Sepertinya
memang tidak ada hal yang lebih menyebalkan dari bangun pagi. Saat ponsel
menyuarakan nada paling mengganggu sedunia. Hewan piaraan membuat keributan di
mana-mana. Teriakan Mama mengingatkan sekian kegiatan. Aku yakin, untuk
beberapa orang lain bangun pagi sama artinya dengan punya urusan tentang brutalnya
para pengantri kamar mandi, air dingin, atau sarapan sepanas hati pasca
diselingkuhi. Tapi bisa apa, hari tetap berganti tak peduli seenggan apa orang
menjalaninya.
Dalam
kasusku, mendengar suara alarm diterjemahkan otak sebagai tanda sesuatu harus
dibuka. Lalu semacam film diputar dengan sangat cepat di sana. Ingatan-ingatan
mengganggu. Seperti cipratan air liur Mr. Santoso saat berkhotbah soal skripsi,
kadang juga wajah legam ketua organisasi mahasiswa yang kuyup keringat saat
orasi. Atau riuhnya sorakan selusin orang di kantin saat aku datang.
Percayalah, itu bukan sambutan. Alih-alih menyambut, mereka merayakan. Setidaknya
ada satu lagi selain mereka yang sedemikian bodoh dan terlambat lebih dari lima
belas menit di mata kuliah Prof. Radjiman.
Kupikir
akan menyenangkan jika lelap barang sepuluh menit lagi setelah mematikan alarm.
Aku menggeliat sebebasnya sebagai ratu ranjang. Kemudian tanganku mendarat pada
permukaan aneh. Rambut-rambut kecil nyaris tajam. Tanganku bergerak sedikit,
mendapati sesuatu yang basah. Terkejut, aku melompat dari ranjang dengan
tendangan hebat sebagai awalnya.
“Astaga,
Papa!” Kataku meninggikan suara. Tentu tidak dijawab, Papa sedang sibuk
mengumpulkan puing kesadaran. Duduk tanpa nyawa, sembarang menendang selimut.
“Mama
di mana?” Tanyanya tanpa melihat ke arahku.
“Mana
kutahu... Ada apa dengan kamar Papa Mama?”
“Tamu.
Mereka tidak bisa keluar dari hotel dan berjalan ke rumah kita kalau matahari
sudah naik. Tidak boleh.”
Terserah,
aku tidak paham. Kupilih mandi sebagai pengalih kekesalan. Sambil membayangkan
sarapan buatan koki terbaik di muka bumi. Membayangkannya saja sudah
memperbaiki suasana hati. Mudah. Hanya, tak sulit untuk menjadi buruk lagi. Ini
terjadi sepersekian detik setelah aku keluar dari kamar dan turun.
Lantai
satu ramai sekali. Orang-orang bersikap seperti di rumah sendiri. Memerintah
pekerja dengan sangat tidak baik. Lainnya menggerombol di beberapa titik. Entah
keras atau tidak, yang jelas gabungan suara di situ sungguh memusingkan. Belum
sempat aku memikirkan sesuatu, seorang wanita asing melaluiku.
“Hm..
ini rupanya si anak pungut.”
Perkataannya
menarik perhatian beberapa orang, lantas membuatku jadi pusat perhatian. Aku
masih melongo tak mengerti dengan apa yang sedang kuhadapi.
“Sudah
besar, ya. Umurnya akan membuat orang sulit percaya dia anak Prof. Herman.”
Kata seorang lagi. Wanita muda dan cantik dengan gaun pendeknya. Dia sedang
sarapan bersama beberapa orang. Di meja makan kami.
“Kasihan
ya Dokter Mia. Orang awam akan mengira anak ini buah pekerjaan buruknya atau
suami.” Kata seorang lagi, wanita tua. Sangat jelek dan tampak semakin jelek
karena terlalu kentaranya si niat tak mau tua. Lihat saja, aplikasi pensil
alisnya bukan main.
“Jangan
bercanda. Tidak akan ada orang yang mengira sekonyol itu. Sekali lihat saja,
orang tahu ini bukan anak kandung.” Seorang pria botak di sisi kanan meja
menambahi.
Aku
masih di situ. Di bawah tangga. Otakku bekerja dan memutuskan lebih cepat.
Pertama, berjalan dulu ke luar. Tidak usah mengubah apapun. Rambut diikat
sembarang. Sandang ransel di satu bahu. Bukan masalah.
Hampir
berhasil, langkahku terhambat. Mama mengejar, membuatku menoleh. Fenomena
mengejutkan yang tertangkap mata ini lebih berhasil menguasai perhatianku
dibanding dengan kalimat panjang Mama.
