjang itu.
Beberapa hari kemudian Brian mulai
bekerja setelah menginap di jalan dan sempat mandi di toilet umum. Sebelum
mulai kerja, mandornya menyuruhnya mandi di salah satu kamarmandi pekerja dan
memberinya beberapa seragam. Suatu keuntungan yang besar bagi Brian, karena
mulai malam ini dia harus tidur disini menemani penjaga gudang. Setelah rapi,
Brian melakukan pekerjaan pertamanya, mengepak banyak sekali alat olahraga. Brian
menengadahkan kepalanya ketika teman-temannya berkata si pelanggan sedang
berjalan kemari, menunjukkan alamat tujuan barang-barang ini. Ternyata sebuah
keluarga.
“Paman,
tolong antarkan semua ke alamat ini, Ayah kami sudah membayarnya di kasir.”
Kata seorang pemuda tinggi usia sekitar 20 tahunan sambil menyerahkan secarik
kertas kepada mandor kemudian pergi.
“Hei,,
Chandler!! Kau antar ini!!! Panggil pegawai transport dan katakan bahwa aku
yang menyuruhmu.” Teriak mandor dari kejauhan
“Baik
Bos! Kami baru saja selesai mengemasnya.”
Brian
kemudian menuju Alamat yang dimaksud. Setelah sampai, dengan perlahan Brian
mengetuk pintu rumah mewah itu, dan nampaklah seorang gadis cantik dan tinggi
semampai membukakan pintu.
“Kami
dari ZA Mall. Pesan antar.”
“Baiklah,
kupanggilkan Ayahku. Tunggu sebentar.”
Tak
lama kemudian muncul pria paruh baya yang sempat membuat Brian tertegun begitu
melihatnya. Peter.
“Apa
kalian dari ZA Mall? Silahkan masuk, aku tunjukkan dimana kalian harus
meletakkan barang-barang itu.”
Brian
masih tertegun karena begitu terkejut. Tapi nampaknya Peter tidak mengenalinya.
“Apa
ada yang ingin anda katakan? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanya Peter
“Ah,
tidak. Maafkan saya.”
Brian memasuki rumah itu dan melihat
pemuda yang tadi menyerahkan alamat sedang duduk di salah satu sofa dengan
banyak buku pelajaran tentang hukum berserakan di ruangan itu sambil membaca
buku. Seorang lainnya adalah gadis yang tadi membuka pintu, sedang mengotak-atik
laptopnya sambil duduk di bawah pemuda tadi.
“Matthew,
bukankah ini terlalu dramatis? Tidakkan ini terlalu dibuat-buat?” Tanya si
gadis. Brian menelan ludah mendengar sebutan yang diberikan gadis itu kepada si
pemuda.
“Dalam
persidangan, kemanangan bukanlah hal yang selayaknya dimiliki pihak yang benar,
tetapi pihak yang tepat dan sesuai dengan hukum. Tak ada yang tahu apa hukum
itu adil atau tidak, yang pasti kita hanya perlu membuat petisi. Percaya aja,
dengan presentasi kasus ini, kita akan melewati tes semester ini dengan sangat mudah. Marry yang baik hati, jangan gunakan
perasaanmu saat bersidang. Ok??”
“Lihat,
kamu mengatakannya seolah-olah kamu makan kabel setiap hari dan akhirnya menjadi
robot pintar yang akan menjadi jaksa..”
Tak
lama kemudian, muncul wanita lain yang nampaknya Ibu mereka, dengan membawa
minuman untuk mereka. Brian merasa dadanya akan meledak. Itu Maggie. Namun dia
masih meneruskan menata alat-alat itu di bagian belakang ruangan keluarga ini.
“Sudah.
Istirahatlah dari belajar kalian dan makan. Ini sudah jam berapa?” Kata si Ibu
sambil meletakkan empat minuman dan beberapa kaleng kue kering.
“Ibu
ini, kenapa Ibu yang selalu membawakan kami minuman? Untuk apa pembantu dibayar
setiap bulan jika Ibu terus melakukan pekerjaan ini?” Tanya si pemuda dengan
nada marah
“Bibi
punya banyak pekerjaan lain, lagi pula apa salahnya menyiapkan minuman untuk
anak sendiri?”
“Wahwah...Ibu,
aku heran dengan Matthew ini.. kenapa ada manusia sejenis ini? Sialnya, kenapa
dia harus lahir bersama denganku?”
“Kalian
ini, selalu meributkan tentang kelahiran. Jika kalian tidak mau lahir bersama,
ada yang ingin Ayah kembalikan ke perut Ibu?” Tanya Peter yang membuat mereka
semua tertawa
“Tuan,
kami sudah selesai menata semuanya. Kami mohon diri.” Brian pamit sambil
menundukkan kepalanya menahan rasa campur aduk di dadanya.
“Tunggu..”
Panggil Marry, puteri di rumah ini.
“Ada
apa, Nona?”
“Paman
pasti lelah. Tunggu sebentar, aku akan memberikan Paman-paman semua sesuatu
yang manis..”
“Terimakasih,
Nona. Tapi kami harus segera kembali.”
“Tidak.
Diam disana.”
Kemudian
Marry datang dengan membawa kantong plastik besar.
“Disini
ada beberapa botol jus dan ada juga kue buatanku. Panam-paman semua bisa
memakan ini di perjalanan atau di rumah nanti.”
“Terimakasih
banyak, Nona.”
“Sama-sama,
Paman. Kalian kira-kira seusia dengan Ayah. Saat Ayah ulang tahun aku
memberikan kue dan jus seperti ini padanya dan ia suka sekali. Jadi kurasa
kalian juga akan menyukainya.”
Kemudian
Brian dan teman-temannya kembali ke ZA Mall.
TheEnd
Tidak ada komentar:
Posting Komentar