Adalah
meja ruang tengah kami. Penuh dengan kertas-kertas, satu dua judulnya terbaca
dari tempatku berdiri. Papa duduk rapi, membaca sebendel dokumen. Orang-orang
duduk mengelilingi meja dan melakukan hal serupa. Raut wajah mereka sangat
serius.
Mereka
adalah tokoh kenamaan. Belakangan muncul setidaknya sekali di setiap stasiun
televisi setiap hari. Mengumbar omong kosong yang kutentang mati-matian bersama
ratusan ribu orang lain di jalan ibu kota. Siapa kira mereka ada di sini.
Kompak menoleh ke arahku sejak sedetik lalu.
“Ini
yang namanya Danika? Cantiknya. Pak Herman, saya lihat genduk1 di barisan terdepan kemarin. Sangat keren.” Kata
seorang tonggos berkacamata sambil membetulkan posisi pecinya.
Papa
menundukkan kepala sambil tersenyum. Si muka lonjong dan perut besar, salah
satu pimpinan rombongan ini mengamatiku dua detik dan tersenyum ganjil. Sudut
kecil di satu ujung bibir, cukup mengantarkan pesan penghinaan.
“Bagus,
anak muda memang wajib kental ideologinya. Baik kalau artinya murni. Kurang
baik kalau akar ilmunya belum banyak. Kalau sudah, tentu akan sopan pada orang
lebih tua, bukan sebaliknya seperti tempo hari, atau mendelik2 pada ayah angkatnya.”
Begitu
kalimatnya selesai, seseorang lebih muda menyikunya pelan. Pria dengan wibawa,
sang alpha3. Memandangku
dengan tatapan teduh, aku tidak tahu itu bagian dari drama atau sungguhan.
“Mau
berangkat kuliah, cah ayu?” Tanyanya
sambil tersenyum.
“I..iya.
Iya, pak.” Jawabku gagap sambil menundukkan kepala sebentar. Ayolah, Danika. Mari
berperilaku baik demi Papa.
“Sudah
diparingi4 uang saku?
Pergi ke kampus menyetir sendiri atau dengan sopir?”
“Sudah.
Sendiri. Eh, maksud saya menyetir sendiri, pak.”
“Baik,
hati-hati. Rajin belajar, ya.”
Sekali
lagi aku menunduk, lalu berbalik dan lanjut berjalan ke luar. Mama masih
mengikutiku sambil berpesan ini itu.
“Cantik
dan sopan, Pak Herman. Kurang beruntungnya, saya kehabisan joko5. Kalau bapak mau, saya bisa bantu. Bapak ngendika6 saja, ngersakne7 sawung8 seperti apa.”
Kepalaku
masih sibuk, mataku sudah menangkap gambar sulit lagi. Di teras kami ada lima
atau enam pemuda dengan penampilan tidak bercanda. Sepuluh hektar tanah mungkin
belum sebanding harga beli embel-embel dari kepala hingga kaki.
Reaksi
mereka melihatku sebetulnya tidak mengejutkan, mengingat rupaku memang persis
kain keset. Ada yang memandangiku lalu membuang muka. Tak peduli. Bagus karena
tidak memberiku alasan berhenti lagi. Pintu mobil sudah kubuka dan kulempar
tasku ke dalam.
“Buru-buru,
mau kemana? Mencari ayah ibu kandungmu di tengah demonstran?”
“Tidak,
bukan. Selama tinggal di sini, dia mungkin tidak diizinkan makan sembarang. Dia
ke jalan karena rindu kehidupan lama. Makanan dalam gerobak kotor. Hahaha…”
“Sebaiknya
cari jalan sepi. Jalan kota jadi atau tidak seperti kemarin, siapa yang tahu.
Kasihan mobil itu kalau sampai diamuk masa. Sebaiknya tidak lupa, itu hanya
pemberian orang lain. Kamu bukan anak kandung yang akan sah saja meski membuat
rumah ini jadi abu.”
Orang
terakhir membuatku batal masuk ke balik kemudi. Bukan karena kalimatnya,
sungguh. Tak ada yang salah dengan kalimat itu. Suaranya. Aku tahu suara itu.
Benar saja, sedetik setelah menoleh mulutku terbuka tanpa sadar. Terkejut.
Sion, aktivis yang cukup populer. Kampusnya tak jauh dari kampusku. Temanku
sejak SMA. Dia masuk ke rumah kami diikuti muda-muda bodoh tadi. Tunggu, dia
masuk ke sana?
Terserah.
Kupakai mobil ini untuk lari dengan cepat. Sepanjang jalan ke kampus kepalaku
penuh dengan banyak sekali kata, tapi tak satupun keluar. Hampir terlalu jauh
melamun, dering ponsel mengembalikan pikiranku ke kemudi. Si kribo Ilham
teriak, minta ditunggu. Mengajak masuk kelas bersama. Mata kuliah malaikat
maut, Prof. Radjiman.
“Aku
bolos hari ini.” Jawabku singkat dan memutus sambungan saat dia masih
teriak-teriak di tengah suara amat berisik. Pelawak itu pasti sedang ada di
atas vespa mahal ayahnya.
Kuputar
kemudi tanpa melirik kaca spion. Menginjak gas sedalam yang aku bisa. Berhenti
di suatu kampung. Melanjutkan dengan jalan kaki, selesai di ladang gersang.
Duduk beralas salah satu batu batas antar lahan. Diam dalam waktu lama.
Mengorek tanah dengan kerikil atau mengamati sekeliling atau mencabut rumput
dengan asal.
Sekitarku
mulai tak seterik tadi. Kulihat jam di ponsel, pukul tiga sore. Para petani berjalan
pulang. Beberapa yang mengenaliku, menyapa dengan tidak biasa. Memeluk dan banyak
sekali bertanya. Aku hanya menjawab singkat –ya atau tidak atau diam– untuk
semuanya. Beruntungnya, mereka tak menuntut jawab. Nampak juga seorang juragan
melepas ternak di lahan yang masih berumput. Kemudian beberapa anak kecil
mengganggu kerbau makan.
“Ya.
Aku sudah melakukannya dengan baik. Anaknya Bapak akan selalu sehebat itu, ya
kan Pak?” Tanyaku entah pada siapa.
Tiba-tiba
sekitarku menjadi ribut. Orang-orang berteriak tak keruan. Melihat ke arah
mereka menunjuk, seketika jantungku serasa melepaskan pegangannya. Yang benar
saja, anak-anak tadi berlari ke arahku. Dengan kerbau jantan mengejar tak kalah
semangat.
Sialan,
aku juga jadi ikut lari. Hanya arahku payah. Saat anak-anak tadi menyebar, aku
mengikuti satu yang berbadan tambun. Di antara semua arah dengan setidaknya dua
anak lari, banteng itu memilih mengejar kami. Aku dan si tambun. Di belakang
kerbau itu sekelompok petani mengejar sambil membawa tambang, berseru menyuruh
kami terus berlari. Berjanji akan terus berusaha. Napasku sudah sulit, si
tambun apa lagi. Entah sejak kapan kami saling berpegang erat. Persis seperti
hendak kawin lari. Bukan dikejar mertua, tapi kerbau. Sama sekali tidak lucu.
Sepertinya
mereka tidak akan berhasil. Kejar-mengejar hanya akan selesai jika kami
memanjat sesuatu, tapi ladang ini hanya punya pohon ketela sebagai pemegang
juara tinggi. Berlari sampai ke kampung? Jangan bercanda.
Kemudian
kesialanku tergenapi. Aku tersandung. Jatuh sekerasnya menghantam tanah kering.
Lalu gelap.
Saat
aku kembali bertemu cahaya, tempatnya sudah bukan ladang. Kursi belakang sebuah
mobil mewah. Bukan milikku. Sopir berjas. Badanku terlentang. Spontan duduk,
membuatku menyadari keadaan dengan cepat. Kepalaku bocor, darahnya masih
menetes ke celana yang sudah sedemikian lusuh dan sobek di sana sini. Lengan
kanan sangat sakit, aku tidak tahu patah atau bukan. Satu sepatu tergeletak di
atas ransel dengan sembarang. Ranselnya berlubang. Lalu pandanganku kabur,
semua yang kulihat seperti perlahan berjalan ke kiri.
Seseorang
duduk mendekat, meraih, membuatku bersandar padanya. Terus menyebut namaku tapi
tidak kujawab. Tangannya berusaha menyentuh kepalaku, aku melawan. Mencoba
duduk tegak lagi dan mundur sedikit. Berusaha mengenali. Tapi tak sekuat itu. Akhirnya
tangan orang itu menyangga kepalaku lalu mendekatkan wajahnya. Paham maksudku.
“Ini
aku. Jangan bergerak. Sebentar lagi kita sampai di Rumah Sakit.”
Di
tengah rasa sakit sekujur tubuh, mataku masih hebat soal membelalak saat otakku
mengeluarkan keputusan untuk terkejut. Pemandangan ini adalah pemenang utama
dari semua keterkejutan hari ini. Ah,
ilusi bodoh macam apa, batinku. Sulit sekali percaya. Mungkin kepalaku
rusak dan baru saja menerjemahkan gambar dengan keliru.
“Kerbau..”
Racauku.
“Mati.”
“Si
gendut..”
“Mereka
membawanya. Aku tidak tahu kemana.”
“Mobilku..”
“Demi
Tuhan, Danika!” Bentaknya.
Sedetik
kemudian dia memeluk kepalaku dengan satu lengan sementara telapaknya membungkam
luka robek. Tangan yang lain mendekap dan telapaknya menutup bagian paling
sakit di punggung bawahku. Juga terus mengajakku bicara. Saat pandanganku mengabur
bersama dayaku makin hilang, suaranya terdengar semakin buruk. Orang ini
menangis? Aku bahkan masih ragu dia siapa.
“Tolong
jangan tidur meskipun sangat mengantuk. Kumohon, Danika.”
Aku
masih dengar, tapi semua keburukan ini membasmi habis tenagaku.
“Danika..”
“Dan…
Oh Tuhan!”
Telapak
yang di kepala didekatkannya ke hidungku, sedetik suara isakannya terdengar
semakin sering. Situasiku sungguh tak baik, membuka mata terasa sedemikian
berat. Hampir lupa usahaku memastikan siapa orang ini.
“Jangan
maafkan aku saat kamu sudah sembuh nanti, ingat itu.”
Begitu
kalimat itu selesai, entah kenapa malah aku tersedak. Dengan seribu kali lipat
kesakitan. Aku tidak tahu basah-basah apa yang keluar dari mulutku, tapi
mendengar reaksinya, pasti darah. Dia meraung-raung aneh sekali. Menangis
seperti bayi sambil mendekap erat dan menutupi luka parah si sekarat dengan
telapaknya yang lebar.
“Tidak…
Tuhan, tolong. Jangan… Danika, aku tahu kamu dengar. Jangan sampai tidur. Kamu
tidak boleh tidur, Danika.”
“Dan?
Dan? Oh, Tuhan.. Dan?”
“Kenapa
jalannya lambat sekali, bangsat??” Bentaknya pada sopir. Aku tidak begitu dengar
lagi jawaban si sopir.
Baiklah,
aku akan mati. Tapi bodoh sekali kalau mati sebelum yakin. Ayo, Dan. Mari kita buka mulut untuk terakhir kali, kata otakku
dengan tegas. Ini jelas bukan anjuran. Pertama, hanya erangan parau tanpa arti.
Percobaan kedua, justru tak ada suara. Ketiga adalah keberuntungan, berhasil.
Jangan tanya jadi seperti apa kedengarannya tangisan orang itu.
“Ss..sion?”
Yes! Seluruh selku bersorak, berhasil
melaksanakan tugas terberat.
“Hmm?”
Jawabnya tepat di samping telingaku.
Tidak
ada suara yang bisa keluar lagi, karena pekerjaan ekstra sedang dilakukan
dengan paksa oleh dadaku. Jantungku merespon bisikan itu dengan amat berlebihan.
Aku tidak mengerti bagaimana, tapi ini menambah kesakitanku.
Ada
hal penting di titik ini. Kepercayaanku bahwa rencana Tuhan selalu mengantar
kepada kebahagiaan. Dalam kasusku, aku akhirnya paham bahwa tanpa hal-hal
sialan tadi aku mungkin tidak berakhir dengan merasa sedemikian dicintai.
Ini
awal atau akhir atau keduanya? Tidak ada rumus pasti untuk itu.
Satu
hal penting dan pasti, bahagia kini bukan sekadar suasana di film atau narasi
penjilat-penjilat bodoh. Ternyata rasanya begini. Seperti tidak akan ada lagi
hal lebih menyukakan. Ya, tidak ada kebahagian yang lebih besar dari milik
mereka yang dicintai. Dalam kasusku, rasanya seperti oasis. Wahah di ladang
gersang. Gersang yang berteman dengan kerbau jantan.
Selesai.
Keterangan
1. Genduk : (Jawa) sebutan untuk anak
perempuan
2. Mendelik
: (Jawa) melotot, dimaknai
sebagai perilaku tidak sopan
3. Alpha : huruf pertama dalam alfabet Yunani, sering digunakan dalam
menganalogikan
kepemimpinan atau dominasi individu di atas kelompok
4. Diparingi : (Jawa) diberi, dianugerahi
5. Joko : (Jawa) perjaka
6. Ngendika : (Jawa) bicara
7. Ngersakne : (Jawa) menghendaki
8. Sawung : (Jawa) jago, calon, sering
dimaknai sebagai laki-aki atau pejantan
8 komentar:
Mantappp 👍👍👍
Bagus 👍👍👍
👍👍
Kerennn... 👏👍
ggoooodddd
Tulisan yang mudah dimengerti dari istilah, bahasa, dan ada noted terjemahan untuk bahasa daerah yang dimasukkan di beberapa kalimat. Alur cerita juga dari awal menarik untuk terus melanjutkan membaca sampai selesai.
Setiap point dari cerita juga tersampaikan.
terus menulis ....
Bagusss 👍
Bagus ceritanya, terus berkarya ya ❤
Posting Komentar